SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dinamika penetapan awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia.
Beredarnya beragam jadwal imsakiyah di tengah masyarakat, yang tidak semuanya mencantumkan sumber dan metode perhitungan yang jelas, mendorong perlunya pemahaman bersama yang berbasis ilmu falak dan pedoman resmi.
Isu tersebut mengemuka dalam Lokakarya Imsakiyah Ramadan 1447 H/2026 M yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang di Ruang Observatorium dan Planetarium Kampus III UIN Walisongo Semarang, Selasa (27/1/2026).
Lokakarya ini menghadirkan sejumlah pakar falak nasional dan daerah, di antaranya Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI). Selain itu, turut hadir sebagai narasumber Drs. KH. Slamet Hambali, M.S.I., Ahli Falak sekaligus Pengurus Lajnah Falakiyah PBNU; Dr. Ahmad Syifaul Anam, M.H., Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang; serta Dr. H. M. Basthoni, M.H., Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Tengah.
Diskusi dimoderatori oleh Muhammad Afan Nur Atqiya, M.H., Staf Ahli Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo.

Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Izzuddin menegaskan bahwa jadwal imsakiyah bukan sekadar selebaran penanda waktu, melainkan panduan ibadah yang berimplikasi langsung pada sah atau tidaknya pelaksanaan puasa Ramadan.
“Jadwal imsakiyah harus disusun berdasarkan kaidah ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika sumbernya tidak jelas, dikhawatirkan waktu memulai atau mengakhiri puasa menjadi tidak tepat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, lokakarya ini berfungsi sebagai sarana evaluasi dan kalibrasi terhadap jadwal shalat dan imsakiyah yang telah beredar di masyarakat.
Menurutnya, perbedaan waktu azan yang kerap terjadi tidak selalu disebabkan oleh perbedaan metode hisab, melainkan juga karena jam penunjuk waktu yang belum terkalibrasi dengan baik.
Oleh karena itu, standarisasi jadwal imsakiyah menjadi kebutuhan mendesak agar umat Islam memperoleh pedoman waktu ibadah yang seragam dan akurat berbasis ruang dan waktu.
Terkait penetapan awal Ramadan 1447 H, dipaparkan bahwa ijtimak terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026, sekitar pukul 19.02 WIB. Berdasarkan perhitungan hisab dan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), posisi hilal pada saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat.
Dengan demikian, awal Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026.
Sementara itu, menjelang penetapan 1 Syawal 1447 H, ijtimak diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pagi. Posisi hilal pada hari tersebut juga belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS, sehingga bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Berdasarkan perhitungan tersebut, 1 Syawal 1447 H diprediksi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.
Prof. Ahmad Izzuddin menegaskan, seluruh data hisab dan rukyat tersebut akan menjadi bahan musyawarah dalam Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI.
Sidang Isbat melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi kemasyarakatan Islam, pakar falak dan astronomi, hingga lembaga terkait seperti BMKG, BRIN, serta perguruan tinggi, guna menjaga kemaslahatan umat dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Mengantisipasi potensi perbedaan penetapan awal bulan, Kementerian Agama juga menyiapkan langkah mitigasi melalui penerbitan Surat Edaran Menteri Agama yang mengimbau umat Islam untuk menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai perbedaan.
Para dai dan tokoh agama diharapkan terus menyampaikan pesan-pesan ketakwaan dan persaudaraan agar Ramadan menjadi momentum memperkuat keimanan sekaligus persatuan umat.
Dengan pemahaman yang utuh dan berlandaskan ilmu falak, lokakarya ini diharapkan dapat menjadi rujukan bersama dalam menyusun jadwal imsakiyah yang kredibel, serta membantu umat Islam menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan penuh ketenangan, keyakinan, dan semangat kebersamaan. Sunarto
0



