By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Mahasiswa Ilkom USM Gelar Edukasi tentang Pelecehan Tak Kenal Gender di SMP Islam Sultan Agung 4
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Pendidikan

Mahasiswa Ilkom USM Gelar Edukasi tentang Pelecehan Tak Kenal Gender di SMP Islam Sultan Agung 4

Last updated: 23 Mei 2026 05:47 05:47
Jatengdaily.com
Published: 22 Mei 2026 05:39
Share
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM), menyelenggarakan Edukatif tentang Pelecehan Tak Kenal Gender di SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang pada 21 Mei 2026. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM), menyelenggarakan Edukatif tentang Pelecehan Tak Kenal Gender di SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang pada 21 Mei 2026.

Kegiatan mengangkat tema “Kesadaran dan Edukasi Pelecehan Seksual Tanpa Bias Gender” dengan tagline “Siapa pun bisa jadi korban, siapa pun bisa jadi pelaku.”

Kampanye tersebut diikuti siswa-siswi kelas 8A SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang. Tujuannya untuk edukasi mengenai pentingnya memahami pelecehan seksual tanpa memandang gender, menjaga batasan dalam pergaulan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai.

Kegiatan dihadiri Kepala Sekolah SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang, Ah. Solikul Hadi, M.Pd.I, dosen pengampu Mata Kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas, Dr. Yulianto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si., serta para pemateri.

Dalam sambutannya, Solikul Hadi menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa Ilmu Komunikasi USM yang telah melaksanakan kampanye edukatif di lingkungan sekolah.

”Kami berharap, melalui kegiatan itu, siswa dapat lebih memahami bahwa pelecehan dapat terjadi kepada siapa saja, serta penting untuk saling menghormati, menjaga batasan, dan berani melapor apabila mengalami atau melihat tindakan yang tidak baik,” ujarnya.

Ketua Pelaksana kegiatan, Anggie Putri Melani mengatakan, kampanye ini menjadi ruang belajar bersama bagi siswa untuk lebih peka terhadap tindakan yang dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman.

”Peserta juga diajak untuk belajar secara santai, terbuka, dan tidak menghakimi agar lebih berani bersikap benar dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Dosen pengampu Mata Kuliah Komunikasi Jender dan Minoritas, Dr. Yulianto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si mengapresiasi pelaksanaan kampanye yang dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi USM.

Dia menekankan pentingnya edukasi mengenai pelecehan seksual sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah.

”Kami mengajak siswa untuk lebih peduli terhadap keamanan diri dan lingkungan sekitar, serta berani melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada pelecehan,” tuturnya.

Kampanye ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Aditya Alfarizki dan Muhammad Falevi Firgi Saputra, S.H.

Materi pertama membahas pengertian pelecehan serta bentuk-bentuk pelecehan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta diberikan pemahaman tentang pelecehan tidak hanya berupa sentuhan fisik, tetapi juga dapat berupa ucapan, candaan, komentar terhadap tubuh, catcalling, tatapan yang membuat tidak nyaman, pengiriman pesan tidak senonoh, hingga penyebaran foto tanpa izin.

”Materi tersebut menekankan bahwa pelecehan tidak mengenal gender. Laki-laki maupun perempuan sama-sama dapat menjadi korban ataupun pelaku. Oleh karena itu, siswa perlu memahami batasan dalam berinteraksi, menghargai rasa nyaman orang lain, serta tidak menganggap candaan yang menyakiti atau membuat orang lain tidak nyaman sebagai hal yang wajar,” ungkap Yulianto.

Sementara itu, materi kedua membahas pentingnya keberanian untuk melapor dan melindungi diri dari tindakan pelecehan.

Menurut Yulianto, peserta dikenalkan dengan aplikasi LIBAS sebagai salah satu sarana pelaporan awal yang dapat digunakan masyarakat.

Aplikasi tersebut memiliki fitur bantuan darurat, hotline 110, serta layanan pembuatan laporan awal secara cepat, aman, dan praktis.

Kegiatan berlangsung secara aktif dan komunikatif. Para siswa kelas 8A menunjukkan antusiasme melalui sesi tanya jawab dengan menuliskan pertanyaan pada kertas kecil.

”Beberapa pertanyaan yang muncul berkaitan dengan cara menghadapi catcalling, tempat-tempat yang berpotensi terjadi pelecehan, hingga situasi ketika seseorang berada dalam grup WhatsApp yang berisi konten tidak pantas,” katanya.

Selain penyampaian materi dan diskusi, kegiatan juga diisi dengan permainan interaktif untuk membangun kedekatan antara mahasiswa dan peserta.

Suasana kegiatan berlangsung menyenangkan tanpa mengurangi pesan utama kampanye, yaitu pentingnya saling menghargai, menjaga batasan, dan berani bersuara ketika mengalami atau melihat tindakan yang tidak nyaman.

Salah satu peserta, Narayama, siswa kelas 8A, menyampaikan bahwa kegiatan ini penting karena membuat siswa memahami bahwa pelecehan tidak hanya berupa sentuhan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ucapan, candaan, tatapan, maupun media sosial.

Menurutnya, kampanye ini bermanfaat karena membuat siswa lebih sadar untuk menjaga sikap dan tidak diam apabila mengalami atau melihat tindakan pelecehan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Nabila Alika, siswi kelas 8A. Dia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan tentang bentuk-bentuk pelecehan, cara menghindarinya, serta cara melapor melalui aplikasi LIBAS.

Menurutnya, menjaga batasan dalam pertemanan penting dilakukan agar seseorang tidak melakukan tindakan yang mengarah pada pelecehan, seperti menyentuh tanpa izin, berkata tidak sopan, atau bercanda tentang tubuh teman. St

You Might Also Like

Ratusan Siswa di Pekalongan Beradu Pintar di OSN 2024
Tim PkM USM Beri Pelatihan ke Pelaku UMKM di Tlogosari Wetan
Sekjen Mahkamah Konstitusi Beri Kuliah Pakar di Untag
Sambut Hari Raya Iduladha, Dewan Masjid Indonesia Ranting Sampangan Gelar Takbir Keliling
Zonasi PPDB di Jateng; Terdekat 7 Kilometer, Terjauh 15 Kilometer
TAGGED:di SMP Islam Sultan Agung 4 SemarangGelar EdukasiMahasiswa Ilkom USMtentang Pelecehan Tak Kenal Gender
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?