SEMARANG (Jatengdaily.com)-Di tengah perubahan besar dunia industri yang bergerak menuju era kecerdasan buatan dan teknologi berkelanjutan, lahir generasi mahasiswa vokasi yang tidak hanya belajar memahami teknologi, tetapi juga berani menciptakan solusi nyata bagi masa depan.
Salah satu sosok inspiratif tersebut adalah Siti Hibatirrohmah, mahasiswi Program Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip), yang menunjukkan bahwa integrasi antara kecerdasan buatan, riset terapan, dan problem solving industri dapat melahirkan inovasi yang bernilai strategis.
Perjalanan akademik Hibat, sapaan akrab Siti Hibatirrohmah dimulai dari bangku sekolah di SMA Negeri 1 Batang, tempat ia mengasah kemampuan sains dan matematika sekaligus aktif dalam berbagai organisasi.
Pengalaman sebagai bendahara OSIS serta keterlibatan dalam English Club dan kegiatan kepemudaan membentuk karakter kepemimpinan dan disiplin sejak dini. Fondasi tersebut kemudian berkembang ketika ia melanjutkan studi di Universitas Diponegoro, sebuah lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa vokasi untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif bagi dunia industri.
Di kampus, Hibat dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki minat kuat pada bidang process engineering sekaligus aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia terlibat dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi sebagai bagian dari Biro Media dan Informasi, bahkan dipercaya sebagai Head of Redaction Division yang bertanggung jawab mengelola strategi komunikasi digital organisasi.
Peran ini menuntut kemampuan manajemen informasi, kreativitas konten, serta pemahaman tentang bagaimana teknologi digital dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif bagi komunitas akademik.
Namun perjalanan intelektual Hibat tidak berhenti pada aktivitas organisasi. Di laboratorium riset, ia tengah mengembangkan sebuah gagasan inovatif yang menghubungkan teknologi proses kimia, keberlanjutan lingkungan, dan dukungan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan tantangan industri energi terbarukan.
Dalam penelitian tugas akhirnya, Hibat mengembangkan metode pemurnian gliserol, limbah sampingan dari produksi biodiesel, menggunakan teknologi ultrafiltrasi membran. Tujuannya adalah menghasilkan biocoolant ramah lingkungan yang dapat menggantikan bahan pendingin berbasis kimia sintetis yang lebih berbahaya bagi lingkungan.
Penelitian ini dilakukan di bawah bimbingan Mohamad Endy Julianto, seorang dosen yang aktif meneliti di bidang rekayasa proses berbasis sumber daya alam. Melalui pendekatan ilmiah yang terstruktur, Hibat mempelajari bagaimana kontaminan seperti metanol dan asam lemak bebas dapat dipisahkan dari gliserol melalui sistem membran ultrafiltrasi yang efisien.
Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah potensi integrasinya dengan Artificial Intelligence (AI). Dalam sistem industri modern, AI dapat digunakan untuk menganalisis parameter proses secara real-time, mengoptimalkan kinerja membran, serta memprediksi kondisi operasi terbaik untuk menghasilkan gliserol dengan tingkat kemurnian tinggi. Dengan pendekatan ini, proses pemurnian tidak lagi bergantung pada percobaan manual semata, tetapi didukung oleh analisis data yang lebih presisi dan adaptif.
Melalui penelitian ini, Hibat berhasil menargetkan kemurnian gliserol hingga mencapai 93,7 persen, sebuah capaian yang membuka peluang besar bagi pemanfaatan gliserol sebagai bahan dasar biocoolant industri. ”Produk ini berpotensi digunakan dalam berbagai sistem pendingin yang lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan dibandingkan bahan berbasis fosil,” jelasnya.
Inovasi semacam ini menunjukkan bagaimana mahasiswa vokasi dapat memainkan peran penting dalam transformasi industri berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk teknologi baru yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus ekologis.
Di luar laboratorium, Hibat juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri sebagai bagian dari bidang Litbang dan Kesma. Aktivitas ini memperkuat kemampuan kolaborasi, kepemimpinan, serta manajemen proyek yang sangat penting bagi pengembangan riset berbasis industri. she


