SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dunia kedokteran regeneratif kini memasuki babak baru. Menurut Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, Dr. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa, jika selama ini masyarakat mengenal terapi sel punca (stem cell) yang harus dibiakkan dan ditumbuhkan di laboratorium selama berminggu-minggu, kini hadir pendekatan yang lebih alami, cepat, dan efisien.
Menurut Dr. Agus, pendekatan tersebut memanfaatkan sel-sel segar yang diambil langsung dari tubuh pasien sendiri, baik dari sumsum tulang (Bone Marrow) maupun jaringan lemak (Adipose/SVF).
Dalam dunia medis modern, menurut Dr. Agus, cairan segar yang diambil ini bukan sekadar kumpulan sel tunggal. Cairan ini merupakan “koktail biologis lengkap” yang berisi berbagai jenis sel penyembuh beserta ekosistem alaminya (niche).
“Ibarat mengirim sebuah tim penyelamat yang utuh lengkap dengan peralatan dan tenda daruratnya, sel-sel segar ini siap bekerja menyembuhkan bagian tubuh yang rusak sesaat setelah disuntikkan,” kata Dr. Agus.
Meredakan Nyeri dan Mempercepat Kesembuhan: Bagaimana Cara Kerja “Koktail Sel Segar”?
Menurut Dr. Agus, saat sel-sel segar dari sumsum tulang atau jaringan lemak diambil dan disuntikkan ke area tubuh yang sakit—seperti sendi lutut yang aus, tendon yang robek, atau luka yang sulit sembuh—sel-sel ini tidak bekerja sendirian.
Mereka bekerja secara kompak melalui empat mekanisme utama:
Membentuk Pembuluh Darah Baru dengan Cepat (Vaskularisasi)
Suatu jaringan membutuhkan aliran darah agar bisa sembuh. Dalam cairan segar, terdapat kombinasi sel khusus pembentuk pembuluh darah (Endothelial Progenitor Cells/EPCs) dan sel penstabil dinding pembuluh darah (Perisit).
Bersama-sama dengan sel punca, mereka membentuk saluran darah baru hingga empat kali lebih cepat dibanding jika kita hanya menggunakan satu jenis sel hasil kultur lab.
Mengubah Peradangan Menjadi Proses Penyembuhan (Modulasi Imun)
Di lokasi cedera, terdapat sel imun perusak (Makrofag M1) yang memicu rasa nyeri dan pembengkakan. “Koktail sel segar” membawa sel imun penenang (Makrofag M2) dan zat penawar peradangan alami.
Dalam hitungan jam, rasa nyeri diredakan dan lingkungan luka diubah menjadi area yang siap untuk pemulihan.
Memiliki “GPS Alami” yang Masih Utuh (Protective Homing)
Sel yang dikultur di laboratorium sering kali kehilangan “radar” pencari lukanya karena proses pencucian kimiawi. Sebaliknya, sel segar masih memiliki navigasi alami (reseptor CXCR4) yang utuh.
Ketika disuntikkan, sel-sel ini bisa langsung menemukan titik kerusakan jaringan dengan sangat akurat.
Menyemburkan Zat Penyembuh Alami (Pabrik Parakrin)
Secara bersamaan, campuran sel segar ini merilis berbagai protein pertumbuhan yang memicu pembelahan sel baru, memperkuat jaringan ikat, serta menghentikan zat-zat jahat yang merusak tulang rawan.
Mengapa Sel Segar Tanpa Kultur Ini Lebih Menguntungkan?
Menurut Dr. Agus, penggunaan sel segar langsung di ruang operasi (Point-of-Care Treatment) memberikan sejumlah keunggulan nyata bagi pasien:
Tindakan Cepat dalam Satu Hari: Proses pengambilan, penyaringan, dan penyuntikan dapat diselesaikan dalam satu kali sesi tindakan tanpa perlu menunggu berminggu-minggu hasil biakan laboratorium.
Bebas Risiko Bahan Kimia Asing: Karena diambil langsung dari tubuh pasien dan segera disuntikkan kembali (autologus), proses ini tidak membutuhkan media pembiakan buatan dari luar yang berpotensi memicu reaksi alergi atau penolakan tubuh.
Sel Tetap Sehat dan Awet Muda: Sel yang terlalu lama dibiakkan di piring plastik laboratorium bisa mengalami “penuaan dini” (senescence). Sel segar terhindar dari risiko penuaan ini karena tidak melewati proses pembiakan berulang.
Kuis Singkat: Uji Pemahaman Anda!
Ayo uji sejauh mana Anda memahami terobosan medis ini dengan menjawab 3 pertanyaan sederhana di bawah ini:
1. Apa keunggulan utama penggunaan “koktail sel segar” (BMAC/SVF) dibandingkan sel tunggal hasil kultur laboratorium?
A. Harus ditunggu hasilnya selama 1 bulan di laboratorium.
B. Membawa tim sel heterogen beserta ekosistem alaminya yang siap bekerja cepat.
C. Menggunakan bahan kimia buatan dari luar tubuh.
2. Mengapa pembentukan pembuluh darah baru terjadi lebih cepat pada terapi sel segar?
A. Karena didukung kerja sama lengkap antara sel pembentuk pembuluh darah, sel penstabil, dan sel punca.
B. Karena sel segar tidak membutuhkan aliran darah sama sekali.
C. Karena sel segar mengubah jaringan menjadi plastik.
3. Bagaimana sel segar menemukan lokasi jaringan yang rusak dalam tubuh?
A. Menggunakan obat bius.
B. Menggunakan “GPS/radar alami” (reseptor CXCR4) yang masih utuh karena tidak terpapar enzim pembersih kultur.
C. Bergerak secara acak tanpa arah.
(Jawaban Benar: 1-B, 2-A, 3-B)
Panduan Istilah Medis (Glosarium Ringkas)
Agar tidak membingungkan, berikut adalah penjelasan sederhana untuk beberapa istilah teknis yang sering muncul dalam dunia terapi sel:
MSC (Mesenchymal Stem Cell): Sel punca utama yang bertugas membentuk jaringan baru (tulang, sendi, lemak) sekaligus memandu proses pemulihan.
SVF (Stromal Vascular Fraction): Campuran sel-sel penyembuh kaya manfaat yang diekstraksi dari jaringan lemak.
BMAC (Bone Marrow Aspirate Concentrate): Konsentrat sel penyembuh yang disaring dari cairan sumsum tulang.
Niche (Ekosistem Sel): Lingkungan rumah alami tempat sel punca tumbuh dan saling bertukar sinyal biologis.
EPC (Endothelial Progenitor Cell): Sel cikal bakal pembentuk dinding pembuluh darah baru.
Perisit: Sel penstabil yang memeluk pembuluh darah agar tidak mudah bocor.
Makrofag M1 & M2: M1 adalah sel imun pemicu radang/nyeri, sedangkan M2 adalah sel imun penenang yang membersihkan lokasi luka.
SDF-1/CXCR4: Sistem sinyal “GPS” tubuh; SDF-1 adalah panggilan darurat dari area yang luka, sedangkan CXCR4 adalah radar pemicu pada sel punca.
VEGF & FGF-2: Protein penumbuh pembuluh darah dan jaringan baru.
IL-1Ra & IL-10: Zat penawar peradangan alami yang dihasilkan tubuh untuk meredakan nyeri.
Kesimpulan
Menurut Dr. Agus, melalui pemanfaatan keutuhan ekosistem sel (niche) dan sinergi dari “koktail sel segar”, terapi berbasis BMAC dan SVF segar menawarkan solusi kedokteran regeneratif yang aman, presisi, dan adaptif.
“Metode ini bukan sekadar memindahkan sel, melainkan membawa sistem biologis mandiri yang siap memulihkan kualitas hidup pasien secara holistik,” kata Dr. Agus. she



