Oleh: Mohammad Agung Ridlo
TOPIK yang sangat penting dalam kehidupan beragama kita adalah menghormati Otoritas Jalur Langit. Apa yang dimaksud dengan “otoritas jalur langit”? Ini merujuk pada otoritas yang bersumber dari perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, bukan dari kekuasaan duniawi atau jabatan manusia.
Siapa pun baik pejabat, direktur, pemimpin perusahaan, pedagang, wirausaha, industriawan, guru besar, guru biasa, sopir, atau lainnya entah yang biasa memegang posisi terhormat dan dihormati di kampus, seminar, maupun masyarakat, ataupun rakyat jelata sekalipun harus meninggalkan semua gelar dan jabatan itu di luar pintu masjid.
Ketika memasuki masjid saat khatib sedang berkhutbah, kita wajib menjadi makmum yang taat: mendengarkan dengan khusyuk dan menghormati otoritas khatib yang menyampaikan khutbah.
Imam Al-Ghazali rahimahullah pernah berkata dengan bijak, “Meskipun anda guru besar, saat khotib berkhotbah anda harus diam. Karena statusnya makmum. Harus sepakat ini. Apalagi guru kecil.” Kata-kata ini seperti tamparan lembut yang mengingatkan kita bahwa di hadapan otoritas jalur langit, semua manusia setara.
Tak ada profesor, doktor, atau pejabat yang lebih tinggi dari seorang makmum sederhana. Ini menunjukkan bahwa menghormati otoritas khotib adalah kewajiban bagi setiap muslim, tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau pendidikan.
Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah
Mengapa kita harus menghormati otoritas ini? Pertama, karena otoritas khotib bukanlah karena dirinya sendiri, melainkan karena posisinya sebagai wakil Allah SWT di mimbar masjid. Saat khotib naik mimbar dan mengucapkan “Alhamdulillah”, ia sedang menyampaikan firman Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 7: “…Dan apa yang diturunkan Rasul (kepadamu), maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah…” Ini adalah perintah langsung untuk taat kepada apa yang disampaikan melalui utusan Allah.
Dalam sunnah, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim: “Barangsiapa yang mendengar azan, maka hendaklah ia menjawabnya, kemudian apabila shalat telah selesai, maka datanglah (juga) ke shalat, maka baginya seperti sepuluh kali lipat pahalanya.”
Lebih dari itu, saat khutbah Jumat, Nabi SAW menekankan: “Diamlah kalian dan dengarkanlah” (HR. Bukhari-Muslim). Bahkan sahabat seperti Abu Bakar dan Umar ra., yang merupakan khalifah besar, duduk diam mendengarkan khotib tanpa interupsi. Ini adalah teladan sempurna bagi kita.
Menghormati otoritas khotib juga berarti menghormati Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dengan demikian, kita menunjukkan kesyukuran atas nikmat iman dan Islam.
Bayangkan, jika kita sebagai guru besar ikut campur atau berbisik saat khotbah, bukankah itu seperti meremehkan firman Allah yang disampaikan melalui khotib? Padahal, khotib hanyalah perantara, tapi otoritasnya dari langit.
Contoh dari Kehidupan Sehari-hari
Saudara-saudara, mari kita lihat contoh nyata. Seorang rektor universitas terkenal masuk masjid saat khotbah sedang berlangsung. Ia adalah orang yang biasa didengar oleh ribuan mahasiswa, tapi di masjid, ia duduk di barisan belakang, menundukkan kepala, dan mendengarkan tanpa suara. Ini adalah sikap yang benar.
Sebaliknya, pernah ada kasus di mana seorang pejabat tinggi berbicara keras di masjid saat khutbah, mengganggu kekhusyukan jamaah. Akibatnya, pahala shalatnya rusak, dan ia menjadi contoh buruk bagi orang lain.
Di Indonesia kita, tradisi ini sudah menjadi bagian budaya Islam. Di masjid-masjid besar seperti Masjid Istiqlal atau Masjid Agung Jawa Tengah, semua orang dari menteri hingga pedagang duduk diam saat khotbah. Ini mengajarkan kita bahwa jabatan duniawi tak berguna di hadapan Allah.
Bahkan dalam sejarah, Imam Syafi’i rahimahullah, sang ulama besar, pernah duduk mendengarkan khotib yang lebih junior darinya dengan penuh hormat.
Manfaat Menghormati Otoritas Jalur Langit
Apa manfaat dari sikap ini? Pertama, meningkatkan kekhusyukan ibadah. Saat kita diam dan fokus, hati kita lebih terbuka menerima petunjuk Allah. Kedua, melatih kerendahan hati.
Sebagai guru besar atau profesional, kita sering merasa superior. Tapi di masjid, kita belajar bahwa hanya taqwa yang membedakan manusia (QS. Al-Hujurat: 13). Ketiga, menguatkan ukhuwah Islamiyah. Ketika semua setara sebagai makmum, tak ada diskriminasi kaya miskin, pintar bodoh, semua satu barisan.
Keempat, ini menjadi pelajaran bagi generasi muda. Anak-anak kita melihat kita sebagai teladan. Jika ayah yang bergelar profesor diam di masjid, mereka akan meniru. Sebaliknya, jika kita acuh, mereka akan menganggap khutbah tak penting. Kelima, pahala berlipat ganda.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang duduk menunggu shalat dan tidak mengobrol, maka ia seperti orang yang shalat sedang ia duduk” (HR. Bukhari). Bayangkan pahala itu untuk kita.
Di era digital ini, tantangannya lebih besar. Ponsel berdering, notifikasi WhatsApp, atau keinginan selfie semua harus ditinggalkan. Matikan ponsel sebelum masuk masjid. Ini bagian dari menghormati otoritas jalur langit.
Tantangan dan Cara Mengatasinya
Tentu ada tantangan. Sebagai orang berpendidikan tinggi, kita mungkin punya pendapat berbeda dengan khotib. Bagaimana? Diskusikan setelah shalat, bukan saat khutbah. Ingat, khotib wakil langit saat itu. Jika khotib salah, perbaiki dengan akhlak baik, bukan konfrontasi.
Latih diri dengan membaca kitab seperti Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, yang menekankan adab makmum. Bergabunglah dengan pengajian rutin untuk membiasakan diri. Dan yang terpenting, niatkan semata untuk Allah SWT.
Penutup
Mari jadilah makmum yang taat. Mari kita menjadi makmum yang taat dan menghormati otoritas khotib. Mari kita meninggalkan semua gelar dan jabatan kita di luar masjid dan menjadi hamba Allah SWT yang taat. Di masjid, kita bukan profesor atau pejabat, tapi hamba yang siap menerima petunjuk dari langit.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang taat, makmum yang khusyuk, dan umat yang menghormati otoritas-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.
Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik UNISSULA. Juga sebagai Sekretaris I Bidang Penataan Kota, Pemberdayaan Masyarakat Urban, Pengembangan Potensi Daerah, dan Pemanfaatan SDA, ICMI Orwil Jawa Tengah. Jatengdaily.com-St



