By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Mengurai Harapan Baru Penyakit Metabolik dan Degeneratif Lewat Terapi Infus Sel Punca Autologus
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsSorot

Mengurai Harapan Baru Penyakit Metabolik dan Degeneratif Lewat Terapi Infus Sel Punca Autologus

Last updated: 3 Agustus 2026 07:46 07:46
Jatengdaily.com
Published: 3 Agustus 2026 07:42
Share
SHARE

Oleh: Dr. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa

Contents
1. Pelepasan Eksosom dan Vesikel Ekstraseluler2. Transfer Mitokondria3. Modulasi Sistem ImunDiabetes MelitusHiperkolesterolemiaHiperurisemiaPenyakit Degeneratif LainnyaDiabetes MelitusPenyakit Kardiovaskular dan Gangguan MetabolikPenyakit Degeneratif1. Pengambilan Sel Punca (Harvesting)2. Pemrosesan Laboratorium3. Infus Sel PuncaSebelum TindakanSetelah Tindakan

DUNIA kedokteran regeneratif memasuki era baru yang menjanjikan. Penyakit yang selama ini dianggap memerlukan pengobatan seumur hidup, seperti diabetes melitus, hiperkolesterolemia, hiperurisemia (asam urat tinggi), hingga penurunan fungsi organ akibat proses penuaan, kini mulai memiliki pendekatan terapi yang tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga berupaya memperbaiki akar permasalahan biologisnya.

Salah satu pendekatan yang terus berkembang secara global adalah terapi sel punca autologus asal sumsum tulang (Bone Marrow-Derived Stem Cells/BM-MSCs) yang diberikan melalui infus intravena.

Metode autologus berarti sel punca diambil dari tubuh pasien sendiri, tepatnya dari sumsum tulang yang kaya akan sel regeneratif. Karena berasal dari jaringan tubuh sendiri, risiko penolakan oleh sistem imun maupun reaksi alergi akibat donor dapat diminimalkan.

Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa sel punca harus diambil dari sumsum tulang, padahal sel punca juga beredar di dalam darah? Selain itu, bagaimana sel punca yang diinfuskan dapat “menemukan” organ yang mengalami kerusakan?

Mengapa Sumsum Tulang Menjadi Pilihan Utama?

Sel punca memang beredar secara alami di dalam darah tepi (Peripheral Blood Stem Cells/PBSC), tetapi jumlahnya sangat sedikit, yakni kurang dari 0,01–0,1% dari total sel darah putih.

Untuk memperoleh jumlah yang cukup melalui darah tepi diperlukan penyuntikan Granulocyte Colony-Stimulating Factor (G-CSF) selama beberapa hari agar sel punca keluar dari sumsum tulang ke sirkulasi darah, kemudian dipisahkan menggunakan mesin apheresis.

Sebaliknya, sumsum tulang merupakan reservoir utama sel punca. Di dalam lingkungan mikro (stem cell niche), konsentrasi sel punca 10–100 kali lebih tinggi dibandingkan darah tepi. Sel-sel tersebut juga berada dalam kondisi quiescent, yaitu fase istirahat biologis yang menjaga kemurnian, stabilitas genetik, serta kemampuan regeneratif (stemness).

Melalui prosedur aspirasi sumsum tulang, dokter dapat memperoleh sel punca berkualitas tinggi dalam satu kali tindakan tanpa stimulasi hormonal yang berlebihan.

GPS Alami Tubuh: Bagaimana Sel Punca Menemukan Organ yang Rusak?

Setelah diinfuskan ke dalam pembuluh darah, sel punca akan beredar mengikuti aliran sirkulasi ke seluruh tubuh.

Organ yang mengalami peradangan, cedera, atau stres metabolik akan menghasilkan berbagai molekul penanda, salah satunya Stromal Cell-Derived Factor-1 (SDF-1).

Sel punca memiliki reseptor CXCR4 yang mampu mengenali sinyal tersebut. Mekanisme ini dikenal sebagai homing, yaitu kemampuan alami sel punca bermigrasi menuju jaringan yang membutuhkan perbaikan.

Sesampainya di lokasi target, sel punca tidak semata-mata berubah menjadi sel baru, melainkan lebih banyak bekerja sebagai “manajer regenerasi” melalui komunikasi biologis (paracrine signaling).

Mekanisme tersebut meliputi:

1. Pelepasan Eksosom dan Vesikel Ekstraseluler

Sel punca melepaskan eksosom yang membawa mikroRNA (miRNA), protein regulator, serta berbagai faktor pertumbuhan yang membantu mengurangi inflamasi dan merangsang proses perbaikan jaringan.

2. Transfer Mitokondria

Pada beberapa kondisi, sel punca mampu mentransfer mitokondria sehat ke sel yang mengalami gangguan metabolisme melalui struktur mikroskopis yang disebut tunneling nanotubes, sehingga produksi energi sel dapat meningkat.

3. Modulasi Sistem Imun

Sel punca membantu mengubah aktivitas makrofag dari tipe proinflamasi (M1) menjadi tipe antiinflamasi dan regeneratif (M2), sehingga proses penyembuhan berlangsung lebih optimal.

Potensi Perbaikan Berbagai Penyakit Metabolik dan Degeneratif

Infus Sistemik BM-MSC
        │
        ├── Hati
        │      ↓
        │  Peningkatan ekspresi LDLR
        │  Penurunan aktivitas Xanthine Oxidase
        │      ↓
        │  Perbaikan kadar kolesterol dan asam urat
        │
        ├── Pankreas
        │      ↓
        │  Regenerasi sel β
        │  Peningkatan sensitivitas insulin
        │      ↓
        │  Kontrol gula darah
        │
        └── Jantung dan Sistem Saraf
               ↓
         Neovaskularisasi
         Neuroproteksi
         Perbaikan fungsi organ

Diabetes Melitus

Sel punca membantu mengurangi inflamasi kronis pada jaringan lemak dan otot sehingga sensitivitas insulin meningkat. Selain itu, berbagai faktor pertumbuhan seperti IGF-1 dan HGF mendukung regenerasi sel beta pankreas yang memproduksi insulin.

Hiperkolesterolemia

Terapi ini diduga meningkatkan ekspresi Low Density Lipoprotein Receptor (LDLR) pada hepatosit sehingga pembersihan kolesterol LDL dari sirkulasi menjadi lebih efisien. Selain itu, efek antiinflamasi berpotensi mengurangi proses aterosklerosis.

Hiperurisemia

Sel punca berpotensi menekan aktivitas enzim Xanthine Oxidase, membantu memperbaiki fungsi ekskresi ginjal, serta menghambat aktivasi inflammasom NLRP3 yang berperan dalam serangan nyeri akibat kristal asam urat.

Penyakit Degeneratif Lainnya

Pada berbagai penelitian, terapi sel punca juga dikaji untuk membantu:

  • meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis);
  • memberikan efek neuroproteksi pada pasien pascastroke;
  • mengurangi proses fibrosis pada hati maupun ginjal.

Bukti Ilmiah yang Terus Berkembang

Berbagai penelitian dan uji klinis internasional telah mengevaluasi keamanan serta potensi manfaat terapi sel punca autologus asal sumsum tulang.

Diabetes Melitus

Publikasi di Stem Cells Translational Medicine (Bhansali dkk.) melaporkan bahwa pemberian sel punca autologus sumsum tulang pada sebagian pasien diabetes tipe 2 dikaitkan dengan penurunan kebutuhan insulin dan perbaikan kadar HbA1c melalui peningkatan fungsi sel beta serta sensitivitas insulin.

Penyakit Kardiovaskular dan Gangguan Metabolik

Beberapa publikasi di Journal of the American College of Cardiology (JACC) menunjukkan bahwa terapi menggunakan Bone Marrow Mononuclear Cells (BM-MNCs) berpotensi memperbaiki fungsi endotel, meningkatkan angiogenesis, serta menurunkan penanda inflamasi vaskular pada kondisi tertentu.

Penyakit Degeneratif

Sejumlah uji klinis yang terdaftar di ClinicalTrials.gov sedang mengevaluasi penggunaan BM-MSC autologus pada sirosis hati, penyakit ginjal kronis, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya. Hasil awal menunjukkan potensi manfaat, meskipun masih diperlukan penelitian lanjutan berskala besar untuk memastikan efektivitas jangka panjang.

Tahapan Prosedur Terapi

1. Pengambilan Sel Punca (Harvesting)

Tindakan dilakukan di ruang steril menggunakan anestesi lokal atau sedasi ringan.

Lokasi pengambilan paling sering berasal dari tulang panggul (iliac crest) karena menghasilkan volume sel terbesar. Pada kondisi tertentu, aspirasi juga dapat dilakukan dari tibia proksimal, sternum, humerus, maupun tulang pipih lain yang masih mengandung sumsum tulang aktif.

Prosedur umumnya berlangsung sekitar 30–60 menit.

2. Pemrosesan Laboratorium

Sampel segera diproses di laboratorium untuk memisahkan fraksi sel, menghitung konsentrasi, serta memastikan viabilitas sel sebelum digunakan kembali.

3. Infus Sel Punca

Sel punca kemudian diberikan kembali kepada pasien melalui infus intravena selama sekitar 30–60 menit dengan pemantauan tanda-tanda vital secara berkala.

Persiapan Pasien

Sebelum Tindakan

Pasien dianjurkan untuk:

  • menjalani pemeriksaan darah dan evaluasi fungsi organ;
  • mengonsultasikan seluruh obat yang dikonsumsi, terutama pengencer darah;
  • menghentikan merokok dan konsumsi alkohol minimal 1–2 minggu sebelum tindakan;
  • mengonsumsi makanan tinggi protein dan antioksidan;
  • memenuhi kebutuhan cairan sekitar dua liter per hari;
  • tidur 7–8 jam setiap malam;
  • menghindari olahraga berat selama tiga hari sebelum prosedur.

Setelah Tindakan

Pasien dianjurkan beristirahat selama 24–48 jam dan membatasi aktivitas fisik berat.

Rasa pegal atau nyeri ringan pada lokasi pengambilan sumsum tulang merupakan kondisi yang umum terjadi dan biasanya dapat diatasi dengan obat pereda nyeri sesuai anjuran dokter.

Dukungan keluarga juga berperan penting dalam menjaga kondisi psikologis pasien selama proses pemulihan.

Kesimpulan

Terapi sel punca autologus asal sumsum tulang melalui infus sistemik merupakan salah satu pendekatan yang berkembang dalam bidang kedokteran regeneratif. Dengan memanfaatkan sel dari tubuh pasien sendiri, terapi ini diharapkan mampu mendukung proses perbaikan jaringan melalui berbagai mekanisme biologis, seperti modulasi imun, komunikasi antarsel, dan stimulasi regenerasi.

Meskipun hasil penelitian awal menunjukkan potensi yang menjanjikan pada berbagai penyakit metabolik dan degeneratif, terapi ini masih terus dikembangkan. Oleh karena itu, penggunaannya sebaiknya dilakukan berdasarkan indikasi medis yang tepat, mengikuti standar etik dan regulasi yang berlaku, serta didukung oleh bukti ilmiah yang terus diperbarui. ***

Penulis: Dirut RSI Sultan Agung Semarang

You Might Also Like

Pembuat Minyak Goreng Palsu Ditangkap Polda Jateng, Dioplos dengan Pewarna Pakaian
Pemprov Gorontalo Siapkan Kontainer Pendingin untuk Jenazah Bencana Longsor Tulabolo
ASN dan Penyelenggara Negara Dilarang Terima Gratifikasi Jelang Idulfitri 1446 H
KRL Solo-Jogja Diperpanjang ke Palur, Segera Uji Coba Elektrifikasi
Ziva Meriahkan Ultah Satu Tahun Queen City Mall
TAGGED:Penyakit Metabolik dan DegeneratifTerapi Infus Sel Punca Autologus
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?