KARTASURA (Jatengdaily.com) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai muda, pengasuh pesantren, akademisi, dan intelektual nahdliyin di Solo Raya bersiap menggelar Halaqoh Kiai Muda NU sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi pemikiran tentang arah perjalanan organisasi ke depan.
Forum yang mengusung tema “Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer” itu akan berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026, di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Ngeboran, Sawit, Boyolali.
Penyelenggara menilai, Solo memiliki makna historis yang kuat dalam perjalanan panjang NU. Kota ini menjadi saksi berbagai momentum penting yang turut membentuk identitas dan arah perjuangan organisasi.
Pada Muktamar ke-10 tahun 1935, para ulama dan pendiri NU berkumpul di Solo untuk memperkuat barisan dalam menjaga kemurnian ajaran agama, membela kepentingan umat, serta meneguhkan peran ulama sebagai penuntun moral bangsa.
Dalam perjalanan berikutnya, Solo juga menjadi ruang dialektika ketika NU menghadapi dinamika hubungan antara organisasi keagamaan dan kekuasaan politik. Pergulatan pemikiran yang berkembang pada era 1960-an melahirkan kesadaran pentingnya menjaga independensi organisasi agar tetap berpijak pada khidmat keumatan dan tidak kehilangan marwah sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah.
Menurut para penggagas halaqoh, semangat sejarah tersebut relevan untuk dibaca kembali dalam konteks kekinian. Sejumlah warga nahdliyin di akar rumput dinilai mulai menyuarakan kegelisahan terkait arah organisasi yang dianggap semakin dekat dengan pusaran kekuasaan dan politik praktis.
Di sisi lain, posisi lembaga Syuriyah sebagai pemegang otoritas moral tertinggi dalam struktur organisasi dipandang perlu kembali diperkuat. Berbagai pertanyaan kritis muncul di kalangan warga NU mengenai proses pengambilan keputusan organisasi, independensi jam’iyah, serta peran ulama dalam menjaga orientasi perjuangan NU di tengah tantangan zaman.
“Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan terhadap NU. Organisasi ini diwariskan para pendiri sebagai wadah perjuangan umat, bukan sekadar instrumen kepentingan politik sesaat,” ujar salah satu penggagas kegiatan.
Karena itu, halaqoh ini diharapkan menjadi ruang dialog yang sehat dan konstruktif untuk mengembalikan ruh organisasi, memperkuat tradisi musyawarah, serta meneguhkan kembali posisi ulama sebagai penjaga arah moral jam’iyah.
Sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan akan hadir dalam forum tersebut, mulai dari kiai muda, pengasuh pondok pesantren, akademisi, hingga aktivis dan intelektual nahdliyin.
Diskusi akan menghadirkan sejumlah narasumber yang selama ini dikenal aktif dalam wacana keislaman dan kebangsaan. Di antaranya, Musahadi yang akan membahas relasi ulama, kekuasaan, dan pentingnya menjaga independensi organisasi.
Selain itu, Ahmad Baso dijadwalkan memaparkan peran strategis kiai muda dalam menjaga marwah keulamaan di tengah tantangan politik pragmatis. Adapun jalannya diskusi akan dipandu oleh Mustafid.
Penyelenggara berharap forum ini dapat menjadi kontribusi pemikiran menjelang Muktamar ke-35 NU, sekaligus memastikan suara moral para ulama tetap menjadi rujukan utama dalam perjalanan organisasi.
“Sejarah telah menunjukkan bahwa ketika ulama berani menyampaikan pandangan dan mengambil sikap, NU selalu mampu menemukan jalan terbaiknya. Semangat itulah yang ingin kembali dihidupkan melalui halaqoh ini,” demikian pernyataan panitia.
Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan dapat merumuskan gagasan-gagasan strategis yang memperkuat independensi organisasi, memperteguh kepemimpinan ulama, serta menjaga NU tetap berada di jalur perjuangan yang diwariskan para muassis demi kemaslahatan umat dan bangsa. St

