By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Menuju Muktamar Ke-35 NU: Kritik Tajam dari Semarang Atas Manuver Elit Pusat, Nama Gus Yusuf Chudlori Menguat
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Menuju Muktamar Ke-35 NU: Kritik Tajam dari Semarang Atas Manuver Elit Pusat, Nama Gus Yusuf Chudlori Menguat

Last updated: 22 Agustus 2026 07:44 07:44
Jatengdaily.com
Published: 22 Agustus 2026 07:44
Share
KH Ahmad Badawi Basyir
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kurang dari sepekan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, suhu politik perebutan kursi kepemimpinan jam’iyah kian memanas. Pertarungan kini tidak lagi terjadi di bawah permukaan, melainkan sudah dipertontonkan secara terbuka lewat manuver-manuver elit di tingkat pusat.

Merespons kondisi tersebut, sejumlah kiai sepuh dan kader muda NU Jawa Tengah menggelar pertemuan terbatas di Hotel Gracia, Kota Semarang, Jumat (21/8) malam. Pertemuan ini melahirkan kritik tajam terhadap elit PBNU saat ini, sekaligus memunculkan poros alternatif untuk kepemimpinan NU ke depan.

Pengasuh Pondok Pesantren Bareng, Jekulo, Kudus, KH Ahmad Badawi Basyir yang hadir dalam diskusi tersebut menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, situasi gaduh jelang Muktamar pada 27-31 Agustus 2026 ini justru dipicu oleh pihak yang seharusnya menjadi pengayom.

“Kondisi yang makin memanas ini justru disulut oleh elit pengurus PBNU saat ini yang harusnya bisa memberikan ruang dan suasana teduh,” ungkap Kiai Badawi.

Kritik tajam Kiai Badawi secara spesifik menyoroti pertemuan kiai-kiai sepuh di kantor PBNU pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia menyayangkan bahwa forum yang mengatasnamakan kiai sepuh tersebut undangannya hanya diteken secara personal oleh Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), tanpa melibatkan dan dihadiri oleh pimpinan tertinggi, Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

“Itu jelas politisasi yang makin memperparah dan memperjelas konflik antar elit PBNU,” tandasnya. “Pertemuan kemarin menunjukkan PBNU semakin nyata terbelah dua.”

Bayang-Bayang Manuver Istana dan Absennya Rais Aam

Kegelisahan para kiai di Semarang ini sejalan dengan ulasan dari selebaran NU Pos Edisi 8 (21 Agustus 2026) yang menyoroti relasi kuasa di balik pertemuan Kamis lalu. Dalam laporannya, NU Pos menganalisis bahwa silaturahmi kiai sepuh di PBNU tersebut bukanlah pertemuan biasa, melainkan agenda konsolidasi dan “unjuk kekuatan” Gus Yahya menjelang Muktamar.

Menurut laporan tersebut, arsitek utama di balik pertemuan itu diduga kuat adalah Kiai Ma’ruf Amin. Manuver ini disinyalir sebagai bentuk perlawanan politik terhadap rumor adanya “paket Istana” (Presiden Jokowi) serta pengkondisian formasi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Gus Yahya dinilai lihai memanfaatkan karisma Kiai Ma’ruf untuk mempertahankan kursi kekuasaan.

Di sisi lain, publik Nahdliyin dipertontonkan pada anomali organisasi yang ganjil. Inisiasi yang dikomandoi oleh Kiai Ma’ruf dan Gus Yahya tersebut seolah menafikan dan mengesampingkan keberadaan Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam. Hal ini menguatkan kekhawatiran bahwa Muktamar kali ini akan kembali menjadi arena pertarungan faksi politik berjangka panjang, bahkan disebut-sebut terkait dengan kalkulasi kepentingan Pemilu 2029.

NU Pos juga mengingatkan memori warga NU pada dua Muktamar sebelumnya (Muktamar ke-33 Jombang dan Muktamar ke-34 Lampung), di mana intervensi kekuasaan dan lobi-lobi politik tingkat tinggi kerap menjadi penentu akhir, mengalahkan musyawarah mufakat yang berakar pada nilai kepesantrenan.

Jalan Tengah: Gus Yusuf Chudlori

PBNU yang kian terbelah akibat perebutan relasi kuasa tersebut, KH Badawi Basyir mengingatkan para muktamirin (peserta Muktamar) dari wilayah dan cabang untuk lebih cermat dan jernih dalam menentukan pilihan. Menurutnya, memilih pemimpin NU tidak boleh terjebak pada siapa yang paling kuat bermanuver, melainkan murni didasarkan pada niat mencari rida Allah.

Ketika ditanya mengenai sosok yang paling layak menakhodai PBNU periode 2026-2031 di tengah krisis faksi ini, Kiai Badawi mantap menyebutkan satu nama alternatif dari Jawa Tengah.

“Pastinya, semua calon baik menurut tim masing-masing. Namun, yang menurut saya insya Allah diridai oleh Allah, diridai para muassis (pendiri), para ulama, kiai, dan kebanyakan nahdliyin pada umumnya, serta sedikit daya tolaknya di tengah-tengah warga NU adalah Yusuf yang ada Chudlorinya,” pungkas beliau, merujuk pada sosok KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Dengan memanasnya tarik-ulur antara kubu yang berafiliasi pada kekuasaan elit Jakarta, munculnya dukungan untuk Gus Yusuf dari akar rumput Jawa Tengah ini bisa menjadi oase yang menawarkan jalan tengah (rekonsiliasi) demi menjaga keutuhan jam’iyah di Jombang nanti. St

You Might Also Like

Semen Gresik Beri Awards bagi Desa dengan Ketahanan Pangan Terbaik 2021
Personil Evakuasi Bangkai Pesawat T-50i Golden Eagle Yang Jatuh di Blora
Ajak Bukber, Sahabat Lestari Peduli Anak Yatim dan Lansia
Cegah Corona, BEM FT Unissula Bagikan Hand Sanitizer ke Warga
Satpol PP Tertibkan Ratusan Pedagang Jalan Peterongan
TAGGED:Atas Manuver Elit PusatKritik Tajam dari SemarangMenuju Muktamar Ke-35 NUNama Gus Yusuf Chudlori Menguat
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?