Oleh: Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua
Manusia dan nyeri adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Sejak peradaban purba pertama kali menjejakkan kaki di bumi, rasa sakit fisik—baik akibat cedera saat berburu, kelelahan otot, maupun proses degenerasi akibat usia—telah mendorong manusia untuk mencari jalan pemulihan.
Nyeri bukan sekadar gangguan biologis, melainkan alarm tubuh sekaligus bagian dari pengalaman kemanusiaan. Dari sentuhan tangan kosong di bawah naungan gua hingga laboratorium biomolekuler modern berteknologi tinggi, sejarah panjang pengobatan merupakan cerminan akal budi manusia yang tidak pernah menyerah dalam mencari kesembuhan.
Dalam pandangan Islam, ikhtiar mencari kesembuhan dari rasa sakit bukan sekadar usaha mekanis ragawi, melainkan bentuk ibadah dan manifestasi dari amanah untuk menjaga titipan Allah SWT (hifzhun nafs).
Rasulullah SAW bersabda:
“Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu pikun.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini menjadi salah satu landasan teologis yang mendorong umat Islam untuk terus meneliti, merintis, dan mengembangkan ilmu kedokteran serta teknologi terapi.
Linimasa Peradaban: Ikhtiar Manusia dari Masa ke Masa
Perjalanan panjang ikhtiar manusia dalam mengelola nyeri dan mencapai pemulihan dapat dilihat melalui beberapa fase sejarah:
1. Era Prasejarah dan Tradisional: Sentuhan Alami dan Instrumen Manual
Nenek moyang manusia mengandalkan insting dan pengalaman untuk bertahan hidup. Pijatan tangan sederhana, penggunaan batu pipih, hingga metode kerokan dan bekam purba lahir dari pemahaman empiris bahwa stimulasi fisik dapat membantu meredakan kekakuan dan nyeri.
2. Era Keemasan Islam dan Klasik: Sintesis Sains dan Tradisi
Tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina (Avicenna), melalui mahakaryanya Al-Qanun fi at-Tibb, meletakkan fondasi penting dalam perkembangan kedokteran berbasis observasi klinis. Pada masa itu dikenal pula metode fashdu (phlebotomy) dan berbagai terapi manual yang dikaitkan dengan konsep keseimbangan cairan tubuh (humorism) dan sirkulasi.
3. Revolusi Industri 1.0 hingga 2.0: Mekanisasi dan Elektrifikasi
Memasuki era modern awal, penemuan mesin uap dan pemanfaatan tenaga listrik melahirkan berbagai perangkat terapi mekanis serta teknologi seperti diatermi gelombang pendek yang digunakan untuk membantu proses pemulihan jaringan.
4. Revolusi Industri 3.0 hingga 4.0: Era Digital dan Biomedis Mutakhir
Saat ini, perkembangan teknologi telah membawa manusia memasuki era kecerdasan buatan, pencitraan biomolekuler berpresisi tinggi, Extracorporeal Shockwave Therapy (ESWT), hingga berbagai pendekatan terapi regeneratif, termasuk stem cell dan secretome.
Lompatan-lompatan tersebut menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan terus berkembang dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia.
Bedah Biomolekuler: Mengapa Terapi Fisik Dapat Membantu Pemulihan?
Baik melalui pijat manual, bekam, akupunktur, kerokan, maupun sejumlah alat fisioterapi modern, berbagai modalitas terapi fisik bekerja melalui mekanisme biologis yang kompleks.
Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk melakukan proses penyembuhan dan pemulihan secara alami. Ketika tekanan mekanis atau gelombang terapi diberikan pada jaringan tubuh, dapat terjadi rangkaian respons biologis, antara lain:
Pada pembuluh darah:
Stimulasi mekanis dapat memengaruhi pelepasan berbagai mediator, termasuk nitric oxide (NO), yang berperan dalam vasodilatasi. Peningkatan aliran darah lokal atau hiperemia dapat membantu membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan serta mendukung proses metabolisme dan pemulihan.
Pada sistem limfatik:
Gerakan ritmis pada jaringan dapat membantu pergerakan cairan interstisial dan mendukung sirkulasi limfe. Mekanisme ini berperan dalam proses pengelolaan cairan jaringan dan respons peradangan.
Pada sistem saraf:
Stimulasi sensorik dapat memengaruhi persepsi nyeri melalui berbagai mekanisme, salah satunya dijelaskan dalam Gate Control Theory. Tubuh juga memiliki sistem analgesia endogen yang melibatkan berbagai mediator, termasuk endorfin dan enkefalin, yang dapat berkontribusi terhadap rasa nyaman.
Sinergi Pasif dan Aktif: Pijat dan Gerakan Olahraga
Dalam kedokteran fisik dan rehabilitasi, terdapat dua pendekatan utama, yaitu intervensi pasif dan aktif.
Manipulasi fisioterapi pasif, seperti pijat, terapi manual, atau penggunaan sejumlah alat terapi, dapat berperan sebagai “pembuka jalan”. Pada kondisi tertentu, seperti nyeri atau spasme otot, intervensi pasif dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman dan kekakuan sehingga pasien lebih siap melakukan aktivitas.
Sementara itu, gerakan aktif dan olahraga merupakan bagian penting dalam pemulihan jangka panjang. Setelah nyeri terkendali, tubuh perlu dilatih melalui aktivitas fisik, peregangan, dan penguatan otot. Latihan yang dilakukan secara tepat dan bertahap dapat mendorong adaptasi neuromuskular, meningkatkan kapasitas fisik, serta membantu membangun fungsi tubuh yang lebih kuat.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan, melainkan dapat disinergikan sesuai kebutuhan dan kondisi individu. Terapi pasif dapat membantu memulihkan kenyamanan, sementara gerakan aktif berperan dalam membangun kemandirian dan fungsi tubuh.
Integrasi Iman, Ikhtiar, dan Sains
Sebagai umat beragama sekaligus makhluk rasional, ikhtiar mencari kesembuhan dari rasa nyeri dapat ditempatkan dalam kerangka tauhid. Setiap tetes keringat peneliti, ketepatan tangan seorang terapis, kecanggihan alat kedokteran modern, hingga kearifan tradisi lokal merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia dalam memahami dan memanfaatkan ilmu pengetahuan.
Dengan memahami mekanisme biologis tubuh secara ilmiah sekaligus menyadarinya sebagai bagian dari kebesaran Allah SWT, ikhtiar dalam pemulihan kesehatan memperoleh makna yang lebih utuh.
Dari bilik pijat tradisional hingga rumah sakit berbasis teknologi mutakhir, perjalanan pengobatan pada akhirnya bukan hanya tentang menyembuhkan raga yang sakit. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar untuk merawat manusia secara utuh—menjaga kesehatan, memulihkan fungsi, dan mempertahankan kemuliaan martabat manusia. ***
Penulis: Dirut Rumah Sakit islam (RSI) Sultan Agung Semarang



