Oleh: apt. Tiara Dewi Salindri Pratama, M. Clin. Pharm
Dosen Fakultas Kedokteran, Program Studi Apoteker, Universitas Sebelas Maret (UNS)
BELAKANGAN ini, nama Ozempic, Wegovy, dan tirzepatide semakin sering terdengar, bukan hanya di ruang praktik dokter atau kalangan tenaga kesehatan, tetapi juga di media sosial.
Obat-obat yang pada awalnya dikenal sebagai bagian dari terapi diabetes kini menjadi perbincangan luas karena kemampuannya membantu menurunkan berat badan secara bermakna. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian melihat obat tersebut sebagai “obat pelangsing” dan menjadikannya bagian dari tren weight loss.
Fenomena ini menarik sekaligus menimbulkan pertanyaan penting: apakah penggunaan obat tersebut benar-benar merupakan terobosan dalam terapi obesitas, atau justru berisiko berubah menjadi tren penggunaan obat yang tidak rasional?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena obesitas bukan sekadar persoalan penampilan. Obesitas merupakan kondisi kronis yang berkaitan dengan berbagai penyakit, seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, penyakit kardiovaskular, dan gangguan tidur.
Oleh karena itu, keberadaan terapi farmakologis yang efektif dapat menjadi harapan baru bagi pasien yang membutuhkan intervensi medis.
Namun, semakin populer suatu obat, semakin besar pula risiko penggunaannya bergeser dari indikasi medis menuju penggunaan berdasarkan tren.
Dari Obat Diabetes Menjadi Fenomena Weight Loss
Ozempic dan Wegovy sama-sama mengandung semaglutide, tetapi penggunaannya tidak dapat disamakan begitu saja. Semaglutide merupakan agonis reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1) yang bekerja antara lain meningkatkan sekresi insulin secara bergantung glukosa, menekan sekresi glukagon, memperlambat pengosongan lambung, serta memengaruhi pusat regulasi nafsu makan.
Efek tersebut dapat membantu memperbaiki kontrol glukosa sekaligus mengurangi asupan makanan.
Ozempic dikenal terutama sebagai terapi semaglutide untuk diabetes melitus tipe 2, sedangkan Wegovy merupakan formulasi semaglutide yang digunakan untuk manajemen berat badan pada pasien dengan kondisi yang memenuhi kriteria terapi.
Karena kandungan zat aktifnya sama, masyarakat terkadang menganggap keduanya dapat dipertukarkan begitu saja. Padahal, indikasi, dosis, titrasi, dan tujuan terapi harus mengikuti produk dan kondisi pasien.
Popularitas semaglutide semakin meningkat setelah berbagai penelitian menunjukkan efektivitasnya dalam menurunkan berat badan.
Dalam studi Fase 1, misalnya, semaglutide 2,4 mg sekali seminggu menghasilkan penurunan berat badan rata-rata sekitar 15,2% setelah 104 minggu pada kelompok tertentu dengan overweight atau obesitas tanpa diabetes.
Lebih jauh lagi, manfaat semaglutide tidak hanya berkaitan dengan angka pada timbangan. Pada kelompok tertentu dengan penyakit kardiovaskular dan overweight atau obesitas tanpa diabetes, Wegovy juga memperoleh persetujuan FDA untuk menurunkan risiko kejadian kardiovaskular serius.
Artinya, perkembangan obat-obatan ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap obesitas. Obesitas semakin dipahami sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang, bukan sekadar masalah kurang disiplin dalam mengatur makanan atau berolahraga.
Tirzepatide: Langkah Lebih Maju?
Jika semaglutide bekerja terutama melalui jalur GLP-1, tirzepatide memiliki mekanisme yang sedikit berbeda. Tirzepatide merupakan agonis reseptor GIP dan GLP-1. Aktivasi kedua jalur tersebut menghasilkan efek terhadap regulasi glukosa, nafsu makan, dan berat badan.
Efektivitas tirzepatide terhadap penurunan berat badan menjadi salah satu alasan obat ini mendapatkan perhatian besar. Dalam studi SURMOUNT-1, peserta dengan obesitas yang mendapatkan tirzepatide dosis 10 mg dan 15 mg mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 19,5% dan 20,9%, dibandingkan sekitar 3,1% pada plasebo.
Yang lebih menarik, terdapat studi yang membandingkan tirzepatide dengan semaglutide pada orang dewasa dengan obesitas tanpa diabetes menunjukkan bahwa tirzepatide menghasilkan penurunan berat badan yang lebih besar pada minggu ke-72.
Penurunan berat badan rata-rata sekitar 20,2% dilaporkan pada kelompok tirzepatide dibandingkan kelompok semaglutide.
Temuan tersebut tentu sangat menjanjikan. Namun, hasil penelitian tidak boleh diterjemahkan secara sederhana menjadi “tirzepatide pasti lebih baik untuk semua orang”.
Pemilihan obat tetap harus mempertimbangkan diagnosis, komorbiditas, obat lain yang digunakan, tolerabilitas, kontraindikasi, kemampuan pasien mengikuti terapi, serta akses dan biaya pengobatan.
Ketika Obat Terapi Berubah Menjadi Tren
Di sinilah persoalan mulai menjadi lebih kompleks. Media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan. Video singkat mengenai pengalaman menggunakan semaglutide atau tirzepatide dapat ditonton jutaan kali.
Narasi seperti “turun sekian kilogram dalam beberapa minggu” dapat menciptakan persepsi bahwa obat tersebut merupakan jalan cepat untuk memperoleh tubuh ideal.
Padahal, penggunaan obat tidak seharusnya didasarkan pada pengalaman orang lain.
Seseorang yang mengalami penurunan berat badan setelah menggunakan obat belum tentu memiliki kondisi klinis yang sama dengan orang lain. Dosis yang sesuai untuk satu pasien belum tentu sesuai untuk pasien lainnya. Bahkan efek samping dan respons terhadap terapi juga dapat berbeda.
FDA sendiri pada 2026 masih menyoroti persoalan produk GLP-1 yang tidak disetujui dan produk tiruan/kompon yang dipasarkan dengan informasi yang menyesatkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya permintaan terhadap obat penurun berat badan juga menciptakan peluang bagi peredaran produk yang tidak memenuhi standar keamanan dan mutu.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya “berapa kilogram saya bisa turun?”, tetapi juga “apakah saya memang membutuhkan obat ini, apakah obat ini tepat untuk saya, dan bagaimana penggunaannya harus dipantau?”
Efektivitas Bukan Berarti Tanpa Risiko
Seperti obat lainnya, semaglutide dan tirzepatide bukanlah obat yang bebas risiko.
Keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, konstipasi, dan rasa cepat kenyang merupakan efek yang cukup dikenal.
Pada sebagian pasien, efek tersebut dapat memengaruhi asupan makanan dan cairan sehingga perlu mendapatkan perhatian.
Selain itu, penggunaan obat harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan potensi risiko yang tercantum dalam informasi produk. Misalnya, label Wegovy memuat boxed warning mengenai risiko tumor sel C tiroid berdasarkan temuan pada hewan coba.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa penurunan berat badan bukan semata-mata kehilangan lemak. Intervensi penurunan berat badan yang terlalu agresif juga perlu memperhatikan kecukupan nutrisi dan pemeliharaan massa otot.
Yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan terapi. Obesitas merupakan kondisi kronis sehingga penghentian obat tidak selalu berarti berat badan akan tetap berada pada titik yang telah dicapai.
Oleh karena itu, pasien membutuhkan strategi jangka panjang yang mencakup pola makan, aktivitas fisik, perilaku, serta pemantauan klinis.
Dengan kata lain, obat bukanlah pengganti gaya hidup sehat. Obat merupakan salah satu bagian dari pendekatan komprehensif.
Tantangan Penggunaan Rasional Obat
Konsep rational drug use menjadi semakin penting di tengah popularitas obat-obatan penurun berat badan.
Penggunaan obat secara rasional pada dasarnya berarti pasien mendapatkan obat yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang tepat, untuk durasi yang tepat, dengan biaya yang sesuai, serta dengan mempertimbangkan keamanan dan efektivitasnya.
Dalam konteks semaglutide dan tirzepatide, prinsip tersebut berarti setidaknya terdapat beberapa pertanyaan yang harus dijawab sebelum terapi diberikan.
Apakah pasien memang memenuhi kriteria untuk mendapatkan terapi farmakologis? Apakah target terapi sudah ditentukan? Apakah terdapat komorbiditas yang justru membuat suatu pilihan obat lebih menguntungkan atau lebih berisiko? Bagaimana obat dititrasi?
Bagaimana efek samping dipantau? Apakah terdapat obat lain yang perlu diperhatikan? Dan yang tidak kalah penting, apakah pasien memahami bahwa terapi obesitas membutuhkan perubahan gaya hidup dan pemantauan jangka panjang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan terapi tidak cukup dinilai dari berapa kilogram berat badan yang hilang.
Keberhasilan terapi seharusnya dilihat lebih luas: apakah kontrol metabolik membaik, apakah risiko komplikasi menurun, apakah kualitas hidup meningkat, apakah pasien mampu mempertahankan perubahan gaya hidup, dan apakah terapi dapat dilakukan dengan aman dalam jangka panjang.
Di Mana Peran Apoteker?
Fenomena meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan memberikan ruang yang sangat besar bagi profesi apoteker.
Apoteker tidak hanya berperan dalam menyerahkan obat, tetapi juga dapat menjadi salah satu sumber informasi terpercaya bagi pasien.
Edukasi mengenai indikasi, cara penggunaan, titrasi, efek samping, penyimpanan, kepatuhan, serta tanda-tanda yang membutuhkan konsultasi medis merupakan bagian penting dari pelayanan kefarmasian.
Apoteker juga dapat membantu mengidentifikasi drug-related problems (DRPs), potensi interaksi, duplikasi terapi, penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi, maupun masalah kepatuhan pasien.
Dalam konteks masyarakat yang semakin mudah memperoleh informasi melalui media sosial, peran apoteker menjadi semakin penting. Apoteker dapat membantu membedakan antara informasi kesehatan berbasis bukti dan klaim promosi yang belum tentu memiliki dasar ilmiah.
Edukasi yang baik bukan berarti menakut-nakuti pasien agar tidak menggunakan obat. Sebaliknya, edukasi bertujuan agar pasien memahami bahwa obat merupakan terapi yang memiliki manfaat sekaligus risiko.
Jangan Sampai “Viral” Mengalahkan “Rasional”
Popularitas Ozempic, Wegovy, dan tirzepatide sebenarnya menunjukkan sebuah perkembangan positif dalam dunia farmasi dan kedokteran. Kita memiliki terapi yang semakin efektif untuk membantu pasien dengan diabetes, obesitas, dan kondisi metabolik tertentu. Bahkan penelitian terus berkembang untuk melihat manfaat obat-obatan tersebut pada berbagai kondisi lainnya.
Namun, kemajuan terapi juga membawa tanggung jawab. Ketika sebuah obat menjadi viral, masyarakat mungkin lebih mengenal nama mereknya daripada indikasinya.
Masyarakat mungkin lebih hafal berapa kilogram berat badan yang dapat turun daripada memahami efek sampingnya. Bahkan, seseorang dapat lebih percaya pada pengalaman seorang influencer dibandingkan rekomendasi tenaga kesehatan.
Di sinilah prinsip penggunaan obat secara rasional harus kembali ditegakkan.
Ozempic bukan sekadar tren. Wegovy bukan sekadar obat pelangsing. Tirzepatide bukan pula solusi instan untuk mendapatkan tubuh ideal.
Ketiganya merupakan bagian dari perkembangan terapi yang memiliki indikasi, mekanisme kerja, manfaat, risiko, serta batasan penggunaannya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling tepat bukanlah “Obat mana yang paling cepat menurunkan berat badan?”, tetapi:
“Obat mana yang paling tepat untuk pasien ini, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, kebutuhan klinis, dan tujuan terapi jangka panjang?”
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut membutuhkan ilmu, evidence, pemantauan, dan kolaborasi tenaga kesehatan.
Karena dalam dunia farmasi, obat yang hebat bukanlah obat yang paling viral, melainkan obat yang digunakan secara tepat, pada pasien yang tepat, dengan cara yang tepat. Jatengdaily.com



