By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Penguatan Ekonomi Pertanian Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Jawa Tengah: Kontribusi dan Tantangan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Penguatan Ekonomi Pertanian Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Jawa Tengah: Kontribusi dan Tantangan

Last updated: 10 Februari 2026 15:35 15:35
Jatengdaily.com
Published: 10 Februari 2026 15:35
Share
SHARE

Oleh: Rina Lusiana Handayanti, Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi Jawa Tengah

BADAN Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis angka tetap luas panen dan produksi padi tahun 2025 pada Senin, 2 Februari 2026. Dalam rilis tersebut, Jawa Tengah ditetapkan sebagai salah satu dari tiga provinsi dengan total produksi padi kualitas gabah kering panen (GKP) tertinggi pada tahun 2025, setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Produksi padi (GKP) Jawa Tengah pada tahun 2025 mencapai 11.264.122 ton, meningkat sebesar 4,64 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, untuk komoditas jagung, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kenaikan produksi tertinggi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK-KA14%) yang mencapai 2.750.971 ton, atau naik 13,37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Terbaru, ekonomi Jawa Tengah tahun 2025 tercatat mengalami pertumbuhan positif sebesar 5,37 persen, meningkat dibandingkan capaian tahun 2024 yang tumbuh sebesar 4,95 persen.

Dari sisi produksi, keempat lapangan usaha yang memiliki peran dominan juga mencatatkan pertumbuhan positif, yaitu Industri Pengolahan tumbuh sebesar 4,06 persen; Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil & Sepeda Motor tumbuh sebesar 4,63 persen; Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tumbuh sebesar 4,78 persen; dan Konstruksi tumbuh sebesar 6,62 persen.

Bahkan, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada tahun 2023, sektor ini hanya tumbuh 0,43 persen dan pada tahun 2024 tumbuh sebesar 1,39 persen.

Capaian ini menggembirakan, mengingat arah kebijakan perencanaan pembangunan daerah tahun ini meneguhkan posisi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional, sebagaimana tertuang dalam Blueprint Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025-2029.

Dalam rentang waktu 2020-2025, kontribusi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terhadap PDRB Jawa Tengah berada pada kisaran 13–15 persen, dengan subsektor tanaman pangan dan perkebunan sebagai penyumbang utama nilai tambah.

Selain peran strategis dalam PDRB, komoditas pangan memainkan peran vital dalam pemenuhan pangan dan nutrisi masyarakat. Hingga saat ini, beras menjadi komoditas pangan utama masyarakat Indonesia dengan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap konsumsi kalori keseluruhan.

Stabilitas produksi dan harga beras sangat menentukan daya beli masyarakat serta menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi pangan. Oleh karena itu, keberlanjutan produksi padi tidak hanya menyangkut ketahanan pangan, tetapi juga stabilitas sosial dan ekonomi nasional.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tidak hanya berkontribusi signifikan terhadap PDRB, tetapi juga terhadap penyerapan tenaga kerja.

Di Jawa Tengah, sektor pertanian dalam arti luas secara konsisten menyerap lebih dari 23-26 persen tenaga kerja, dan kerap dijadikan bantalan (economic buffer) saat terjadi perlambatan ekonomi seperti pada periode pandemi Covid-19.

Selain itu, stabilitas sektor ini juga berkaitan erat dengan stabilitas fiskal. Pemerintah sering menggunakan instrumen fiskal seperti subsidi pangan, cadangan stabilisasi harga, dan intervensi pasar untuk meredam gejolak harga.

FAO (2021) menekankan bahwa kebijakan stabilisasi pangan yang efektif dapat menekan biaya fiskal jangka panjang dengan mencegah lonjakan inflasi dan kebutuhan bantuan sosial yang lebih besar. Namun, ketergantungan berlebihan pada subsidi tanpa peningkatan produktivitas dapat menimbulkan distorsi fiskal dan inefisiensi anggaran.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih memiliki banyak tantangan sekaligus peluang dalam menjalankan amanat RPJMN 2025-2029.

Target peningkatan kebutuhan pangan dalam rangka pemenuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tingginya ketergantungan terhadap impor komoditas pangan, alih fungsi lahan pertanian yang masif, penurunan kualitas/degradasi lahan, dan aging farmer adalah contoh tantangan dan peluang yang harus segera dituntaskan apabila Jawa Tengah ingin mencapai ketahanan pangan yang semakin inklusif dan berkeadilan. Jatengdailycom-St

You Might Also Like

KPU Pastikan di TPS Ada Template Braille untuk Tunanetra
RS Darurat Asrama Haji Donohudan Boyolali Ditargetkan Beroperasi 2 Agustus
Gelar Pameran Bareng ATGMI, PPGI Eksis di Tengah Tantangan Era Digital
Ternyata Wagub Gus Yasin Sering Dimintai Nama Bayi…
Hasil Penelitian Ilmiah di Makassar Menunjukkan Tidak Ada Kemasan Galon BPA Melewati Ambang Batas BPA
TAGGED:Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangandi Jawa Tengah: Kontribusi dan TantanganPenguatan Ekonomi Pertanian
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?