SEMARANG (Jatengdaily.com) – Suasana haru dan penuh semangat mewarnai Upacara Wisuda Ke-76 Universitas Semarang (USM) yang digelar di Auditorium Ir Widjatmoko, Jalan Soekarno-Hatta, Tlogosari, Pedurungan, Semarang, Rabu (20/5/2026). Sebanyak 1.267 wisudawan resmi dikukuhkan dan siap memasuki dunia kerja maupun pengabdian di tengah tantangan era digital yang terus berkembang.
Dalam momentum tersebut, Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip, Sudharto P. Hadi, menyampaikan pesan inspiratif kepada para lulusan. Menurutnya, masa depan bukan sesuatu yang bisa ditebak atau diramalkan, melainkan harus dibentuk dengan kerja keras, ketekunan, dan keberanian menghadapi tantangan.
“Masa depan itu dibentuk, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diramalkan. Karena itu, maka menjadi penting bagi para wisudawan untuk membentuk masa depan,” ujar Prof Sudharto dalam sambutannya.
Guru besar yang akrab disapa Prof Dharto itu menekankan bahwa keberhasilan yang diraih para wisudawan hari ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari perjuangan baru yang sesungguhnya.
“Keberhasilan hari kemarin merupakan awal perjuangan hari ini. Keberhasilan hari ini merupakan awal perjuangan besok pagi,” katanya.
Menurutnya, kehidupan manusia sejatinya hanya berkutat pada tiga waktu, yakni hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Karena itu, para lulusan diminta tidak cepat puas atas capaian akademik yang telah diraih.
“Kita itu hanya punya tiga hari yakni hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Kinerja Anda nanti akan diuji di lapangan, di user, di tempat kerja. Ujian sesungguhnya adalah ketika Anda sudah terjun ke masyarakat. Mudah-mudahan semua lulusan USM adalah yang mampu merepresentasikan kompetensi tadi,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Prof Dharto juga menyisipkan guyonan khas Jawa yang disambut tawa dan tepuk tangan para wisudawan maupun tamu undangan. Ia menyebut keberhasilan tidak lepas dari ketekunan yang dijalani seseorang.
“Yen kowe tekun itu bakal entuk teken, yen wis entuk teken, bakal tekan,” ucapnya.
Ia kemudian menjelaskan makna filosofis kalimat tersebut. “Teken” diartikan sebagai ijazah atau tanda kelulusan, sedangkan “tekan” berarti tercapainya cita-cita dan tujuan hidup.
“Teken itu ijazah, ijazah yang lagi ramai terus-menerus ya. Jadi bicara ijazah itu bisa berarti bukti kebenaran yang sah menyatakan Anda telah lulus,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah VI Jawa Tengah, Aisyah Endah Palupi, mengingatkan para lulusan mengenai tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif di era digital.
Menurutnya, pertumbuhan lapangan pekerjaan saat ini tidak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi yang terus meningkat setiap tahun. Karena itu, para wisudawan harus mampu memiliki nilai tambah dan kemampuan adaptasi yang baik.
“Lapangan pekerjaan tidak bertumbuh secara signifikan, namun lulusan selalu ada,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi digital dan penggunaan artificial intelligence (AI) yang kini semakin masif dalam kehidupan akademik maupun dunia kerja. Menurutnya, teknologi AI memang memberikan banyak kemudahan, namun penggunaannya harus tetap disertai kemampuan berpikir kritis.
“Para wisudawan sekarang masuk di dalam masa digital. Semua banyak dibantu oleh kecepatan digital, dengan menggunakan artificial intelligence (AI), baik itu digunakan pada saat kita kuliah, mengerjakan tugas, bahkan untuk mengerjakan skripsi sekalipun ada yang bantu,” katanya.
Karena itu, Aisyah mengingatkan agar para lulusan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi. Sebab, penggunaan AI secara berlebihan dikhawatirkan dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah. St

