SEMARANG (Jatengdaily.com)– SUN Energy memasuki satu dekade perjalanan dengan memperluas solusi energi terbarukan ke sektor mobilitas listrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan membantu pelaku industri melakukan dekarbonisasi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Hal itu disampaikan Karina Darmawan, CEO SUN Mobility, dalam Media Gathering bertajuk A Decade of Impact SUN Energi yang digelar Jumat (18/9/2026).
Karina mengatakan, salah satu potensi penghematan yang cukup besar berasal dari penggunaan bahan bakar untuk kendaraan operasional, khususnya kendaraan logistik dan industri.
Menurutnya, peralihan dari kendaraan berbahan bakar diesel ke kendaraan listrik berpotensi menekan biaya energi hingga sekitar 15 persen, tergantung karakteristik dan kebutuhan operasional perusahaan.
“Ini salah satu yang bisa kami lakukan adalah mengurangi (biaya), kemudian untuk lebih terintegrasi kita coba lihat diesel yang digunakan untuk konsumsi kendaraan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persoalan bahan bakar tidak hanya berkaitan dengan biaya, tetapi juga produktivitas. Antrean pengisian BBM yang panjang, misalnya, dapat menghambat aktivitas logistik dan operasional perusahaan.

Karina mencontohkan, salah satu klien SUN menghadapi persoalan antrean BBM yang berdampak pada produktivitas. Kondisi tersebut kemudian mendorong perusahaan mencari alternatif melalui elektrifikasi kendaraan.
Namun, menurut Karina, transisi dari kendaraan berbahan bakar diesel menuju kendaraan listrik di sektor industri tidak sesederhana penggunaan mobil listrik untuk kebutuhan pribadi.
Karena itu, SUN Mobility menawarkan solusi secara menyeluruh atau end-to-end, mulai dari kendaraan, layanan, suku cadang, pemeliharaan, hingga pelatihan pengemudi.
“Kami memahami ternyata kalau untuk perusahaan berganti dari diesel ke mobil listrik tidak semudah individu. Kami memberikan solusi langsung all-in, termasuk service, sparepart, dan deployment,” katanya.
SUN Mobility juga menyiapkan mekanik di lokasi tertentu untuk memastikan layanan dapat dilakukan dengan cepat. Selain itu, pengemudi mendapatkan pelatihan agar mampu mengoperasikan kendaraan listrik secara efisien serta memahami berbagai fitur dan sistem pada kendaraan.
Karina mengatakan, berdasarkan pengalaman implementasi di lapangan, kendaraan listrik untuk kebutuhan industri, termasuk truk berukuran besar, menunjukkan performa yang kompetitif setelah digunakan dalam beberapa waktu.
Ia menilai elektrifikasi kendaraan dapat menjadi bagian dari solusi bagi industri dalam menghadapi tantangan biaya energi sekaligus mengurangi emisi karbon.
“Harapannya, kami bisa membantu industri supaya sama-sama mendapatkan benefit. Konsumen juga mendapatkan benefit ketika harga transportasi bisa kita pertahankan atau bahkan kita tekan dengan berganti dari sistem diesel menjadi listrik,” katanya.
SUN telah mengembangkan lebih dari 450 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek yang mencakup lebih dari 40 sektor industri. Pencapaian ini menandai perjalanan SUN dalam memperluas adopsi energi surya di sektor komersial dan industri sekaligus menjadi fondasi bagi fase pertumbuhan berikutnya sebagai mitra elektrifikasi bagi industri di Indonesia.
Sejak didirikan pada 2016, SUN berkembang bersama meningkatnya kebutuhan industri terhadap energi yang lebih efisien, rendah karbon, dan andal. Portofolio SUN saat ini mencakup proyek di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, termasuk pada sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, dan farmasi.
Lebih dari sekadar kapasitas terpasang, pertumbuhan portofolio tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan energi bersih sebagai bagian dari strategi efisiensi dan daya saing industri. Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO₂ per tahun, setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.
Dari Energi Surya ke Solusi Energi Terintegrasi
Sementara itu, Oky Gunawan, Chief Sales & Marketing SUN, mengatakan perjalanan SUN Energi selama 10 tahun berawal dari proyek energi surya berskala kecil di wilayah terpencil.
Dari awalnya hanya memasang pembangkit dengan kapasitas beberapa kilowatt, SUN kini telah berkembang dengan total kapasitas terpasang lebih dari 500 MW.
Memasuki usia satu dekade, SUN tidak lagi memosisikan diri hanya sebagai pengembang energi surya. Perusahaan mulai mengembangkan solusi energi secara lebih luas, termasuk kelistrikan dan mobilitas listrik.
Menurut Oky, kebutuhan perusahaan saat ini tidak berhenti pada penyediaan sumber energi terbarukan. Pelaku industri juga membutuhkan solusi yang lebih terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menurunkan emisi karbon.
“Kita sekarang tidak hanya sebagai developer solar, tetapi mengidentifikasi sebagai energi secara keseluruhan, listrik secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, transformasi tersebut dilakukan karena kebutuhan industri terus berkembang. Efisiensi tidak hanya diperoleh dari mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan, tetapi juga melalui elektrifikasi kendaraan operasional.
Dorong Dekarbonisasi Industri
Anggita Pradipta, Group Head of Marketing SUN, mengatakan permintaan terhadap solusi dekarbonisasi terus berkembang, baik karena kebutuhan ekspor, tata kelola perusahaan, maupun tuntutan efisiensi bisnis.
Menurut dia, perusahaan saat ini tidak cukup hanya mengandalkan energi terbarukan untuk menurunkan emisi. Berbagai aspek operasional perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk penggunaan kendaraan.
“Customer kita ternyata butuhnya tidak cuma energi saja, tetapi juga solusi-solusi lain untuk membantu mereka menurunkan emisi karbon,” kata Anggita.
Ia mengatakan, SUN berupaya memberikan solusi business to business (B2B) yang lebih komprehensif sehingga perusahaan dapat melakukan transformasi secara bertahap sesuai kebutuhan.
“Dengan mengganti kendaraan konvensional, penghematannya ternyata bisa jauh lebih signifikan. Itu yang mau kita ceritakan, mengenai transformasi perusahaan yang mau melakukan dekarbonisasi di industri,” ujarnya.
Melalui pengembangan energi surya dan mobilitas listrik, SUN Energi menargetkan solusi yang ditawarkan tidak hanya membantu perusahaan mengurangi emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan menjaga keberlanjutan operasional industri.
Memperkuat Pengembangan PLTS Berskala Besar Dukung Visi 100 GWp
Selain memperluas elektrifikasi industri, SUN juga memperkuat pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar sebagai bagian dari agenda pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp, yang membuka ruang besar bagi pengembangan PLTS untuk sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar. Saat ini, SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan masih berada dalam tahap pengembangan.
SUN juga memperluas perannya sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mendukung pengembangan aset energi bersih jangka panjang. Langkah ini diharapkan memperbesar kontribusi sektor swasta dalam penambahan kapasitas energi terbarukan nasional sekaligus mendukung visi pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia. she



