Oleh: Nasywa Rana Hanifah
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
MEMAKAI sepatu bertali mungkin merupakan aktivitas sederhana yang dilakukan hampir tanpa berpikir. Namun, bagi sebagian murid, aktivitas tersebut menjadi keterampilan yang perlu dipelajari secara bertahap, mulai dari memasukkan kaki ke dalam sepatu, menyesuaikan posisi kaki, mengatur tali, mengencangkan, hingga membuat simpul.
Hal sederhana tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran kemandirian bagi salah satu murid tunagrahita Fase C/Kelas V di SLB Yapenas, Condongcatur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui Program Khusus Bina Diri dalam rangkaian Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), murid berinisial Y berlatih memakai sepatu bertali secara mandiri pada tanggal 3, 8, dan 9 September 2026.
Berangkat dari Kemampuan yang Sudah Dimiliki
Latihan tidak dimulai dari mengajarkan seluruh rangkaian sekaligus. Sebelum program diberikan, kemampuan yang sudah dimiliki anak didik, terlebih dahulu diperhatikan sebagai dasar menentukan tahapan latihan.
Sebagian anak didik telah mampu melepas sepatu dan membuka tali secara mandiri. Namun, beberapa masih mengalami kesulitan ketika harus memakai sepatu kembali, terutama dalam mengatur posisi tali, mengencangkan tali, menyilangkan tali, dan membuat simpul.
Kondisi tersebut menjadi dasar penyusunan latihan yang disesuaikan dengan kemampuan setiap individu. Setiap bagian keterampilan dilatih secara bertahap sehingga individu memiliki kesempatan untuk mencoba dan menyelesaikan bagian yang sudah mampu dilakukan sebelum memperoleh bantuan pada bagian yang masih sulit.
Dari Mencoba, Mengulang, hingga Mengurangi Bantuan
Pada pertemuan pertama (3/9), latihan difokuskan pada kemampuan memasukkan kaki ke dalam sepatu dan menyesuaikan posisi kaki. Setelah diberikan contoh, setiap individu anak didik mampu menyelesaikan tahapan tersebut tanpa bantuan.
Tantangan lebih terlihat pada pertemuan kedua (8/9) ketika individu anak didik mulai berlatih mengatur dan mengencangkan tali sepatu. Bagian menyilangkan tali dan membuat simpul membutuhkan beberapa kali pengulangan. Dalam prosesnya, anak didik diberikan contoh, instruksi, dan bantuan sesuai kebutuhan.
Latihan juga menggunakan benda yang konkret, yaitu sepatu milik individu anak didik dan papan latihan berbentuk sepatu yang dilengkapi lubang serta tali sepatu. Penggunaan benda yang dapat langsung disentuh dan digunakan memungkinkan latihan berfokus pada keterampilan yang memang akan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada pertemuan ketiga (9/9), latihan dilanjutkan dengan mengikat tali dan kemudian menggabungkan seluruh tahapan, mulai dari menyiapkan sepatu hingga memastikan sepatu terpasang dengan baik. Bantuan diberikan secara bertahap dan dikurangi ketika individu anak didik mulai mampu melakukan tahapan secara mandiri. Dalam sesi latihan tersebut, individu anak didik akhirnya mampu menyelesaikan seluruh rangkaian memakai sepatu bertali secara mandiri.
Kemandirian Tidak Berhenti pada Satu Sesi Latihan
Kemampuan menyelesaikan rangkaian memakai sepatu di sekolah menjadi salah satu perkembangan yang terlihat selama pelaksanaan program. Namun, keterampilan bina diri tidak berhenti ketika kegiatan di sekolah selesai.
Pembiasaan di lingkungan rumah tetap diperlukan agar kesempatan untuk mencoba dapat muncul secara konsisten. Dalam praktiknya, anak didik masih cenderung mendapatkan bantuan dari ibu ketika berada di rumah. Karena itu, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam melanjutkan latihan, terutama dengan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mencoba terlebih dahulu sebelum mendapatkan bantuan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan sehari-hari tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan suatu aktivitas, tetapi juga dengan kesempatan untuk berlatih secara konsisten di berbagai lingkungan.
Dari Keterampilan Sehari-hari Menuju Pembelajaran yang Bermakna
Kegiatan memakai sepatu bertali menjadi contoh bahwa keterampilan sehari-hari dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang bermakna. Aktivitas yang tampak sederhana dapat memiliki beberapa tahapan keterampilan yang perlu disesuaikan dengan kemampuan setiap murid.
Melalui latihan yang bertahap, penggunaan benda konkret, pengulangan, serta pengurangan bantuan, murid diberikan ruang untuk mencoba dan membangun kemandiriannya. Pengalaman tersebut juga menunjukkan pentingnya kesinambungan antara pembelajaran di sekolah dan pembiasaan di rumah.
Program Khusus Bina Diri yang dilaksanakan dalam PK UNY di SLB Yapenas ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam upaya menghadirkan pengalaman belajar yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan murid.
Bagi pendidikan khusus, kualitas pembelajaran tidak hanya tercermin dari penguasaan materi akademik, tetapi juga dari kesempatan murid untuk mengembangkan keterampilan yang mendukung kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, sebuah tali sepatu bukan hanya tentang simpul yang berhasil dibuat. Di baliknya terdapat proses belajar untuk mencoba, mengulang, menerima bantuan, kemudian perlahan mengurangi ketergantungan pada bantuan tersebut. Dari langkah kecil seperti itulah, kemandirian mulai dibangun. St



