By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Terapi Autologous Bone Marrow Jadi Harapan Baru dalam Penanganan Alzheimer
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Terapi Autologous Bone Marrow Jadi Harapan Baru dalam Penanganan Alzheimer

Jatengdaily.com
Published: 21 September 2026 15:23
Share
Ilustrasi gangguan daya ingat sering melanda orang tua. Foto: pixabay.com
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Penyakit Alzheimer (Alzheimer’s Disease) bukan lagi sekadar tantangan klinis individu, melainkan krisis kesehatan masyarakat global yang mendesak. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya berbagai pendekatan baru, termasuk kedokteran regeneratif dan kedokteran presisi melalui pemanfaatan sel punca sumsum tulang (bone marrow). Hari ini, 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer’s Disease International (ADI) sedunia.

Dirut Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang, Dr. Agus Ujianto, Sp.B., M.Si.Med., FISQUa, mengatakan perkembangan teknologi kedokteran regeneratif membuka peluang untuk mengembangkan pendekatan baru dalam penanganan penyakit neurodegeneratif, termasuk Alzheimer.

Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), pada 2021 terdapat sekitar 57 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh dunia dan lebih dari 60 persen di antaranya berada di negara berpendapatan rendah dan menengah. Alzheimer merupakan bentuk demensia atau gangguan daya ingat yang paling umum dan dapat berkontribusi terhadap sekitar 60–70 persen kasus demensia.

Di Indonesia, situasi serupa menjadi perhatian serius. Keterlambatan diagnosis masih menjadi persoalan karena gejala demensia kerap dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan.

Menurut Agus, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pengendalian gejala, tetapi juga memahami mekanisme biologis yang mendasari kerusakan jaringan saraf.

“Di tengah keterbatasan terapi farmakologis konvensional yang sifatnya sekadar paliatif, pergeseran paradigma menuju kedokteran regeneratif dan presisi (precision medicine) menawarkan secercah harapan baru, khususnya melalui pemanfaatan sel punca sumsum tulang (bone marrow),” ujar Agus.

Agus menjelaskan, sumsum tulang (bone marrow) merupakan jaringan lunak di dalam tulang yang berfungsi sebagai salah satu pusat utama pembentukan sel darah. Sumsum tulang terdiri atas sumsum merah yang berperan dalam proses hematopoiesis dan sumsum kuning yang didominasi jaringan adiposa.

Di dalam matriks sumsum tulang terdapat berbagai komponen vital, antara lain Hematopoietic Stem Cells (HSCs), Mesenchymal Stem Cells (MSCs), dan Endothelial Progenitor Cells (EPCs).

HSCs merupakan sel punca multipoten yang membentuk berbagai lini sel darah. Sementara itu, MSCs berperan dalam pemeliharaan jaringan dan menghasilkan berbagai faktor parakrin. Adapun EPCs berkaitan dengan proses pembentukan dan perbaikan pembuluh darah.

Menurut Agus, sejarah pemanfaatan sumsum tulang dalam dunia medis berakar dari perkembangan bidang onkologi pada paruh kedua abad ke-20. Perkembangan penelitian mengenai sel-sel yang terdapat di dalam sumsum tulang kemudian membuka peluang pemanfaatannya untuk memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan.

Dari perkembangan tersebut kemudian dikenal berbagai pendekatan, termasuk Bone Marrow Aspirate Concentrate (BMAC) dan pemanfaatan sel mononuklear sumsum tulang.

Dalam konteks penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Agus menyebut pemilihan rute administrasi menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Salah satu pendekatan yang diteliti adalah rute intratekal melalui pungsi lumbal, selain pemberian secara intravena maupun intra-arterial pada konteks penelitian tertentu.

“Dalam aplikasinya untuk kasus neurodegeneratif seperti Alzheimer, pemilihan rute administrasi sangat krusial agar agen terapeutik mampu mencapai lingkungan sistem saraf pusat,” jelasnya.

Agus menerangkan, secara biologis, terapi berbasis sel dan produk turunannya dipelajari karena memiliki kemungkinan bekerja melalui berbagai mekanisme. Salah satunya adalah modulasi respons inflamasi dan aktivitas mikroglia yang berkaitan dengan proses neurodegeneratif.

Selain itu, penelitian juga mengeksplorasi kemungkinan pengaruh terhadap proses pembersihan protein abnormal, pengaturan stres oksidatif, autophagy, apoptosis, serta perbaikan lingkungan mikro jaringan saraf.

Mekanisme lain yang menjadi perhatian adalah efek parakrin. Sel dapat menghasilkan berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi lingkungan jaringan, termasuk faktor neurotropik dan faktor yang berkaitan dengan vaskularisasi serta fungsi sinaptik.

“Perbaikan jaringan tidak semata-mata bergantung pada kemampuan sel untuk berubah menjadi sel tertentu. Faktor parakrin dan interaksi antarsel juga menjadi bagian penting yang terus diteliti dalam kedokteran regeneratif,” kata Agus.

Mengenai penggunaan pendekatan autologus, Agus menjelaskan bahwa terapi autologus menggunakan material biologis yang berasal dari pasien sendiri. Pendekatan ini memiliki karakteristik berbeda dengan terapi allogenik yang menggunakan material biologis dari donor.

Dalam konsep kedokteran presisi, penggunaan material autologus dinilai menarik karena sumber biologis berasal dari tubuh pasien sendiri. Namun, Agus menekankan bahwa kualitas dan karakteristik sel autologus tetap dipengaruhi oleh kondisi biologis pasien, termasuk usia dan penyakit penyerta.

“Pendekatan autologus merupakan salah satu bentuk personalized medicine karena material biologis berasal dari pasien sendiri. Namun, bukan berarti otomatis bebas risiko. Setiap prosedur tetap membutuhkan standar keamanan, pengolahan, dan evaluasi klinis yang ketat,” ujarnya.

Agus juga menyoroti perkembangan penelitian mengenai terapi sel untuk Alzheimer. Menurut dia, sejumlah penelitian telah mengeksplorasi penggunaan sel mesenkimal yang berasal dari sumsum tulang untuk melihat aspek keamanan maupun kemungkinan manfaat klinis.

Salah satu uji klinis fase 2a yang dipublikasikan pada 2025 meneliti terapi sel mesenkimal berbasis sumsum tulang yang bersifat allogenik pada pasien dengan Alzheimer ringan. Penelitian tersebut terutama menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memenuhi titik akhir utama terkait keamanan, sementara manfaat klinisnya masih menjadi bagian dari evaluasi penelitian lebih lanjut.

Karena itu, Agus menilai hasil penelitian terapi sel pada Alzheimer perlu ditempatkan secara proporsional. Potensi biologisnya memang menarik, tetapi terapi tersebut masih membutuhkan penelitian klinis yang lebih luas untuk memastikan efektivitas, keamanan jangka panjang, dosis, rute pemberian, serta karakteristik pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat.

“Penyakit Alzheimer menuntut pergeseran paradigma dari pengobatan paliatif pasif menuju intervensi yang lebih proaktif. Namun, harapan terhadap kedokteran regeneratif harus tetap berjalan berdampingan dengan bukti ilmiah dan standar keselamatan pasien,” ujar Agus.

Ia menambahkan, pemanfaatan potensi biologis tubuh sendiri dapat menjadi salah satu arah pengembangan kedokteran presisi. Namun, diperlukan standardisasi prosedur klinis, penelitian terkontrol, serta pengawasan yang ketat agar inovasi tersebut benar-benar dapat diterapkan secara aman dan bertanggung jawab.

“Dengan dukungan data epidemiologi yang masif serta perkembangan riset kedokteran regeneratif, pemanfaatan potensi biologis diri sendiri membuka babak baru dalam dunia kesehatan. Tugas kita bersama adalah terus mengawal standardisasi prosedur klinis yang ketat demi mewujudkan layanan kesehatan yang mandiri, bermutu, dan berfokus penuh pada keselamatan pasien,” pungkas Agus. she 

You Might Also Like

Jawa Tengah Bikers Community Salurkan Hobi hingga Bakti Sosial
Terapkan Konservasi Energi, SBI Pabrik Cilacap Raih Penghargaan ASEAN Energy Awards 2022
Miftachul Akhyar Kembali Terpilih sebagai Rais Aam NU Periode 2021-2026
Mat Solar ‘Bajuri’ Meninggal Dunia
Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah
TAGGED:Agus UjiantoAlzheimer
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?