SEMARANG (Jatengdaily.com) –Sampah plastik yang sulit terurai dan terus menumpuk menjadi tantangan lingkungan yang membutuhkan solusi nyata.
Menjawab persoalan tersebut, Universitas Diponegoro (UNDIP) menghadirkan inovasi Mesin Pirolisis Statis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3), teknologi yang mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar cair. Inovasi ini diperkenalkan dalam pameran rangkaian Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-69 UNDIP yang berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Muladi Dome, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang.
Dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UNDIP, Dipofuel Gen 3 dirancang untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus mengubahnya menjadi produk bernilai guna. Mesin ini bekerja melalui proses pirolisis, yakni pemanasan sampah plastik tanpa oksigen di dalam reaktor tertutup. Melalui proses tersebut, limbah plastik dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair, gas sintesis, dan residu karbon padat yang berpotensi dimanfaatkan lebih lanjut.
Keunggulan Dipofuel Gen 3 terletak pada peningkatan kapasitas pengolahannya. Berawal dari prototipe pertama yang hanya mampu memproses 5 kilogram plastik, kapasitasnya meningkat menjadi 100 kilogram pada generasi kedua, dan kini mencapai 200 kilogram dalam sekali produksi. Dalam waktu pengolahan sekitar 4–8 jam, mesin ini diproyeksikan mampu menghasilkan 60% bahan bakar cair, 20% gas bakar, 20% wax padat. “Keunggulan generasi ketiga ini terutama pada kapasitasnya yang jauh lebih besar. Dari awalnya 5 kilogram, kemudian 100 kilogram, sekarang mencapai 200 kilogram sekali produksi,” jelas Prof. Didi.
Untuk mendukung kapasitas tersebut, Dipofuel Gen 3 dilengkapi reaktor berkapasitas 1.000 liter berbahan plat besi dengan insulator fiber ceramic, sistem pemanas berbahan bakar biomassa, serta panel kontrol suhu dan tekanan yang dilengkapi alarm dan perangkat keselamatan. Tim peneliti juga menyempurnakan sistem kondensasi bertingkat agar hasil bahan bakar cair lebih optimal. Sementara itu, gas yang dihasilkan selama proses pirolisis dialirkan kembali ke sistem pemanas menggunakan blower untuk membantu pembakaran sekaligus mengurangi kebutuhan kayu bakar. Penyempurnaan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi dan membuat proses pengolahan lebih terkendali.
Meski menawarkan potensi menghasilkan bahan bakar alternatif, Prof. Didi menegaskan tujuan utama pengembangan Dipofuel bukan semata-mata keuntungan ekonomi, melainkan menghadirkan solusi bagi persoalan sampah plastik. “Jika dilihat secara ekonomi, mungkin belum sepenuhnya menghasilkan profit, tetapi fokus utamanya adalah bagaimana masalah sampah bisa selesai. Contohnya di Batang, Jawa Tengah, alatnya sudah dimanfaatkan oleh masyarakat petani setempat untuk pompa irigasi. Kami berharap kehadiran teknologi ini dapat mempermudah kehidupan masyarakat secara lebih luas,” ungkapnya.
Pengembangan teknologi pirolisis UNDIP juga mulai menarik perhatian berbagai pihak. Selain telah dimanfaatkan masyarakat di Batang, peluang penerapannya mendapat respons dari lembaga pemasyarakatan dan pondok pesantren di Jawa Timur, hingga pihak PLTU di Sulawesi Selatan yang telah menjalin komunikasi terkait potensi kolaborasi pengolahan limbah. Kendati demikian, Prof. Didi mengakui bahwa penerapan teknologi dalam skala lebih luas masih membutuhkan dukungan pemerintah, kesiapan sumber daya manusia, serta pemenuhan regulasi dan perizinan yang berlaku.
Menariknya, pengembangan Dipofuel Gen 3 dengan bobot keseluruhan sekitar tiga ton ini diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua bulan. Setelah rangkaian Dies Natalis, mesin tersebut direncanakan mulai digunakan di lingkungan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) UNDIP. Prof. Didi berharap inovasi ini dapat menjadi prototipe perintis pengolahan sampah plastik pada skala kelurahan, sebelum dikembangkan menuju kapasitas yang lebih besar. “Harapan kami, mesin ini bisa menjadi prototipe pionir untuk pengolahan sampah, setidaknya pada skala kelurahan. Ke depan, kapasitasnya masih berpeluang dikembangkan hingga skala ton dan diterapkan di masyarakat maupun industri,” tuturnya.
Kehadiran Dipofuel Gen 3 pada Dies Natalis ke-69 UNDIP menegaskan komitmen universitas untuk mendorong riset yang tidak berhenti pada pengembangan prototipe, tetapi juga diarahkan pada solusi yang relevan bagi masyarakat. Melalui penyempurnaan teknologi pirolisis, UNDIP terus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna, sejalan dengan semangat UNDIP Bermartabat dan Bermanfaat serta Diktisaintek Berdampak. she



