JAKARTA (Jatengdaily.com)— Ruang bermain anak di dunia digital menghadapi ancaman serius. Platform gim daring yang semula dirancang sebagai sarana hiburan, kreativitas, dan interaksi sosial, kini dinilai rawan disalahgunakan oleh predator seksual untuk melakukan eksploitasi terhadap anak-anak. Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat regulasi dan pengawasan di ruang siber.
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menegaskan bahwa transformasi digital ibarat dua sisi mata pedang. Di satu sisi, ruang digital membuka peluang besar bagi ekonomi, kreativitas, dan inovasi. Namun di sisi lain, kebebasan tanpa kontrol yang memadai justru menciptakan celah kejahatan, terutama terhadap anak.
“Masalah muncul ketika standar negara yang sangat bebas diterapkan di Indonesia, sementara kontrol sosial dan pengawasan belum siap. Akibatnya, predator digital bisa bergerak tanpa batas geografis,” ujar Alfons, saat dihubungi InfoPublik, Jumat (23/1/2026).
Menurutnya, predator memanfaatkan celah pengawasan dengan teknik grooming yang sistematis. Mereka menyusup ke komunitas anak melalui gim, membangun kedekatan emosional, hingga memberikan hadiah virtual seperti koin atau item gim sebagai umpan. “Modalnya murah, tetapi dampaknya bisa merusak masa depan anak,” tegasnya.
Ancaman tersebut semakin nyata pada platform gim populer seperti Roblox, yang memiliki fitur interaksi terbuka dan ruang obrolan real-time. Minimnya verifikasi usia dan moderasi konten membuat anak-anak rentan terpapar percakapan bernuansa seksual, bahkan diarahkan ke platform lain di luar gim.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menilai fenomena ini sebagai kegagalan kolektif dalam tata kelola ruang digital. “Ini bukan semata persoalan teknis, tetapi kombinasi lemahnya regulasi, celah pengawasan platform, serta rendahnya literasi digital orang tua dan anak,” kata Pratama.
Ia menjelaskan, karakteristik gim online yang interaktif—mulai dari chat box, voice chat, hingga pesan pribadi—menjadi pintu masuk empuk bagi predator yang menyamar sebagai teman sebaya. Proses grooming berlangsung bertahap, dari obrolan ringan hingga permintaan konten seksual dan ajakan bertemu langsung.
Alfons menilai Indonesia patut diapresiasi karena mulai berani mengambil langkah pembatasan terhadap platform digital yang melanggar etika. Namun, ia menekankan bahwa pengawasan terhadap gim daring harus diperkuat secara sistematis.
“Pemerintah perlu mewajibkan penyedia aplikasi memastikan akses sesuai usia, menjaga etika ruang obrolan, serta melakukan monitoring aktif. Akun yang terbukti melakukan grooming harus diblokir dan diproses hukum,” ujarnya.
Ia juga mendorong penindakan tegas terhadap platform yang lalai. “Jika penyedia aplikasi membiarkan, itu sama saja memberi ruang bagi kejahatan,” tambahnya.
Pratama menambahkan, regulasi nasional perlu diperbarui agar mewajibkan sistem perlindungan anak yang komprehensif, mulai dari verifikasi usia, pembatasan komunikasi lintas usia, hingga moderasi berbasis kecerdasan buatan dan pengawasan manusia. Kerja sama lintas negara juga dinilai krusial untuk membongkar kejahatan seksual digital yang bersifat transnasional.
Ancaman tersebut tercermin dari pengalaman sejumlah remaja pengguna gim daring. Seorang remaja berusia 16 tahun, sebut saja Kyna, mengaku sempat menjadi sasaran pendekatan pemain dewasa di Roblox yang kemudian mengarah pada percakapan seksual dan bujukan untuk bertemu langsung. Kasus serupa dialami Chubi, siswi SMA di Jakarta, yang diteror konten pornografi setelah berkenalan dengan pelaku melalui gim dan media sosial.
Pengalaman tersebut menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak. Literasi digital keluarga, penggunaan parental control, serta komunikasi terbuka dengan anak menjadi kunci pencegahan. Sekolah juga didorong memasukkan literasi digital dan keamanan daring sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Ancaman predator seksual di dunia gim daring menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus diiringi perlindungan yang kuat. Tanpa intervensi negara, platform, dan keluarga, ruang virtual berpotensi berubah dari arena bermain menjadi labirin berbahaya bagi generasi masa depan. she
0



