KENDAL (Jatengdaily.com) – Suasana hangat menyelimuti Aula Balai Desa Banyuurip, Kabupaten Kendal, ketika puluhan ibu rumah tangga anggota PKK berkumpul untuk belajar hal-hal yang jarang tersentuh dalam keseharian: hukum dan manajemen keuangan keluarga.
Melalui program bertajuk “Sosialisasi Law Talk: Waspada Judi Online dan Pinjaman Online Ilegal” serta “Pelatihan Manajemen Keuangan Rumah Tangga Ala Jepang”, mahasiswa UNNES GIAT 13 Desa Banyuurip mengajak para ibu untuk menjadi garda terdepan dalam membangun keluarga yang tangguh dan mandiri.

Program ini menjadi wujud nyata semangat “Membangun Indonesia dari Desa”—sebuah gagasan bahwa kemajuan bangsa dimulai dari ketahanan rumah tangga dan kesadaran masyarakat di akar rumput.
Law Talk: Kenali Legalnya, Tolak Ilegalnya
Pada sesi pertama, Lingga Nadhira Adevia Putri, mahasiswa Ilmu Hukum UNNES, tampil lugas dan inspiratif. Ia membuka mata peserta tentang bahaya judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal yang kini kian marak menyusup ke ruang digital masyarakat, bahkan lewat pesan singkat harian di ponsel.

“Peran ibu sangatlah penting, yakni sebagai pendamping dan pengingat agar keluarga tidak terjebak dalam pinjaman yang tidak sehat,” tutur Lingga di hadapan peserta yang mendengarkan dengan saksama.
Lingga juga mempraktikkan cara mengecek legalitas pinjol melalui Kontak OJK 157, agar para ibu mampu menjadi pelindung keluarga dari jeratan finansial ilegal. Penjelasannya yang sederhana membuat para peserta antusias bertanya dan berbagi pengalaman seputar maraknya tawaran pinjaman daring yang menipu.
Pelatihan Keuangan Ala Jepang: Dari Rumah Menuju Desa yang Mandiri
Memasuki sesi kedua, suasana aula kembali hidup ketika Nadia Rakhmawati, mahasiswa Akuntansi, memperkenalkan metode kakeibo, sebuah cara tradisional masyarakat Jepang dalam mengatur keuangan rumah tangga dengan cermat dan disiplin.
Dengan gaya yang komunikatif, Nadia mengajak ibu-ibu untuk mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menyusun rencana belanja harian, dan menabung meski dalam jumlah kecil namun konsisten.
“Ibu yang cerdas mengatur keuangan adalah tameng pertama dan pelindung paling kuat bagi keluarga,” tegasnya. Kalimat itu disambut tepuk tangan peserta, menandakan kesadaran baru yang mulai tumbuh: bahwa kecerdasan finansial rumah tangga adalah pondasi kesejahteraan desa.
Antusiasme Tinggi, Interaksi Hangat
Diskusi berjalan interaktif. Banyak peserta mengangkat tangan, menanyakan cara menghadapi penawaran pinjol mencurigakan atau berbagi kisah tentang upaya mereka menabung di tengah kebutuhan harian yang padat.

Atmosfer edukatif menjelma menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya kesiapan pengetahuan untuk melindungi keluarga.
Membangun Indonesia dari Desa, Dimulai dari Rumah
Kegiatan mahasiswa UNNES GIAT 13 ini menegaskan bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang pembangunan kesadaran, literasi, dan ketahanan keluarga.
Ketika ibu rumah tangga melek hukum dan bijak mengelola keuangan, yang kuat bukan hanya dompetnya, tetapi juga masa depan keluarganya. Dari rumah yang berdaya lahirlah desa yang tangguh, dan dari desa yang tumbuh, Indonesia dibangun.st



