
SEMARANG (Jatengdaily.com) –Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat pesisir melalui inovasi digital.
Melalui program Marine Protector, Untag Semarang mengedukasi warga Tambak Lorok tentang pengendalian sampah plastik dengan pendekatan berbasis game interaktif yang menarik dan mudah dipahami.
Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Marine Protector: Pemberdayaan Masyarakat Tambak Lorok dalam Pengendalian Sampah Plastik Berbasis Game Digital” ini menyasar Ibu-ibu PKK RW 14 Kelurahan Tanjung Mas, kawasan pesisir yang dikenal sebagai sentra nelayan terbesar di Kota Semarang.
Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim pengabdian Untag Semarang dipimpin oleh Dra. Janti Soegiastuti, SE., M.Si. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis, bersama Ema Nurhayati, S.H., M.Han. (Fakultas Hukum), Maliki Aji Prakoso, S.IP., MPA. (FISIP), dan Vinsent Brilian Adiguna, S.Kom., M.Kom. (Fakultas Ekonomika dan Bisnis). Program ini juga melibatkan mahasiswa lintas fakultas yang aktif mendampingi warga selama kegiatan berlangsung.
Menurut tim, wilayah Tambak Lorok masih menghadapi persoalan serius terkait akumulasi sampah plastik. Sekitar 30–40% dari total sampah di kawasan tersebut merupakan plastik yang berpotensi terurai menjadi mikroplastik dan mencemari ekosistem laut.
Untuk menjawab tantangan ini, tim menghadirkan pendekatan kreatif melalui game edukatif digital bernama Marine Protector.
Game interaktif berbasis Android ini dikembangkan menggunakan platform GDevelop dan Construct 3, dengan ukuran sekitar 100–150 MB dan kompatibel untuk Android 7.0 ke atas. Dalam permainan 2D ini, pemain diajak mengenali dampak sampah plastik terhadap laut serta belajar cara pengelolaannya secara menyenangkan.
Berdasarkan hasil riset, media pembelajaran berbasis game dapat meningkatkan kesadaran lingkungan hingga 42% dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah hingga 35% lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
Antusiasme warga pesisir terlihat dari tingginya partisipasi peserta, mulai dari nelayan, pemuda kampung, hingga penggerak komunitas lokal. Ketua RW 14 Kelurahan Tanjung Mas, Dieky Andreas, mengapresiasi pendekatan inovatif tersebut.
“Melalui game edukasi ini, kami jadi lebih paham bagaimana sampah plastik memengaruhi laut dan langkah-langkah yang bisa kami lakukan untuk menguranginya. Pendampingan ini membuka cara belajar baru yang lebih menarik dan mudah dipahami,” ujarnya.
Ke depan, tim pengabdian Untag Semarang berkomitmen melanjutkan pendampingan kepada masyarakat Tambak Lorok agar menjadi model kampung pesisir yang berdaya dan peduli lingkungan berbasis teknologi. Inovasi Marine Protector diharapkan dapat menginspirasi daerah pesisir lain untuk mengembangkan solusi serupa dalam mengatasi persoalan sampah plastik secara berkelanjutan.st


