Dari Jelantah Menjadi Harapan: Pelajar Semarang Belajar Merawat Bumi dan Masa Depan

4 Min Read
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menghadiri kegiatan Pelatihan Lilin Aromaterapi Berbasis Jelantah yang diselenggarakan oleh Lembaga Keterampilan dan Pelatihan (LKP) Johar Selatan Baru di lantai 4 Pasar Johar, Kamis (20/11). Foto:dok
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menghadiri kegiatan Pelatihan Lilin Aromaterapi Berbasis Jelantah yang diselenggarakan oleh Lembaga Keterampilan dan Pelatihan (LKP) Johar Selatan Baru di lantai 4 Pasar Johar, Kamis (20/11). Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Aroma lembut lavender perlahan memenuhi ruang lantai 4 Pasar Johar, menyatu dengan riuh langkah para pelajar yang tampak antusias mengaduk adonan lilin aromaterapi berbahan dasar… jelantah. Di tengah gedung heritage yang menjadi saksi sejarah Kota Semarang, puluhan siswa SMP belajar satu hal penting: bahwa sesuatu yang dianggap “kotor” sekalipun bisa berubah menjadi karya yang bermanfaat— bahkan bernilai jual— ketika disentuh oleh kreativitas dan kepedulian.

Pada Kamis (20/11), Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin hadir dalam Pelatihan Lilin Aromaterapi Berbasis Jelantah yang digelar oleh LKP Johar Selatan Baru. Bukan sekadar seremoni, kehadirannya membawa pesan yang humanis dan tegas: bahwa perubahan besar bagi bumi dan masa depan bisa dimulai sejak usia paling muda.

“Minyak jelantah kalau dibuang begitu saja akan merusak lingkungan kita,” ujarnya, menatap satu per satu wajah pelajar yang sibuk membuat lilin beraroma jeruk dan mawar. Di hadapan mereka, Iswar menjelaskan bahwa limbah rumah tangga bukan sekadar sampah; ia adalah potensi. Melalui pelatihan ini, para siswa diajak memahami bagaimana jelantah bisa diolah menjadi lilin aromaterapi, sabun cuci, atau produk lain yang bermanfaat.

Ketua Paguyuban LKP Johar Selatan Baru, Aik Solikati, menambahkan sentuhan harapan dalam kegiatan edukatif tersebut. Baginya, pelatihan ini lebih dari sekadar prakarya: ini adalah langkah kecil menumbuhkan jiwa wirausaha, sekaligus mengajarkan bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari dapur sendiri.
“Anak-anak perlu melihat bahwa limbah pun bisa menjadi peluang,” ujarnya.

Namun hari itu bukan hanya tentang lilin aromaterapi. Di balik aktivitas kreatif tersebut, ada misi lain yang dibawa oleh Wakil Wali Kota: membentuk karakter. Ia memanfaatkan momentum ini untuk berbicara tentang kenakalan remaja—isu yang kerap muncul seiring perubahan zaman.

“Jangan sampai kalian terjebak tawuran, bullying, atau narkoba. Lakukan hal-hal yang positif,” pesannya. Suaranya lembut, namun tegas. Ia seolah mengingatkan bahwa masa depan anak-anak ini bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga keputusan-keputusan kecil yang mereka ambil setiap hari.

Iswar bahkan mengaitkannya dengan visi besar Indonesia Emas 2045. Ia mengingatkan bahwa saat Indonesia menginjak usia satu abad, para pelajar ini akan berada di masa paling produktif dalam hidup mereka.
“Kalau sekarang kalian nakal, nanti tahun 2045 kalian tidak dapat jatah ketika Indonesia makmur,” ujarnya.
Sebuah peringatan yang halus, namun sarat pesan: masa depan negeri ini sedang duduk di kelas-kelas SMP saat ini.

Pelatihan di Pasar Johar itu juga memiliki makna emosional tersendiri. Iswar menyempatkan diri mengingatkan pentingnya belajar sejarah, terutama di bangunan ikonik yang pernah terbakar dan bangkit kembali itu.
“Pasar Johar adalah heritage kebanggaan kita. Anak-anak harus tahu sejarah, agar kalian tidak lupa pada para pendiri bangsa,” tuturnya.

Suasana seketika menjadi teduh. Di antara meja-meja pelatihan, sejarah, kreativitas, dan harapan untuk masa depan seolah menyatu.

Menutup kunjungan, Iswar kembali menegaskan pentingnya kebiasaan baik.
“Tetap jaga kebersamaan, jaga mental, dan lakukan hal-hal positif setiap hari,” pesannya sambil tersenyum.

Pemkot Semarang berencana memperluas kolaborasi dengan LKP, sekolah, dan komunitas lokal agar pelatihan semacam ini bisa menjadi bagian dari ekosistem kewirausahaan kota. Sebuah langkah kecil, namun dengan cita-cita besar: menciptakan generasi yang kreatif, peduli lingkungan, berkarakter kuat, dan siap menyongsong Indonesia Emas.

Di sudut ruangan, lilin aromaterapi berbahan jelantah perlahan mengeras. Simbol kecil, namun penuh makna, tentang bagaimana perubahan bisa dimulai dari tangan-tangan muda yang mau belajar dan peduli. St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.