By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Atasi Perundungan, Perlu Reformulasi Sistem Pendidikan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Atasi Perundungan, Perlu Reformulasi Sistem Pendidikan

Last updated: 8 Maret 2020 16:13 16:13
Jatengdaily.com
Published: 6 Maret 2020 17:16
Share
Quatly Abdulkadir Alkatir. Foto: ist
SHARE

SOLO (Jatengdaily.com) – Salah satu upaya dalam menekan angka perundungan di sekolah adalah dengan memperkuat pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini bukan hanya diterapkan kepada siswa, tapi juga untuk para pendidik dan pihak sekolah.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Quatly Abdulkadir Alkatiri mengatakan hal itu di Solo , Jumat (6/3/2020). “Kita perlu mereformulasi sistem pendidikan, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan karakter yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan kepada siswa maupun pihak sekolah. Perlu juga ada upaya untuk memasukan pendidikan karakter ke kurikulum pendidikan,” terangnya.

Politikus PKS ini menyebutkan bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal yang terkecil seperti menanamkan budaya malu bila melakukan pelanggaran, menginisiasi budaya saling meminta dan memberi maaf, tidak menghardik teman-teman yang dianggap berbeda dan sebagainya.

Menurut Quatly perundungan di sekolah bisa terjadi akibat banyak faktor, seperti kurangnya perhatian dari orang tua, masalah keluarga, kurangnya pengawasan dari sekolah, maupun kentalnya budaya feoadalisme dan senioritas. Maka dari itu dapat disimpulkan, sekalipun perundungan di sekolah itu dilakukan oleh seorang individu itu tetap menjadi tanggung jawab banyak pihak termasuk keluarga.

“Keluarga berperan menjadi teladan dan sebagai pondasi penanaman nilai moral dan agama, pihak sekolah dan masyarakat sebagai pembimbing, dan pihak pemerintah sebagai regulator,” Terangnya.

Menurut Data yang dilaporkan oleh KPAI pada hari anti bulliying sedunia, tercatat 5 kasus perundungan di Jawa Tenga dan itu hanya terjadi dalam kurun waktu 4 bulan. Merespon hal ini Quatly juga menegaskan bahwa perundungan sekecil apapun merupakan indikator perlunya perbaikan sistem pendidikan untuk mencegah terjadinya kasus serupa di daerah lain.

“Jangan anggap remeh kasus sekecil apapun, kasus perundungan terhadap siswi di Purworejo pertengahan Februari kemarin menjadi bukti bahwa 1 saja tindak perundungan bisa mencoreng prestasi positif ribuan unit pendidikan di Provinsi Jawa Tengah. Dan kami khawatir perundungan ini malah dicontoh oleh siswa-siswa yang tak bertanggung jawab,” pungkasnya. yds

You Might Also Like

Waspadai Karhutla, Warga Jateng Diminta Jangan Buang Puntung Rokok Sembarangan
Nataru, Sekolah dan Kampus Diminta Tidak Meliburkan Siswa Secara Khusus
Tingkatkan Kolaborasi Negara dan Masyarakat dalam Penanganan Penyakit Langka
PPSDM Migas Asah Siswa Teori dan Praktik Lapangan
Pengeboran Sumur Kedua BUIC EMCL telah berproduksi, Berikan Tambahan Produksi Minyak 13,000 BOPD
TAGGED:menekan angka perundunganpks jatengreformulasi sistem pendidikanwakil ketua dprd jateng
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?