SEMARANG (Jatengdaily.com)- Inas Taqiyyah, mahasiswi Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI), Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip) berhasil menembus kampus internasional, melalui program pertukaran pelajar di Tunghai University, Taiwan.
Di Faculty of Engineering, Department of Chemical and Materials Engineering Tunghai University Taiwan, Inas tidak sekadar menjadi mahasiswa tamu. Ia hadir sebagai representasi kualitas vokasi Indonesia. Ia belajar dalam ekosistem akademik yang menekankan integrasi rekayasa kimia dan material, riset aplikatif, laboratorium berstandar internasional, serta konektivitas kuat dengan industri manufaktur presisi Taiwan.
Bagi Inas, menurutnya pengalaman ini menghadirkan tiga lompatan besar. Pertama, penguatan kompetensi teknologi: paparan pada green chemistry, efisiensi proses, hingga sistem produksi modern berbasis data. Kedua, pembentukan global mindset dan kecerdasan lintas budaya, belajar beradaptasi dalam ritme akademik yang disiplin, cepat, dan berbasis riset. Ketiga, jejaring internasional yang memperluas peluang riset kolaboratif maupun karier di industri multinasional.
”Mahasiswa yang mampu beradaptasi dan berprestasi di luar negeri tidak hanya membawa pengalaman pulang, mereka membawa standar performa baru,” jelasnya.
Kaprodi TRKI SV Undip, Dr. Mohamad Endy Julianto mengatakanari dari sisi institusi, langkah ini memperkuat reputasi global Sekolah Vokasi Undip. Kehadiran mahasiswa TRKI di Taiwan menjadi bukti bahwa kurikulum telah sejajar secara akademik dan relevan secara industri. Transfer knowledge terjadi dua arah: metodologi pembelajaran, praktik laboratorium modern, hingga budaya efisiensi sistem yang dapat diadaptasi di tanah air.
Program seperti ini juga membuka pintu kolaborasi jangka panjang joint research, visiting lecturer, hingga potensi double degree dan kerja sama industri Indonesia-Taiwan. Dalam lanskap Asia yang kompetitif, jejaring seperti ini adalah modal strategis.
Bagi Tunghai University, kehadiran mahasiswa Indonesia memperkaya dinamika kelas internasional sekaligus memperluas jejaring Asia Tenggara. Kolaborasi ini bukan hanya akademik, tetapi juga membuka peluang sinergi riset dan industri lintas negara.
”Di balik keberhasilan ini, terdapat standar yang tidak sederhana. Keberhasilan menembus kampus global bukan sekadar keinginan, melainkan hasil kesiapan akademik dan integrasi kurikulum,” katanya.
Mahasiswa harus memiliki IPK kuat, kompetensi bahasa internasional, kemampuan problem solving, serta literasi teknologi, mulai dari AI, data analytics, hingga automasi industri. Portofolio proyek nyata menjadi bukti bahwa mereka bukan hanya memahami teori, tetapi mampu menghasilkan output terukur.
Institusi pun harus memenuhi standar global: kurikulum berbasis outcome, fasilitas laboratorium relevan industri, serta akreditasi rekayasa seperti IABEE yang memastikan kesetaraan mutu internasional. Integrasi AI, IoT, dan digital industry bukan lagi pelengkap, melainkan inti daya saing.
Ketika mahasiswa unggul dan sistem institusi selaras, keberhasilan bukan lagi kebetulan. Ia menjadi desain strategis.
Langkah Inas Taqiyyah adalah simbol bahwa vokasi Indonesia tidak berjalan di tempat. Dari Semarang ke Taiwan, dari laboratorium lokal ke jejaring global, ia menunjukkan bahwa pendidikan vokasi mampu berdiri sejajar di panggung internasional.
”Ini bukan sekadar pertukaran pelajar. Ini adalah diplomasi akademik, transfer teknologi, dan investasi masa depan. Dan ketika satu mahasiswi melangkah, sesungguhnya sebuah institusi bahkan sebuah bangsa sedang menapaki jalur globalnya dengan penuh percaya diri,” kata Endy. she


