SEMARANG (Jatengdaily.com) – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa kental di Masjid Al Muhajirin, RW 03 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pada Minggu (29/3/2026).
Warga dari berbagai kalangan berkumpul dalam tradisi halal bihalal, saling bersalaman, bermaafan, dan mempererat tali silaturahmi usai merayakan Idulfitri 1447 H.
Salah satu yang mencuri perhatian dalam kegiatan ini adalah keberadaan Masjid Al Muhajirin yang disebut warga sebagai “masjid kereta api”.
Bentuk bangunannya yang memanjang menyerupai rangkaian gerbong kereta menjadikannya unik dan berbeda dari masjid pada umumnya.
Ketua RW 03, Hary Setiawan, menyebut masjid ini sebagai ikon kebanggaan warga.
“Kalau di tempat lain ada masjid berbentuk kapal, di Tambakaji kita punya masjid yang menyerupai kereta api. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri, bahkan layak untuk diviralkan,” ujarnya.
Menurutnya, keunikan tersebut bukan sekadar soal bentuk fisik, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan warga dalam membangun lingkungan yang kreatif dan harmonis.
Guyub Rukun, Kunci Kemajuan Lingkungan
Dalam kesempatan itu, Lurah Tambakaji, Agus Maryanto, SH, turut hadir dan memperkenalkan jajaran perangkat kelurahan kepada warga.
Delapan personel diperkenalkan secara langsung, mulai dari sekretaris kelurahan, Babinsa, hingga para kepala seksi dan tokoh lembaga kemasyarakatan seperti LPMK dan PKK.
Agus Maryanto menegaskan bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata.
“Kelurahan maju bukan karena fisiknya saja, tetapi karena warganya guyub rukun. Terima kasih atas partisipasi warga dalam memajukan Kota Semarang,” tuturnya.
Momentum ini pun menjadi sarana mempererat hubungan antara pemerintah kelurahan dan masyarakat, sehingga tercipta komunikasi yang lebih dekat dan terbuka.
Acara semakin khidmat dengan tausiyah yang disampaikan Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A. Ia mengapresiasi kehadiran lurah beserta perangkatnya yang dinilai mendekatkan pemerintah dengan masyarakat.
Dalam ceramahnya, Abdul Djamil menyoroti keunikan Masjid Al Muhajirin. “Ini mungkin nomor satu dari segi keanehannya, karena lazimnya masjid itu ukurannya ideal, tapi ini justru memanjang,” katanya disambut senyum jamaah.
Ia juga mengajak warga merenungkan makna saling memaafkan. Mengutip nilai dalam Surat Al Imran, ia menekankan pentingnya bersegera meminta maaf. Namun, kata “segera” menurutnya bersifat relatif.
“Kalau orang sakit dan tensinya tinggi, segera ke dokter itu artinya cepat sekali. Maka dalam hal memaafkan pun, sebaiknya tidak ditunda-tunda,” jelasnya.
Ia menambahkan, istilah halal bihalal memang tidak ditemukan dalam hadis, melainkan merupakan tradisi khas Indonesia yang lahir dari kreativitas budaya. Bahkan, ada yang menyebut tradisi ini mulai dikenal luas sejak era Presiden Soekarno.
Silaturahmi yang Menguatkan
Kegiatan halal bihalal ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang bertemunya hati-hati yang sempat berjauhan. Di tengah dinamika kehidupan kota, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa kekuatan utama masyarakat terletak pada kebersamaan.
Dari masjid yang unik hingga pesan-pesan kebajikan yang mengalir hangat, warga RW 03 Tambakaji menunjukkan bahwa harmoni sosial bisa tumbuh dari hal-hal sederhana: saling menyapa, saling memaafkan, dan saling menguatkan. St


