Deklarasi Pesantren Ramah Anak, Fraksi PKB Demak Sinergi Kiai Selamatkan Marwah Pondok Pesantren

4 Min Read
Para pengasuh pondok pesantren di demak berfoto bersama para narasumber Deklarasi Forum Pesantren Ramah Anak di Ponpes Miftahul Ulum Jogoloyo Demak. Foto : sari jati

DEMAK (Jatengdaily.com)– Forum Komunikasi Kiai Pesantren Demak (FK2PD) Jawa Tengah mendeklarasikan gerakan Pesantren Ramah Anak sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi dunia pesantren yang belakangan menjadi sorotan publik, Jumat (15/05/2026). Deklarasi tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Demak H Zayinul Fata, Ketua Forum Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren KH Saefullah Makhsum, jajaran ulama NU, serta para pengasuh pondok pesantren di Demak.

Ketua DPRD Kabupaten Demak H Zayinul Fata menyebut deklarasi tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar terkait transformasi pesantren dan penguatan komitmen moral. Ia mengatakan, maraknya kasus penyimpangan di sejumlah pesantren harus segera dicegah agar tidak menjadi persoalan yang semakin besar.

“Fenomena ini seperti gunung es. Kalau tidak dicegah dari sekarang bisa semakin parah. Dunia pesantren sempat seperti tertampar akibat adanya kasus perilaku menyimpang. Jangan sampai masyarakat menilai pesantren sebagai sarang kekerasan atau penyimpangan,” kata Zayinul Fata, didampingi 13 anggota Fraksi PKB DPRD Demak yang turut hadir.

Menurutnya, Demak dikenal sebagai kota santri sehingga seluruh elemen harus menjaga marwah pesantren sebagai benteng moral masyarakat. Ia juga mengajak seluruh pengasuh pondok pesantren untuk aktif mengampanyekan pesantren yang rahmatan lil alamin dan ramah terhadap anak.

Sementara itu, Ketua Forum Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren KH Saefullah Makhsum menegaskan pihaknya hadir untuk mendukung pondok pesantren yang menjalankan pendidikan secara baik dan benar. Ia berharap pesantren yang sehat tidak ikut terdampak akibat ulah segelintir oknum yang melakukan penyimpangan.

Dewan Syura NU KH Zaenal Arifin Ma’shoem menilai persoalan yang terjadi saat ini menjadi “lampu kuning” bagi dunia pesantren agar lebih mawas diri. Pengasuh Ponpes Fathul Huda Karanggawang Sayung itu menegaskan pendidikan akhlakul karimah harus benar-benar dijaga di lingkungan pesantren.

“Pesantren itu ibarat bunga. Semoga badai yang menghantam dunia pesantren segera berlalu. Hubungan pengasuh dan santri harus dijaga dengan baik agar tidak terjadi hal-hal yang merusak marwah pesantren,” ujarnya.

Ketua PCNU Demak KH Muhammad Aminudin Mas’udi turut menyoroti dampak pemberitaan negatif di media sosial terhadap kepercayaan masyarakat kepada pesantren. Ia menyebut sejumlah pondok pesantren yang selama ini berjalan baik ikut terkena imbas menurunnya jumlah pendaftaran santri.

“Kasus yang muncul itu hanya nol sekian persen dibanding ribuan pesantren yang benar-benar mendidik akhlak. Karena itu kami berharap pemberitaan tidak sepihak dan masyarakat tetap percaya kepada pesantren yang baik,” kata Aminudin.

Sementara Ketua FK2PD KH Kholilullah mengatakan, deklarasi ini lahir dari keprihatinan atas berbagai kasus yang mencoreng nama pesantren. Menurutnya, persoalan yang terjadi di satu pondok pesantren dapat berdampak pada citra seluruh pesantren. Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama agar dunia pesantren tetap menjadi tempat pendidikan akhlak dan kenyamanan bagi para santri.

“Dunia pesantren saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kalau menyangkut satu pondok pesantren, yang terkena dampaknya semua pesantren. Karena itu mari kita selamatkan bersama dunia pesantren, khususnya di Demak,” ujar KH Kholilullah.

Ia menegaskan, deklarasi Pesantren Ramah Anak menjadi komitmen bersama agar para santri mendapat perlindungan dan kasih sayang yang benar. Menurutnya, hubungan antara pengasuh dan santri harus tetap dijaga dalam batas kewajaran agar tidak menimbulkan persoalan yang merugikan semua pihak.

“Kita ingin santri merasa aman dan nyaman di pondok pesantren. Beri kasih sayang kepada anak-anak, tapi jangan sampai kebablasan. Pengelola pesantren juga harus memahami psikologi anak agar tidak terjadi kekerasan maupun pelecehan seksual,” tegasnya.rie-she

Share This Article