SEMARANG (Jatengdaily.com)- Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank, Dr Doddy Zulverdi mengatakan ketidakpastian global dan eskalasi konflik internasional memang masih membayangi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Namun demikian, kondisi ekonomi nasional hingga saat ini masih mampu menunjukkan ketahanan yang baik.
Hal itu dikatakan Dr Doddy Zulverdi saat melantik pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Semarang periode 2026–2029, Kamis (21/5/2026), di kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Adapun Ketua Terpilih ISEI Cabang Semarang Periode 2026-2029 adalah Prof Dr Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, menggantikan Prof Dr Suharnomo.
Hadir juga Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, Wakil Rektor 1 UNNES Prof Dr Zaenuri, perwakilan Bank Indonesia, dan tamu sejumlah tamu undangan.
Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan Seminar Perekonomian Jawa Tengah, bertajuk “Mendorong Perekonomuan Jateng Lebih Kuat, Merata dan Berkesinambungan melalui Sinergitas antar Pihak.”
Menurut Doddy Zulverdi, ketidakpastian eksternal tidak hanya berdampak terhadap Indonesia, tetapi juga dialami hampir seluruh negara di dunia. Meski demikian, Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang positif.
“Indonesia masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya sebesar 5,61 persen pada kuartal I tahun 2026. Angka ini bahkan melebihi ekspektasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,52 persen secara year on year (YoY), serta tingginya pertumbuhan belanja pemerintah yang mencapai 21,81 persen YoY.
Doddy Zulverdi menambahkan, kondisi perbankan nasional hingga kini juga masih resilien terhadap dampak ketidakpastian global. Hal itu terlihat dari kinerja penyaluran kredit perbankan yang tetap tumbuh optimistis.
“Kredit perbankan tumbuh mendekati 10 persen atau tepatnya 9,98 persen per April 2026, meningkat dibandingkan Maret 2026 sebesar 9,49 persen,” katanya.
Meski demikian, pihaknya tetap melakukan langkah mitigasi terhadap berbagai risiko, terutama dampak konflik global yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan stabilitas sektor keuangan nasional.
Langkah Strategis LPS
Dalam menghadapi tantangan perbankan ke depan, Doddy menjelaskan terdapat sejumlah langkah strategis yang terus dilakukan LPS.
Pertama, LPS akan terus melakukan evaluasi berkala terhadap Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) agar nasabah tetap terlindungi serta mencegah persaingan suku bunga yang tidak sehat di industri perbankan.
Kedua, LPS bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian Keuangan yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus memperkuat sistem peringatan dini atau early warning system guna memastikan persoalan bank tidak berkembang menjadi risiko sistemik.
Ketiga, LPS akan mengoptimalkan pengelolaan dana penjaminan serta melakukan berbagai langkah antisipatif lainnya untuk menjaga likuiditas dan mencegah tekanan terhadap perbankan semakin besar.
Selain itu, LPS juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai syarat penjaminan 3T. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui penyelenggaraan Finance Festival setiap tahun sejak 2025, serta berbagai kegiatan sosialisasi lainnya secara masif kepada masyarakat. she

