SEMARANG (Jatengdaily.com) – Semangat persatuan dan kepedulian sosial kembali bergema di Kota Semarang. Gerakan kemanusiaan lintas agama Bakti Indonesia 2026 resmi digelar selama tiga hari, 6–8 Agustus 2026, berpusat di situs bersejarah Kelenteng Agung Sam Poo Kong.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, aksi sosial ini menargetkan untuk melayani sekitar 5.000 warga melalui berbagai paket bantuan dan layanan gratis.
Mengusung tema “Menemukan Makna Terdalam dalam Keberagaman”, Bakti Indonesia 2026 menegaskan komitmennya untuk mengikis sekat perbedaan suku, agama, dan latar belakang sosial.
Beragam kegiatan dihadirkan untuk masyarakat, mulai dari pelayanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi psikologi, edukasi kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi warga melalui bazar UMKM.
Penggagas Bakti Indonesia, Dra. Hj. Mulia Jayaputri, MPA, menyampaikan bahwa bangsa Indonesia dipersatukan oleh kesediaan masyarakatnya untuk terus merawat perbedaan.
Oleh karena itu, Bakti Indonesia tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan wujud aksi nyata dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Pemilihan Kelenteng Agung Sam Poo Kong sebagai lokasi acara pun sarat akan makna filosofis. Tempat yang lekat dengan jejak sejarah Laksamana Cheng Ho ini menjadi simbol nyata bahwa perbedaan dapat hidup berdampingan dalam semangat saling menghormati.
”Bagi kami, Kelenteng Agung Sam Poo Kong bukan sekadar situs sejarah, melainkan metafora bagi Indonesia. Di tempat ini kita belajar bahwa meskipun manusia berbeda keyakinan, kita selalu dapat bertaut dalam kebaikan,” ujar Mulia Jayaputri.
Selama kegiatan berlangsung, masyarakat dapat mengakses ragam fasilitas kesehatan secara cuma-cuma. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan umum, uji laboratorium, rekam jantung (EKG), pemeriksaan mata dan gigi, deteksi dini kanker, hingga pembagian paket vitamin. Selain kesehatan fisik, tersedia pula layanan konsultasi psikologi bagi individu maupun keluarga, serta sesi talkshow edukatif bersama para ahli.
Mulia menjelaskan, seluruh fasilitas dapat dinikmati masyarakat secara gratis berkat kolaborasi erat lintas sektor. Berbagai pihak turut ambil bagian, mulai dari institusi kesehatan, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas sosial, pemerintah, hingga sektor swasta.
Beberapa mitra yang terlibat di antaranya Yayasan Kanker Indonesia, Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI), Sahabat Lestari, RSUP dr. Kariadi, RS Telogorejo, Universitas Jayabaya Jakarta, Universitas Padjadjaran Bandung, PT Persada Dua Rajawali, Baznas, hingga Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah.
Kemeriahan dan kehangatan acara makin terasa dengan hadirnya sejumlah tokoh publik dan figur inspiratif yang mengisi sesi talkshow, seperti Inayah Wahid, Sudjiwo Tejo, Aldi Taher, Paramitha Rusady, Sania, dan Lucky Resha. Mereka berbagi pandangan mengenai pentingnya merawat toleransi serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Sejak awal dicetuskan, Bakti Indonesia konsisten mengusung konsep kebangsaan yang unik dengan berganti lokasi di berbagai rumah ibadah. Gerakan ini dimulai di Masjid Istiqlal Jakarta pada 2023, berlanjut ke Gereja Katedral Jakarta pada 2024, Pura Agung Besakih Bali pada 2025, dan kini hadir di Kelenteng Agung Sam Poo Kong Semarang pada 2026.
Menutup keterangannya, Mulia Jayaputri menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh donatur, relawan, dan mitra kerja sama. Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, yang terus mendukung dan menginspirasi lahirnya gerakan Bakti Indonesia sejak awal mula digagas.
”Dukungan lintas sektor yang terus meluas ini menjadi bukti bahwa merawat keberagaman adalah tanggung jawab kita bersama sebagai satu bangsa,” pungkasnya. Sunarto



