Oleh: Dr. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua,
Dalam paradigma kedokteran konvensional, kesehatan sering kali direduksi menjadi ketiadaan penyakit secara fisik semata. Namun, sebagai praktisi medis yang mendalami studi Islam, saya melihat bahwa manusia merupakan entitas multidimensional yang terdiri atas jasad (biomolekuler) dan ruh (spiritual). Keduanya tidak terpisahkan, melainkan saling merespons dalam satu kesatuan sistem psikoneuroimunologi yang kompleks.
Di sinilah kekuatan profetik—yang bersumber dari teladan, ajaran, dan petunjuk para nabi dan rasul lintas peradaban—hadir sebagai pendekatan holistik. Menariknya, konsep pembatasan waktu makan yang kini dikenal secara ilmiah sebagai intermittent fasting (puasa berselang) sebenarnya telah dipraktikkan secara profetik melalui syariat puasa, baik wajib maupun sunnah. Praktik serupa juga dikenal dalam berbagai tradisi keagamaan sepanjang sejarah.
Selama lebih dari 14 abad, umat Islam menjalankan ibadah puasa, baik wajib pada bulan Ramadan maupun puasa sunnah seperti Senin-Kamis, puasa Daud, serta Ayyamul Bidh, sebagai bagian dari ketaatan spiritual. Tradisi menahan diri dari makan dan minum dalam rentang waktu tertentu bukanlah hal baru dalam sejarah kenabian. Dari tradisi para nabi terdahulu hingga syariat Nabi Muhammad SAW, puasa senantiasa menjadi salah satu metode pembinaan jiwa sekaligus pengendalian diri.
Seiring berkembangnya peradaban sains modern, kearifan profetik tentang pengendalian makan dan puasa semakin banyak dikaji dari perspektif kesehatan. Dalam perspektif Thibbun Nabawi, tubuh manusia merupakan amanah yang harus dijaga keseimbangannya. Pola makan Rasulullah SAW juga mengajarkan prinsip tidak berlebihan, sebagaimana sabda beliau bahwa cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang menegakkan punggungnya.
Secara teologis dan medis, puasa secara berkala memberikan kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat. Ketika lambung dan usus terus-menerus menerima makanan tanpa jeda yang cukup, sebagian besar aktivitas metabolik tubuh akan diarahkan pada proses pencernaan. Sebaliknya, ketika seseorang menjalankan puasa dengan pola yang tepat, tubuh mengalami perubahan metabolik yang memungkinkan penggunaan cadangan energi dan mengaktifkan sejumlah mekanisme pemeliharaan sel.
Dari sudut pandang biologi molekuler, penerapan puasa atau intermittent fasting dapat memengaruhi kadar glukosa dan insulin serta meningkatkan peran hormon glukagon dalam pengaturan metabolisme energi. Kondisi keterbatasan asupan nutrisi ini dapat menjadi stresor fisiologis ringan yang mengaktifkan master regulator seluler, antara lain enzim AMPK, sekaligus memengaruhi jalur pertumbuhan mTOR.
Aktivasi AMPK dan perubahan jalur metabolik tersebut berkaitan dengan proses autofagi, yaitu mekanisme daur ulang alami pada tingkat sel. Melalui autofagi, komponen sel yang rusak atau tidak lagi diperlukan dapat diuraikan dan didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali oleh tubuh. Mekanisme ini merupakan bagian penting dari sistem pemeliharaan dan adaptasi sel.
Dalam konteks tersebut, puasa dapat dipandang sebagai salah satu bentuk self-regulation biologis. Tubuh memiliki mekanisme internal untuk melakukan pemeliharaan, pembersihan, dan adaptasi tanpa selalu bergantung pada intervensi dari luar. Konsep inilah yang menarik untuk dikaji lebih jauh dalam kaitannya dengan terapi autologus dan pendekatan biomedis regeneratif.
Manfaat biomolekuler puasa tidak berhenti pada mekanisme autofagi. Sejumlah penelitian medis juga menunjukkan bahwa pembatasan asupan energi dan pola puasa tertentu dapat memengaruhi hormon pertumbuhan, metabolisme, sensitivitas insulin, serta berbagai jalur yang berkaitan dengan pemeliharaan sel. Pada kondisi tertentu, perubahan metabolik tersebut juga berhubungan dengan aktivitas sel punca (stem cell) dan proses regenerasi jaringan.
Di tingkat saraf, puasa juga menjadi salah satu faktor yang terus diteliti kaitannya dengan faktor neurotropik, termasuk Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berperan dalam pemeliharaan dan plastisitas sel saraf. Temuan-temuan tersebut membuka ruang kajian lebih luas mengenai hubungan antara pola makan, metabolisme, fungsi otak, dan ketahanan kognitif.
Lebih jauh lagi, dari perspektif psikoneuroimunologi, ketenangan batin atau tuma’ninah yang diperoleh melalui zikir, doa, kontemplasi, rasa syukur, serta kepatuhan menjalankan ritual puasa dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang. Pengelolaan stres yang baik berperan penting dalam menjaga keseimbangan sistem neuroendokrin dan sistem imun.
Ketika stres psikologis dapat dikelola dengan baik, respons tubuh terhadap stres juga menjadi lebih terkendali. Kondisi tersebut dapat mendukung keseimbangan sistem saraf otonom dan proses pemulihan tubuh. Dengan demikian, dimensi spiritual dan psikologis tidak berdiri sendiri, tetapi berpotensi berinteraksi dengan berbagai mekanisme biologis dalam tubuh.
Dalam kitab suci, petunjuk profetik ditegaskan sebagai syifaa sekaligus rahmat bagi umat manusia. Pendekatan holistik profetik memandang bahwa pembinaan hati, pengendalian diri, pola makan, ibadah fisik, serta pengaturan istirahat merupakan bagian yang saling berkaitan dalam membangun kehidupan yang seimbang.
Melalui konsistensi menjalankan pola pembatasan makan yang dilandasi nilai-nilai profetik, seseorang pada hakikatnya sedang menempa diri untuk menjadi pribadi yang kuat secara jasmani dan rohani. Secara fisik, pengaturan pola makan dan puasa yang tepat dapat mendukung kesehatan metabolik dan mekanisme pemeliharaan sel. Secara mental dan spiritual, puasa melatih disiplin diri, kesabaran, ketenangan jiwa (tuma’ninah), serta ketahanan emosional dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Ketika dimensi rohani dan jasmani berjalan selaras, manusia berupaya mempertahankan keseimbangan homeostasis tubuh sekaligus membangun ketenangan batin. Di titik inilah ajaran profetik dan perkembangan ilmu kedokteran dapat saling berdialog.
Apa yang telah diajarkan dan dicontohkan dalam tradisi kenabian sejak berabad-abad lalu kini menjadi bagian dari kajian ilmiah mengenai puasa, metabolisme, autofagi, regulasi hormonal, sistem imun, dan kesehatan mental. Namun, diperlukan penelitian yang terus berkembang untuk memahami secara lebih mendalam mekanisme, manfaat, batasan, serta penerapan klinisnya.
Dengan demikian, puasa tidak semata-mata dapat dipandang sebagai praktik menahan lapar dan dahaga. Ia merupakan latihan multidimensional yang menyentuh aspek spiritual, psikologis, metabolik, dan seluler. Ketika dijalankan secara tepat dan proporsional, puasa berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang mempertemukan kearifan profetik dengan perkembangan ilmu kedokteran modern.***
Dokter Spesialis Bedah, Doktor Studi Islam, dan Praktisi Biomedis Terapi Autologus



