Oleh: apt. Riza Maulana, M.Pharm.Sci.
Dosen Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
PERNAHKAH Anda mengalami batuk, pilek, atau sakit tenggorokan, lalu langsung membeli antibiotik di apotek atau menggunakan sisa antibiotik yang masih tersimpan di rumah? Kebiasaan seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya dapat menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Ancaman tersebut dikenal dengan istilah resistensi antibiotik.
Antibiotik merupakan salah satu penemuan terbesar dalam dunia kesehatan. Obat ini telah menyelamatkan jutaan nyawa dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri, seperti pneumonia, infeksi saluran kemih, hingga infeksi setelah operasi.
Namun, manfaat antibiotik hanya dapat dirasakan jika digunakan secara tepat. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap antibiotik sebagai “obat segala penyakit”. Ketika demam, batuk, pilek, atau sakit gigi muncul, antibiotik sering kali menjadi pilihan pertama tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Padahal, antibiotik tidak bekerja untuk semua penyakit. Sebagian besar batuk, pilek, dan influenza disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik hanya mampu membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri.
Mengonsumsi antibiotik untuk penyakit akibat virus sama saja seperti menggunakan kunci yang salah untuk membuka pintu. Selain tidak menyelesaikan masalah, penggunaan yang tidak tepat justru dapat menimbulkan masalah baru yang jauh lebih serius.
Masalah tersebut adalah resistensi antibiotik. Secara sederhana, resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri berubah atau bermutasi sehingga tidak lagi dapat dibunuh oleh antibiotik yang sebelumnya efektif.
Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit diobati, membutuhkan antibiotik yang lebih kuat, biaya pengobatan meningkat, waktu perawatan menjadi lebih lama, bahkan risiko kematian juga bertambah.
Bayangkan jika suatu hari antibiotik yang selama ini kita andalkan tidak lagi mempan. Luka kecil yang terinfeksi, operasi sederhana, atau proses persalinan yang biasanya aman dapat berubah menjadi kondisi yang berbahaya karena infeksi tidak lagi dapat dikendalikan.
Inilah alasan mengapa para ahli kesehatan menyebut resistensi antibiotik sebagai salah satu ancaman kesehatan global yang harus segera diatasi.
Lalu, mengapa resistensi antibiotik bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Misalnya, seseorang membeli antibiotik tanpa resep dokter karena merasa gejalanya sama seperti penyakit sebelumnya.
Ada pula yang berhenti mengonsumsi antibiotik ketika merasa sudah sembuh, padahal obat seharusnya dihabiskan sesuai anjuran. Akibatnya, sebagian bakteri memang mati, tetapi bakteri yang lebih kuat masih bertahan hidup.
Lama-kelamaan, bakteri tersebut berkembang biak dan menjadi kebal terhadap antibiotik.
Setiap infeksi juga memiliki penyebab yang berbeda sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula. Sayangnya, masih banyak anggapan keliru yang beredar di masyarakat.
Salah satunya adalah keyakinan bahwa antibiotik dapat mempercepat penyembuhan semua jenis demam. Faktanya, demam hanyalah gejala, bukan penyakit.
Penyebabnya bisa berupa virus, bakteri, atau kondisi lainnya. Oleh karena itu, penggunaan antibiotik harus didasarkan pada diagnosis yang tepat, bukan sekadar berdasarkan gejala.
Peran masyarakat menjadi sangat penting dalam mencegah resistensi antibiotik. Langkah yang dapat dilakukan adalah tidak membeli antibiotik secara sembarangan.
Antibiotik sebaiknya hanya digunakan atas anjuran dokter atau tenaga kesehatan yang berwenang setelah mempertimbangkan kondisi pasien.
Jika dokter memang meresepkan antibiotik, obat harus diminum sesuai dosis, waktu, dan lama penggunaan yang telah ditentukan, meskipun gejala sudah membaik sebelum obat habis.
Selain itu, masyarakat juga perlu membiasakan diri untuk tidak menyimpan sisa antibiotik atau memberikannya kepada orang lain. Obat yang cocok untuk satu orang belum tentu sesuai untuk orang lain, bahkan jika gejalanya tampak mirip.
Menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan dapat menutupi gejala penyakit yang sebenarnya dan memperburuk kondisi pasien.
Di sisi lain, apoteker memiliki peran yang tidak kalah penting. Apoteker bukan hanya bertugas menyerahkan obat, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara penggunaan antibiotik yang benar, kemungkinan efek samping, serta pentingnya menghabiskan obat sesuai aturan.
Konsultasi dengan apoteker dapat membantu masyarakat memahami kapan antibiotik memang diperlukan dan kapan sebaiknya tidak digunakan.
Antibiotik adalah sumber daya yang sangat berharga. Jika digunakan secara bijaksana, obat ini akan terus menjadi penyelamat bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Sebaliknya, jika terus disalahgunakan, kita berisiko kembali ke masa ketika infeksi bakteri yang sederhana pun sulit diobati.
Oleh karena itu, mari kita gunakan antibiotik secara cerdas dan bertanggung jawab. Menjaga efektivitas antibiotik hari ini berarti menjaga harapan hidup yang lebih sehat bagi masa depan. Jatengdaily.com



