SEMARANG (Jatengdaily.com) —Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang menggelar kegiatan Forum Komunikasi Publik (FKP) Tahun 2026 di aula Kankemenag Kota Semarang, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, H. Muhtasit, S.Ag., M.Pd.
Mengusung angle utama “Layanan Unggulan Kemenag Kota Semarang Hadir untuk Masyarakat”, forum ini menjadi wadah strategis public hearing guna menjaring aspirasi serta mengevaluasi kualitas layanan publik bersama lintas sektoral dan lembaga keagamaan.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran internal Kemenag serta berbagai elemen masyarakat, mulai dari Ketua BAZNAS Kota Semarang, perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pimpinan Daerah Muhammadiyah, DPD LDII, Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP), pimpinan pondok pesantren, kepala KUA dan madrasah se-Kota Semarang, kelompok kerja penyuluh dan pengawas, tokoh lintas agama, perwakilan pengguna layanan, hingga insan media massa.
Kemenag sebagai “Playmaker” Layanan Publik Lintas Keagamaan
Dalam arahannya saat membuka acara, H. Muhtasit, S.Ag., M.Pd. menegaskan bahwa Forum Komunikasi Publik ini merupakan wujud nyata komitmen Kemenag dalam menghadirkan ruang dengar pendapat yang inklusif.
Menurutnya, seluruh lembaga keagamaan dan elemen masyarakat dapat berperan aktif memberikan masukan demi kemajuan kualitas pelayanan keagamaan di Kota Semarang.
”Kementerian Agama diharapkan dapat kolaboratif dengan lembaga-lembaga keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, LDII, dan lembaga lainnya. Kemenag harus menjadi semacam playmaker bagi layanan publik lintas keagamaan,” ujar Muhtasit di hadapan para peserta.
Ia memaparkan bahwa sembilan satuan kerja (satker) di bawah Kemenag Kota Semarang—mulai dari Pendidikan Madrasah, Zakat-Wakaf, Bimbingan Masyarakat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, hingga Buddha dan Konghucu—mengelola 71 jenis layanan publik. Dari total tersebut, komitmen percepatan birokrasi terus digenjot di mana 74,6% layanan (sebanyak 53 layanan) ditargetkan selesai dalam waktu maksimal 3 Hari Kerja (HK).
Paparan Materi FKP: Standardisasi 71 Layanan hingga Evaluasi Bot “SALAMAN”
Materi teknis pelaksanaan FKP 2026 disampaikan secara mendalam oleh Kepala Subbagian (Kasubbag) Tata Usaha Kankemenag Kota Semarang, Dony Aldise Harahap, S.Kom., M.AP. Dalam pemaparannya, dia mejelaskan detail tata kelola 71 jenis layanan keagamaan di 9 satuan kerja, di mana Bimas Islam dan KUA mengelola porsi terbesar yaitu 24 layanan (33,8%).
Dony Aldise Harahap juga menyoroti performa inovasi SALAMAN (Sistem Digital Layanan Aktif) berbasis WhatsApp Bot 24 Jam. Sepanjang periode April–Oktober 2026, sistem ini telah memproses 869 total permohonan dan aduan masyarakat.
Guna memperkuat jangkauan aplikasi digital ini, Kemenag berkomitmen melakukan sosialisasi rutin menggunakan QR Code di KUA dan madrasah serta menggenjot pengenalan layanan ke komunitas-komunitas keagamaan.
Selain itu, dipaparkan pula Maklumat Pelayanan yang memuat 5 janji utama pelayanan kepada masyarakat:
- Memberikan tanda terima berkas secara resmi.
- Memberitahu dan menjelaskan kekurangan berkas secara transparan.
- Menanggapi aduan masyarakat maksimal dalam 3 Hari Kerja (dan tuntas maksimal 14 HK untuk layanan berstandar khusus).
- Bebas biaya tambahan, kecuali biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang resmi.
- Menjamin keamanan dan kerahasiaan data pribadi masyarakat.
Sinergi Nyata: Program Klangenan hingga Penguatan Kota Harmoni
Selain fokus pada administrasi perkantoran dan keagamaan, Kemenag Kota Semarang turut memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kota Semarang melalui berbagai program lintas sektoral. Salah satunya adalah program Klangenan (Kemenag Peduli Pangan dan Lingkungan) yang ke depan akan dikembangkan menjadi konsep Eco-Agro-Teologi.
Program ini dirancang untuk menggerakkan kepedulian lingkungan di tingkat rukun tetangga (RT)—khususnya di kawasan dataran tinggi Kota Semarang seperti Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, hingga Tembalang—melalui pembuatan sumur resapan air hujan guna membantu menjaga pasokan air bawah tanah dan mitigasi lingkungan.
Di bidang kerukunan umat beragama, kolaborasi erat dengan Pemkot Semarang, Kesbangpol, dan FKUB berhasil mengantarkan Kota Semarang sebagai salah satu kota dengan indeks toleransi dan keharmonisan sosial yang sangat baik di Indonesia.
”Semua ini kita lakukan all-out tanpa kenal lelah demi memastikan kehadiran negara melalui layanan keagamaan yang cepat, ramah, berkeadilan, dan bermartabat bagi masyarakat Kota Semarang,” pungkas H. Muhtasit, S.Ag., M.Pd. st



