SEMARANG (Jatengdaily.com)- Sebanyak 77 tenaga kesehatan (nakes) di RSUD dr Soehadi Prijonegoro, Sragen positif terpapar Covid-19. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sudah menyiapkan tim untuk melakukan rescue atas kasus outbreak.
“Nanti kami bantu me-rescue. Kami sudah menyiapkan tim untuk itu,” kata Ganjar Pranowo, Rabu (9/9/2020).
Kejadian outbreak di tempat layanan kesehatan menurut Ganjar sudah diantisipasi sejak lama. Bahkan, dirinya sudah membuat tim pendamping yang bertugas mengevaluasi dan mereview rumah sakit, puskesmas serta laboratorium untuk mengantisipasi kejadian itu.
“Kita butuh kerjasama dari semuanya. Maka kita harus betul-betul menjaga ini dengan baik. Saya minta di kantor-kantor khususnya tempat kesehatan, semuanya tolong direview, tolong disiapkan dengan matang dan SOP yang sangat ketat agar ini tidak terjadi lagi,” jelasnya.
Apabila memang ada yang belum siap atau belum lengkap dari sisi sarana prasarana, SOP, SDM hingga peralatan, pihak pengelola layanan kesehatan diminta memberitahukan kepada pemerintah. Sebab kalau tidak, akan sangat berbahaya jika sampai terjadi outbreak semacam ini.
“Kalau outbreak itu terjadi di rumah sakit atau layanan kesehatan, dan yang terkena adalah tenaga kesehatannya, bahaya. Mereka ini benteng pertahanan yang terakhir, itu yang kita takutkan,” jelasnya.
Terkait penutupan poliklinik di RSUD Sragen akibat kasus itu, dia akan mencarikan solusinya. Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat harus tetap disediakan.
“Bisa saja nanti dialihkan yang terdekat, apakah dialihkan atau tetap di sana dengan melakukan pembersihan dan menggantikan SDM nya. Yang jelas ini mesti dibantu, agar semuanya bisa berjalan baik,” tutupnya.
Sementara itu pakar Epidemiologi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Dr dr Suharyo Hadisaputro SpPD KPTI mengatakan penularan virus kepada sejumlah tenaga kesehatan biasanya terjadi saat melepas pakaian alat pelindung diri (APD) di ruang bersalin.
“Ada kemungkinan, mereka melepas APD di tempat bersalin terlalu ceroboh. Mestinya di tempatkan yang sudah disediakan. Jadi pemicu penularannya banyak di sekitar ruang ganti APD,” kata Prof Suharyo Hadisaputro.
Selain itu tenaga kesehatan sebagai garda terdepan penanganan covid-19, mereka terlalu kelelahan menangani pasien. Akibatnya makan kurang diperhatikan.
“Mereka ini kerja pakai APD membuat sukar makan, jadi stres ngatasi pasien, kurang tidur. Itu yang bikin dugaan tenaga kesehatan terpapar,” ungkapnya.
Menyusul kondisi ini, akibatnya, pihak rumah sakit memutuskan menutup 14 poliklinik yang ada, hingga hasil seluruh hasil swab pegawai keluar. adri-she


