Loading ...

New Normal, Wisata Alam Jadi Alternatif Sektor Pariwisata Untuk Bangkit

0
1111diskusi

Diskusi Prime Topic bertajuk Mengembangkan paradigma pariwisata, Kamis (17/9/2012), bertempat di Red Rabbit Resto, Semarang. Foto: she

SEMARANG (Jatengdaily.com) –Pandemi Covid-19 berdampak besar pada sektor pariwisata di Tanah Air termasuk Jateng. Sekretaris Komisi B DPRD Jateng Muhammad Ngainirrichadl mengatakan, memang dengan adanya Covid-19 kondisi pariwisata di Jateng terkaget-kaget, khususnya bagi para pelaku usaha di bidang ini pendapatannya turun drastis.

Dampaknya juga pada masyarakat, diantaranya pedagang di sekitar objek wisata dan tour travel. ”Dampaknya menjadikan kita berupaya di masa new normal ini untuk membuka kembali peluang pariwisata dengan konsep baru. Konsep itu, yang semula refresing saja, kini dengan memasukkan wisata keselamatan. Juga wisata edukasi.

Demikian dikatakan olehnya, dalam diskusi Prime Topic bertajuk Mengembangkan paradigma pariwisata, Kamis (17/9/2012), bertempat di Red Rabbit Resto, Semarang.

Hal sama dikatakan oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jateng, Sinoeng N Rachmadi. Menurutnya, pariwisata di era new normal ini, harus ada upaya bagaimana mengembangkan sektor ini dengan mengatasi krisis kecemasan dan kepercayaan masyarakat.

”Para pelaku pariwisata (pengelola objek wisata) harus menghilangkan kecemasan, dengan memberi rasa percaya dan nyaman saat masyarakat berkunjung. Diantaranya, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, menyemprot dengan disinfektan lingkungan, dan selalu menerapkan kebersihan. Juga aman dan tidak uyel-uyelan. Para pengelola tempat wisata harus bisa merespon dengan cepat itu,” jelasnya.

Saat ini menurutnya, harus ada new style (gaya baru), yakni dengan wisata alam (open space). Sebab, konsep wisata di alam terbuka lebih aman, ketimbang di tempat yang tertutup. Sedangkan strategi yang tepat membuat perencanaan di sektor pariwisata dengan cara lintas sektor. ”Pariwisata bisa bangkit dengan kolaborasi dan sinergi,” jelasnya.

Contoh terobosan itu adalah dengan membuka wisata-wisata lokal dengan harga terjangkau masyarakat. ”Ini melibatkan lintas sektor bagaimana mengembangkan pariwisata bukan senang semata, tapi tentang edukasi misalnya wisata petik kopi, reli wisata dan lainnya. Juga penerapan untuk hidup sehat dan menerapkan protokol kesehatan pastinya,” jelasnya.

Saat ini dari 690 obejk wisata di Jateng katanya, sudah ada sebanyak 424 yang sudah buka dan 56 sedang simulasi ijin buka kembali. Simulasi penting, oleh karenanya tempat wisata yang akan buka kembali harus simulasi dulu, bahwa destinasi itu aman, dan juga di publish dengan kekuatan sosial media.

Intinya, dalam perkembangannya new normal, butuh peran edukasi bagaimana semua pihak berperan .

Sementara itu, Eko Suseno HRM, Dosen FEB UKSW Salatiga mengatakan, era newa normal memunculkan Kreativitas di masyarakat. ”Kita jangan terjebak, tapi buka paradigma baru untuk survival. Saat ini, jika masyarakat ingin berlibur atau piknik kalau belum bisa ke luar kota, maka destinasi wisata lokal menjadi jujukan yang tepat. Pelakunya untuk menyiapkan tempat wisata yang aman dan nyaman untuk mengatasi krisis kecemasan dan kepercayaan,” jelasnya. she

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *