Oleh : Danisworo, SSi MSi
Fungsional Statistisi di Badan Pusat Statistik
KONDISI musim panen raya padi sedang berlangsung di Provinsi Jawa Tengah untuk beberapa waktu terakhir ini, bahkan di wilayah tertentu ada yang sudah selesai panen. Permasalahan klasik kembali muncul seiring dengan datangnya musim panen ini, yaitu anjloknya harga gabah di tingkat petani.
Dilansir oleh media, ada di kabupaten tertentu, harga gabah kering panen tercatat Rp 340 ribu sampai Rp 370 ribu rupiah per kuintalnya, yang berada jauh di harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) yang ditetapkan pemerintah sesuai SK Kemendag no 24 tahun 2020 Rp 4.200 per kilogram di tingkat petani.
Fenomena ini didukung dengan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) terkait dengan turunnya Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Februari, di Provinsi Jawa Tengah turun 0,60 persen dan di tingkat nasional mengalami penurunan 0,15 persen. Jika diamati lebih dalam lagi untuk melihat komponen pendukungnya, NTP di sektor tanaman pangan di Provinsi Jawa Tengah turun 1,97 persen dengan indeks yang diterima petani padi turun 2,01 persen dibanding bulan sebelumnya.
Berarti hasil pertanian tanaman padi yang dihasilkan dari penjualan produksi hasil pertanian tanaman padi mengalami penurunan. Di sisi lain biaya pengeluaran para petani tanaman pangan ini mengalami peningkatan, dengan tercatatnya konsumsi rumah tangga tani (inflasi pedesaan) sebesar 0,42 persen dan konsumsi untuk biaya produksi pertaniannya juga meningkat 0,58 persen.
Dari informasi tersebut dapat kita rasakan kondisi dilematis para petani padi, sukacita panen raya membawa efek yang tidak begitu menguntungkan mereka dan berulang di setiap musimnya. Data terbaru rilisan BPS yang masih terkait dengan sektor pertanian adalah, tentang menurunnya luas panen padi selama tahun 2020 sebesar 0,69 persen dibanding tahun sebelumnya dengan jumlah produksi gabah kering giling yang juga mengalami penurunan 0,17 juta ton atau 1,72 persen di Provinsi Jawa Tengah.
Gambaran data di atas memberikan kekhawatiran tentang menurunnya gairah masyarakat untuk bergerak di sektor pertanian, yang masih menjadi salah satu sektor andalan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah.
Ironi
Adalah menjadi sebuah ironi di tengah berbagai usaha yang digencarkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui dinas instansi terkait untuk mengatasi anjloknya harga gabah di musim panen dengan realita bahwa kondisi ini selalu berulang setiap periodenya.
Peningkatan proses penyerapan gabah yang dilakukan pemerintah untuk cadangan beras nasional masih belum sepenuhnya menutup masalah.
Tidak bisa dipungkiri tingginya supply di masa panen raya sedikit menyulitkan solusi yang sudah diambil ini, meskipun dibatasi agar harganya tidak berada di bawah HPP yang sudah ditetapkan pemerintah. Bayang-bayang berita akan datangnya beras impor di tengah kondisi puncak panen makin menempatkan petani padi pada posisi yang sulit, meskipun kepastian informasi tentang impor beras masih terus dipertimbangkan.
Pada akhirnya, harus dicari solusi bersama tentang nasib petani padi ini di saat panen raya. Jangan sampai kegembiraan keberhasilan panen luruh dengan serta merta pada saat dihadapkan dengan harga jual yang tidak seperti harapan mereka, sementara beban yang harus dipenuhi tidak memungkinkan berkurang dari sisi pengeluaran rumah tangganya, maupun pengeluaran sebagai biaya produksi proses usaha pertanian.
Perlu menjadi pemahaman bersama bahwa petani terutama petani tanaman pangan menjadi bagian masyarakat yang tidak bisa terpisahkan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan yang sedang digencarkan gaungnya. Posisi mereka yang cenderung lemah, berakibat rentan masuk dalam kategori penduduk miskin dan juga tergambarkan sebagai golongan yang minim tingkat kesejahteraannya.
Jangan biarkan mereka menyesali pilihan hidupnya atau bahkan tanpa kuasa bisa memilih, untuk bergerak di sektor pertanian. Jatengdaily.com-yds
0



