By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Selamatkan Lingkungan, Mahasiswa UPGRIS Sulap Limbah Kulit Buah jadi Desinfektan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Selamatkan Lingkungan, Mahasiswa UPGRIS Sulap Limbah Kulit Buah jadi Desinfektan

Last updated: 13 Agustus 2021 21:21 21:21
Jatengdaily.com
Published: 13 Agustus 2021 21:17
Share
Para mahasiswa UPGRIS mengolah limbah kulit buah menjadi produk Freshener Ecos Air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Foto:ist
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Masa Pandemi tampaknya bukan menjadi penghalang bagi generasi milenial untuk terus berinovasi dan berkreasi. Selama ini, limbah kulit buah hanya dibuang menjadi sampah dan belum dimanfaatkan. Bahkan limbah kulit buah yang terbuang tersebut, jika tidak dikelola dengan baik, makin lama akan berdampak negatif bagi lingkungan, misalnya menebarkan bau tak sedap.

Awalnya para mahasiswa ini merasa prihatin saat melihat banyak limbah kulit buah di wilayah Kelurahan Karangtempel dan Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur. Di wilayah ini memang terdapat sejumlah outlet yang menjajakan jus buah. Maka tak mengherankan jika di tempat tersebut banyak menghasilkan limbah, khususnya limbah dari kulit buah dari usaha tersebut.

Seorarng mahasiswi UPGRIS menenteng produk Ecos Air dari bahan limbah kulit buah yang bisa digunakan sebagai pengharum ruangan.Foto:ist

Hal tersebut mendorong tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), untuk melakukan kegiatan dalam mengelola limbah kulit buah tersebut, salah satunya adalah dengan pembuatan Eco-enzym, yakni larutan zat organik kompleks diproduksi dari hasil fermentasi limbah organik, yang kaya manfaat.
Kegiatan PKM-K oleh tim PKM-K UPGRIS tersebut diketuai Eka Nurafina, beranggotakan Alifia Hasna Azzah Fillah, Handini, dan Sekar Dian Pawestri, dibawah bimbingan Dr. Ling. Maria Ulfah, S.Si., M.Pd.

“Pemanfaatan kulit buah ini, memiliki tujuan untuk memproduksi Ecos Air, yakni produk air freshener atau pengharum udara, dengan bahan dari essensial oil yang berbasis eco enzyme. Nantinya selain dapat mengurangi pencemaran limbah kulit buah yang terbuang sia sia, ini juga bisa menjadi peluang usaha dari penjualan Ecos Air,” papar ketua tim PKM-K UPGRIS Eka Nurafina di Semarang, Jumat (13/8/2021).

Dijelaskan, hasil dari olahan eco enzyme ini dibuat menjadi produk pengharum ruangan atau Air Freshener yang ramah lingkungan. “Banyak sekali manfaat yang diperoleh yaitu produk ini dapat membunuh kuman, bakteri dan virus karena mengandung asam asetat dan beberapa enzim seperti enzim lipase, tripsin dan amylase serta dapat  menghilangkan bau asap rokok,” lanjutnya.

Selain itu, keunggulan dari produk Ecos Air sebagai air freshener alami yaitu produk ini dibuat dengan mengacu pada metode ilmiah dan dasar penelitian.
“Selain itu, mudah diproduksi karena bahan-bahan yang diperlukan dapat diperoleh dari lingkungan masyarakat, tidak berbahaya dan ramah lingkungan, mudah dan praktis karena dapat diaplikasikan kapanpun dan dimanapun, dan memiliki harga yang terjangkau,” tambahnya.

Dijelaskan, untuk membuatnya pun terbilang cukup mudah hanya memerlukan bahan-bahan seperti sisa kulit buah yang masih segar (jeruk, apel, dan lain-lain), air, gula aren dan aromatic atau essensial oil (coffe, peppermint, lavender, green tea atau jeruk). Sedangkan untuk alatnya ada pisau, toples besar berbahan plastik, baskom, sendok makan, timbangan digital, saringan, corong, botol kaca, alat pengukur pH dan spidol.

“Proses pembuatan eco enzyme dilakukan dengan empat tahap. Proses tersebut diawali dengan menambahkkan 10 bagian air kedalam toples yang terbuat dari plastik atau isi 60% air dari isi toples. Jika volume wadah 10 liter maka isi air maksimal 6 liter. Kemudian menambahkan 1 bagian gula aren (10% dari jumlah air) atau sekitar 600 gram,” terang anggota yang lain, Alifia Hasna.

Kemudian, masukkan sisa kulit buah- buahan yang masih segar hingga mencapai 80%  wadah toples 10 liter yaitu sekitar 1800 gram. “Aduk rata semua bahan hingga tercampur. Setelah itu toples ditutup, dan diberi tanggal pembuatan. Dalam proses fermentasi ini membutuhkan waktu selama 3 bulan.  Jangan lupa buka tutup toples, setiap hari untuk mengeluarkan gas selama 1 bulan pertama. Setelah dibuka tentu ditutup kembali,” lanjutnya.

Setelah eco enzyme sudah siap, dilanjutkan proses pembuatan essensial oil berbasis eco enzyme  menjadi air freshener. Larutan essensial oil berbasis Eco Enzyme yang sudah jadi, cukup ditambahkan air dengan perbandingan 1 : 1000 yaitu 1 ml larutan eco enzyme dicampurkan, kedalam 1000 ml air atau 0,5 ml larutan eco enzyme mencampurkan kedalam 500 ml air .

“Masukkan larutan tersebut, kedalam botol semprot menggunakan pipet plastic, untuk membersihkan udara dari kuman dan bakteri serta dapat menghilangkan bau,” lanjutnya.
Pada saat fermentasi berusia dua bulan menambahkan 10% bahan aromatic (coffee, peppermint, lavender, green tea atau jeruk) ke dalam larutan Eco Enzyme melalui bantuan alat ataupun diaduk manual lalu fermentasi kembali selama 1 bulan.

Setelah 3 bulan larutan eco enzyme siap dipanen, dengan cara disaring sehingga limbah organik yang tersisa tersaring. Larutan ini, yang nantinya digunakan sebagai bahan pengharum ruangan.

“Sebelum di panen pada hari ke 90 melakukan pengukuran pH terlebih dahulu pada Eco Enzyme guna memastikan kestandaran hasil fermentasi yang baik. Eco enzyme yang baik mengandung pH dibawah 4.0 dan memiliki aroma asam segar khas fermentasi,” tandasnya.
Sementara, dosen pembimbing tim PKM-K UPGRIS, Dr. Ling. Maria Ulfah, S.Si., M.Pd, menjelaskan tim PKM-K Ecos Air yang menciptakan pengharum ruangan dari limbah kulit buah ini, didanai Rp 9 juta oleh Kemdikbud.

“Mereka berhasil menciptakan inovasi terbaru, selain menjaga kelestarian lingkungan, produk Freshener Ecos Air, diciptakan dengan inovasi desain kemasan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Selain sebagai pengharum ruangan, Ecos Air memiliki keunggulan yang cukup banyak. Seperti dapat digunakan sebagai disinfektan, pembersih barang-barang dan lain sebagainya. Karena produk ini dapat menghilangkan bakteri dan kuman serta lebih ramah lingkungan,” terangnya.

Di lain sisi, mengingat kondisi masih pandemi, pengenalan dan pemasaran produk Ecos Air masih terkendala. “Saat ini, penjualan dilakukan melalui pemasaran online seperti WhatsApp, Instagram, Shopee, dan Facebook. Dan jika pandemi sudah berakhir, kedepannya pemasaran produk Ecos Air ini akan diperluas promosi dan penjualannya agar dapat dikenal oleh masyarakat,” pungkasnya. st

You Might Also Like

Raih Approval Rating SLI Tinggi, Bukti Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat Semen Gresik
Food & Hospitality Indonesia 2025 Dipadati oleh 41 Ribu Pengunjung dari 48 Negara
Nurul Qomar Mulai Jalani Sidang Dugaan Pemalsuan Dokumen Ijazah
47 Korban Tanah Longsor Natuna Masih Hilang
Respons Aduan Pekerja, Mbak Ita Dorong Pengusaha Segera Selesaikan Kewajiban Bayar THR
TAGGED:Limbah kulit buahMahasiswa UPGRISSelamatkan lingkunganSulap Kuliat Buah jadi Desinfektan
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?