Grebeg Besar Demak Identik Jamasan Pusaka Sunan Kalijaga

3 Min Read
Kirab tumpeng sembilan dari Pendapa Kabupaten ke serambi Masjid Agung Demak, yang berkahnya juga senantiasa dinanti masyarakat pada gelaran Grebeg Besar Demak. Foto: sari

DEMAK (Jatengdaily.com) – Tradisi budaya Grebeg Besar Demak digelar, Minggu (10/7/2022) setelah sempat vakum dua tahun akibat pandemi COVID-19. Masyuarakat pun tumpah ruah memarakkan kegiatan budaya tahunan di Demak tersebut.

Grebeg Besar Demak merupakan tradisi yang identik dengan jamasan pusaka warisan Sunan Kalijaga itu. Dalam perhelatan ini diawali kirab tumpeng sembilan dari pendapa kabupaten ke serambi Masjid Agung Demak, serta ancakan di Kasepuhan Kadilangu pada ba’da Isya 9 Dzulhijah pada Sabtu (9/7/2022) malam.

Seperti halnya prosesi-prosesi terdahulu, dua kegiatan tersebut selalu dipadati masyarakat yang berharap (ngalap) berkah. Baik tumpeng sembilan maupun ancakan pun ludes alam sekejap menjadi rayahan massa yang hadir dengan maksud dan keyakinan masing-masing.

Prajurit patang-puluhan pengawal Bupati Demak menuju Kadilangu sebagai rangkaian prosesi Grebeg Besar Demak. Foto: sari

Hari berikutnya Minggu (10/7/2022), tepatnya setelah Sholat Idul Adha, Bupati dr Hj Eisti’anah berserta suami, dr H Muh Zaky Maardi didampingi pejabat Forkompimda dan kepala dinas instansi berkumpul di Pendapa Satya Bhakti Praja. Sambil bersiap menuju Kadilangu, dalam bahasa Jawa Bupati mengutus Manggala Tamtama yang diperankan Camat Bonang Haris M Ridwan membawa sekar setaman atau bunga rampai untuk ziarah makam Sunan Kalijaga.

Setelah menyerahkan bunga, Bupati Eisti’anah berserta suami berkendara kereta kencana menuju Kadilangu. Perjalanan mereka bersama pejabat Forkompimda Kabupaten Demak juga segenap kepala dinas instansi itu dikawal prajurit patang-puluhan. Mereka berjalan tegap dalam busana tradisional, lengkap dengan tombak dan tameng, serta iringan tabuh genderang penyemangat.

Demi menghibur masyarakat yang dua tahun sudah libur dari kegiatan massal karena covid-19, selain prajurit patang-puluhan, ditampilkan pula kesenian barongan dari Bonang. Sebagai wujud keguyuban sekaligus menjaga kelestarian tradisi, para seniman yang terlibat bahkan tak hanya usia dewasa, namun juga kelompok usia anak dan remaja baik putera maupun puteri.

Bupati Demak dr Hj Eisti’anah saat menyerahkan sekar setaman atau bunga rampai untuk nyekar makam Sunan Kalijaga di Kadilangu kepada Manggala Tamtama, sebagai rangkaian tradisi Gerebeg Besar Demak 2022. Foto: sari

Mengenai tradisi budaya Grebeg Besar Demak, Bupati Eisti’anah berusaha selalu melestarikannya. Sebagai bentuk bakti pada orang tua sesepuh para pendahulu. Bahkan kepada kaum milenial pun senantiasa wanti-wanti agar tidak menjadi ‘kacang lali lanjarane’.

“Kita bisa hidup guyub makmur di Kabupaten Demak sekarang ini karena jasa perjuangan para leluhur pendahulu kita. Demak dikenal sebagai Kota Wali juga karena keberadaan Wali Sanga khususnya Sunan Kalijaga dan Sultan Fatah yang menyebarkan Islam pertama kali di pulau Jawa lewat akulturasi budaya. Jika bukan kita yang nguri-uri, siapa lagi?” tuturnya.

Bupati mengingatkan, agar masyarakat yang hadir di keramaian Pasar Rakyat Grebeg Besar Demak senantiasa menjaga protokol kesehatan. “Ingat, bergembira jalan-jalan di Bersanan boleh aja. Tapi pandemi corona belum hilang 100 persen. Mari berupaya menjaga keselamatan keluarga kita dan Kota Wali dengan senantiasa melaksanakan prokes,” tandasnya. rie-yds

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.