By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Politik Uang Masih Warnai Pemilu 2019
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Politik Uang Masih Warnai Pemilu 2019

Last updated: 28 Juli 2019 09:23 09:23
Jatengdaily.com
Published: 27 Juli 2019 22:56
Share
Program Studi Magister (S2) Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Unissula, menggelar Seminar nasional evaluasi penyelenggaraan pemilu serentak 2019. Foto: she
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Tidak bisa dipungkiri, pelaksanaan Pemilu 2019, masih menyisakan banyak laporan terkait tindak pidana pemilu dan sejumlah sengketa lain. Yang tak kalah banyak, juga adanya politik uang yang mewarnai Pemilu 2019.

”Politik uang tidak bisa dipungkiri masih mewarnai pelaksanaan pemilu. Hal ini terkait sosio kultural yang ada di masyarakat yang harus dirubah. Masyarakat didorong agar mau bersama-sama menolak politik uang, dalam pemilu-pemilu ke depan,” jelas Ketua Bawaslu Abhan Misbah SH MH, Sabtu (27/7/2019).

Dia mengatakan hal itu dalam Seminar nasional evaluasi penyelenggaraan pemilu serentak 2019, yang digelar oleh Program Studi Magister (S2) Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Unissula, di kampus Jalan Kaligawe.

Menurutnya, masyarakat harus disadarkan, bahwa politik uang tidak benar. Sebab, itu merupakan embrio dari korupsi. Begitu juga bakal calon, juga jangan bermain uang dalam menggiring masyarakat untuk memilihnya.

”Masyarakat harus pandai pilih wakil rakyat yang baik dan jujur. Kalau tidak, maka justru akan terpilih pemimpin yang korupsi,” jelasnya.

Hal ini seperti fenomena saat ini, begitu tidak sedikitnya para pejabat dan pemimpin daerah yang tertangkap KPK. Hal ini terjadi, karena mereka yang terpilih, akan mencari ‘uang balik’ sebagai ganti saat mereka nyaleg, dan menggunakan cara-cara politik uang, untuk menjaring pemilih.

Abhan menambahkan, pemilu tahun 2019 merupakan pemilu pertama kali dalam sejarah Indonesia modern yang dilakukan secara serentak. Yakni antara pemilihan presiden, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten dan kota. Bahkan pemilu ini, paling rumit.

Seminar nasional ini juga menghadirkan peneliti politik perkumpulan untuk pemilu dan demokrasi (Perludem), Heroik M Pratama dan akademisi Dr Sri Kusriyah SH MHum dan dibuka Ketua Prodi S2 Ilmu Hukum, Dr Umar Ma’ruf SH SpN.

Heroik M Pratama mengatakan, Pemilu 2019 butuh perbaikan untuk pemilu ke depan. Sebab, diantaranya, serentak dengan lima suara tidak mampu menjadi tujuan efektivitas dan efisiensi termasuk kemudahan pemilih dalam menentukan pilihan. she

You Might Also Like

Jaring Aspirasi Kalangan Ulama, Anggota DPD RI Abdul Kholik Silaturahmi ke MAJT
Hewan Kurban Harus Dilengkapi Surat Sehat dari Dokter
PT BPR BKK Demak (Perseroda) Terbaik Ketiga Se-Jateng
Pusat Pelatihan Paralimpiade di Karanganyar Mulai Dibangun
Positif Covid-19, BCL Jalani Isolasi Mandiri
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?