DEMAK (Jatengdaily.com) – Berdasarkan hasil penjaringan kesehatan anak sekolah ditemukan beberapa permasalahan kesehatan. Selain persoalan kesehatan gigi pada anak-anak, gizi kurang juga terpantau pada kelompok remaja.
Pada Rapat Koordinasi dan Evaluasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sekolah/Madrasah, Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Demak Sri Pudji Astuti menyampaikan, mengenai gizi kurang dari 11.400 siswa SMP/MTs ditemukan 808 kasus. Sementara tingkat SMA/MA/SMK dari 16.840 siswa ditemukan 434 kasus.
“Kenapa banyak kasus gizi bermasalah pada kelompok remaja? Karena banyak faktor. Sumbang sih terbesar dari pola perilaku atau kebiasaan. Sedangkan karena faktor lingkungan sekitar 40 persen,” ujarnya, didampingi Sub Koordinator Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Indanaa Luthfiani, Selasa (20/9).
Sehubungan sebagian besar hidup anak sekolah ada di sekolah, maka ada baiknya pihak sekolah memahami. Upaya pencegahan disarankan melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“PHBS intinya memberikan pemahaman masyarakat berlaku mandiri hidup bersih dan sehat. Sedangkan mengenai PHBS sekolah, pealsanaannya melibatkan tim pembina UKS, komitmen guru, warga sekolah dan orang tua murid. Dengan guyub rukun tersebut diharapkan PHBS sekolah tercapai,” imbuhnya.
Ketika gizi tidak masuk dalam PHBS sekolah, dikhawatirkan mengganggu perkembangan anak karena kesehatan terganggu. Selain itu konsentrasi kurang, begitu pun daya tangkap turut menurun.
Pentingnya Remaja Bergizi
Penyebab masalah gizi pada remaja terpantau akibat keragaman pangan masih rendah. Banyaknya mengonsumsi makanan tinggi lemak dan garam. Sehingga asupan gizi rendah. Di samping pula aktifitas fisik yang kurang dari 60 menit setiap hari.
“Mengapa gizi remaja penting? Karena mereka generasi penerus. Pada 2045 diestimasi usia produktif lebih tinggi. Jika anak-anak sekarang tidak sehat hanya akan menjadi beban,” kata Sri Pudji Astuti.
Program gizi sehat pada remaja penting karena 54,3 persen anemi. Sementara ketika calon ibu hamil dalam kondisi anemi, bayi berpotensi lahir dengan berat badan rendah, stunting, yang terburuk bayi tak tertolong nyawanya.
“Sejauh ini anemia dicegah dengan pemberian tablet tambah darah (TTD). Direncanakan TTD menjadi agenda rutin setiap Rabu di sekolah, mengantisipasi faktor lupa jika diberikan atau dibawa pulang. Sementara kaitannya perbaikan gizi, selain pembinaan kantin sehat, pola makan atau life style perlu diperbaiki,” pungkasnya. rie-st


