Personal Branding Ganjar Pranowo di Media Sosial Twitter Menuju Pilpres 2024

Oleh: Denny Amansyah
MEDIA sosial (medsos) menawarkan sebuah cara bagi orang tidak hanya mengkonsumsi informasi, tetapi juga untuk menampilkan diri kepada orang lain. Melalui berbagi video, gambar, dan teks yang disengaja, individu dapat memamerkan kemampuan, nilai, dan ciri kepribadian mereka. Dengan demikian, media sosial dianggap alat yang ampuh bagi individu untuk Menyusun dan mengembangkan identitas online (Ruli Nasrullah, 2015).
Dalam lanskap politik saat ini, media sosial khususnya Twitter, telah menjadi alat penting bagi para politisi untuk membangun kepercayaan public dan membangun citra posisif diri sendiri. Dengan menciptakan personal branding yang strategis di media sosial, politisi membentuk persepsi public tentang dirinya dan menyederhanakan komunikasi politik.
Ganjar Pranowo adalah seorang tokoh politik yang secara aktif memanfaatkan media sosial, khususnya Twitter untuk berhubungan dengan masyarakat. Dengan memanfaatkan Twitter untuk mendukung komunikasi dua arah dengan masyarakat dan menonjolkan keunikannya, Ganjar Pranowo menampilkan citra dirinya yang memudahkannya berkomunikasi secara efektif di ranah politik (Rahmah, 2021).
Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) selaku partai yang menaungi Ganjar Pranowo menunjuk Ganjar Pranowo menjadi calon Presiden tahun 2024. PDIP resmi mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden tahun 2024 pada tanggal 21 April 2024. Tulisan ini mengidentifikasi beberapa strategi spesifik yang digunakan oleh Ganjar Pranowo dalam pembentukan citra pribadi di media sosial.
Ganjar Pranowo adalah pejabat public terkemuka yang telah mengambil peran aktif dalam memanfaatkan media sosial, yaitu Twitter. Akunnya (@ganjarpranowo) memiliki pengikut sebanyak 3,4 juta orang. Kehadiran Ganjar di media sosial lebih dari sekadar interaksi dengan masyarakatnya, tetapi juga menunjukkan gaya aktivitas yang khas sehingga dapat membedakannya dari gubernur lainnya (Hutagalung, 2016). Ganjar Pranowo, menunjukkan gaya kepemimpinan khas yang membedakannya dari birokrat lain.
Pendekatannya mencerminkan kepekaan milenial, ditambah dengan penekanan pada pemanfaatan teknologi informasi untuk mendorong pembangunan daerahnya. Gaya kepemimpinan Ganjar tidak konvensional dan sangat menyimpang dari pendekatan para pendahulunya. Penekanannya untuk terlibat langsung dengan masyarakat local, yang dilakukan secara langsung serta di media sosial. Selain itu, Ganjar secara efektif memanfaatkan Twitter sebagai alat untuk melaksanakan reformasi birokrasi dan mengelola urusan administrasi (Puji Rahmawati, 2021).
Ganjar Pranowo sempat manyatakan penolakan kedatangan terhadap Tim Nasional Israel dalam ajang FIFA Piala Dunia U-20 di Indonesia yang menyebabkan merosotnya elektablitas Ganjar, bukan hanya itu saja mengutip dari Lembaga Survei Indonesia (2023), elektablitas Ganjar Pranowo turun karena faktor adanya cap petugas partai serta buruk dalam menangani masalah kemiskinan di Jawa Tengah.
Tetapi turunnya elektabilitas ini tidak berjalan lama dan dapat perlahan meningkat dengan twit yang dilakukan oleh Ganjar melalui akun twitternya. Penelitian ini dilakukan dengan cara menyelami akun Twitter @ganjarpranowo selama 1 bulan yakni dari 21 Maret- 21 April 2023. Dari hasil analisis, Laws of leadership (kepemimpinan) Ganjar Pranowo membangun citra dirinya sebagai seorang pemimpin yang menghargai dan percaya pada potensi masyarakat Indonesia.
Cuitan mengenai kepercayaan Ganjar terhadap potensi masyarakat Indonesia termasuk ke indikator ‘Kepemimpinan’ dimana ia memposisikan sebagai pemimpin yang sempurna dengan menghargai potensi masyarakat Indonesia. Dengan mengaitkan dirinya dengan kualitas individu seperti kades, bidan, dan siswa yang dianggap “pinter-pinter,” Ganjar Pranowo menciptakan persepsi bahwa dia memiliki pandangan positif terhadap kemampuan dan bakat orang Indonesia.
Berdasarkan aspek Laws of Unity (kesatuan) Ganjar Pranowo menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang menghargai arahan dan nasihat para Kiai. pemimpin yang menghargai nilai-nilai spiritual dan sejarah serta berkomitmen untuk memperkuat dimensi spiritual dan sosial masyarakat. Laws of Goodwill (nama baik) membangun citra dirinya sebagai pemimpin yang proaktif, kolaboratif, dan fokus pada solusi. Dengan mengajak untuk berdiskusi dan bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan, ia menciptakan kesan bahwa dirinya adalah pemimpin yang terbuka terhadap ide dan usulan dari berbagai pihak.
Laws of Visibility (terlihat) Ganjar Pranowo membangun citra dirinya sebagai pemimpin yang realistis, komunikatif, dan kolaboratif dalam mengatasi masalah infrastruktur, khususnya jalan rusak. Dengan mengakui keterbatasan dalam menyelesaikan semua masalah jalan rusak, ia menciptakan kesan bahwa dia memiliki pemahaman yang jujur tentang situasi yang ada. Ganjar Pranowo sebagai pemimpin yang memiliki visi strategis dalam pembangunan infrastruktur dan memahami peran pentingnya dalam kesejahteraan masyarakat.
Laws of Personality (kepribadian) Ganjar Pranowo membangun citra dirinya sebagai pemimpin yang terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki koneksi emosional dengan masyarakat. Hal ini termasuk kedalam indikator ‘kepribadian.
Dengan menyebutkan bahwa ia ngabuburit sambil sepedaan (bersepeda menjelang berbuka puasa), ia menciptakan kesan bahwa dirinya adalah pemimpin yang merakyat dan menjalin hubungan yang akrab dengan warganya.
Laws of Persistence (Keteguhan) Ganjar Pranowo membangun citra dirinya sebagai pemimpin yang peduli terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah harga bahan pokok menjelang perayaan Lebaran. Hal ini termasuk kedalam indikator ‘keteguhan’.
Dengan menyebutkan bahwa harga bahan pokok di beberapa pasar Kota Semarang masih stabil dan bawang merah mengalami sedikit kenaikan namun masih di bawah harga acuan pemerintah, ia menciptakan kesan bahwa dirinya memonitor dan mengambil tindakan untuk menjaga stabilitas harga.
Pernyataannya tentang kenaikan penjualan pakaian juga mencerminkan perhatiannya terhadap sektor perdagangan dan ekonomi, serta hubungannya dengan perayaan Lebaran.
Laws of Specialization (spesialisasi) Ganjar Pranowo terlihat menggunakan bahasa yang santai dan akrab, menciptakan citra dirinya sebagai pemimpin yang ramah dan bisa didekati oleh berbagai lapisan masyarakat. Hal ini termasuk kedalam indikator ‘spesialisasi’.
Penggunaan bahasa Jawa seperti angel iki, angel dan Wes terserah sampeyan lah bu, menciptakan kesan bahwa dirinya adalah pemimpin yang akrab dan tidak kaku. Dengan pesan sing penting panjenengan bahagia, Ganjar Pranowo menunjukkan perhatian terhadap kebahagiaan individu dan mendorong pengikutnya untuk mengutamakan kesejahteraan pribadi.
Pernyataannya yang mengingatkan untuk tidak lupa tentang Korea menciptakan citra dirinya sebagai pemimpin yang memiliki candaan ringan dan keceriaan dalam berkomunikasi. Laws of Distinctiveness (perbedaan) Dalam pengumuman yang disampaikan, Ganjar Pranowo membangun citra dirinya sebagai pemimpin yang peduli terhadap warganya dan memberikan dukungan terhadap kegiatan mudik gratis bagi penduduk Jawa Tengah yang tinggal di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Hal ini termasuk kedalam indikator ‘perbedaan’.
Dengan mengajak warga untuk ikut serta dalam program mudik gratis menggunakan kereta api, ia menciptakan kesan bahwa dirinya adalah pemimpin yang mengutamakan kenyamanan dan kesejahteraan warganya.
Pemberitahuan mengenai daftar mudik gratis dan persyaratan yang perlu dipenuhi, seperti memiliki KTP Jawa Tengah, menunjukkan komitmen Ganjar Pranowo terhadap transparansi dan memberikan informasi yang diperlukan untuk partisipasi yang sukses.
Dalam konteks personal branding, Ganjar Pranowo menunjukkan nilai-nilai inklusivitas dan pemberdayaan. Ia merangkul peran berbagai pihak, seperti kades, bidan, dan siswa, dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Pernyataannya tentang memperbanyak sumber daya manusia melalui pendidikan berkualitas dan akses yang lebih luas untuk siswa dari keluarga kurang mampu mencerminkan komitmennya terhadap pemberdayaan sosial dan pendidikan yang merata. Ganjar Pranowo juga mengaitkan dirinya dengan solusi konstruktif, yaitu membangun pendidikan berkualitas dan memperluas aksesnya.
Hal ini menciptakan citra dirinya sebagai seorang pemimpin yang progresif dan peduli terhadap pembangunan jangka panjang dalam masyarakat. Dengan menanyakan ”setuju?” pada akhir tweet, Ganjar Pranowo mengundang partisipasi dan interaksi dengan audiens, yang dapat memperkuat citra dirinya sebagai seorang pemimpin yang peduli, terbuka terhadap pandangan orang lain, dan mengedepankan kolaborasi.
Secara keseluruhan, dalam tweet ini, Ganjar Pranowo membangun citra personal branding yang mencerminkan optimisme, inklusivitas, pemberdayaan, dan komitmen terhadap pendidikan dan pembangunan masyarakat yang lebih baik.
Ganjar Pranowo juga mengekspresikan inovasi dengan penggunaan aplikasi Jalan Cantik untuk mempercepat dan mempermudah pelaporan masyarakat terkait jalan rusak. Ini mencerminkan citra dirinya sebagai pemimpin yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat dan berusaha memberikan solusi modern untuk masalah yang ada.
Ganjar Pranowo mengaitkan tanggung jawab dan semangat kerja pegawai dengan visi pemberdayaan masyarakat, menciptakan kesan bahwa dia memiliki pandangan yang inklusif dan berfokus pada hasil yang lebih baik.
Dalam keseluruhan pesan, Ganjar Pranowo membangun citra diri sebagai pemimpin yang tanggap, inovatif, berkomitmen pada akuntabilitas, dan memiliki visi progresif yang mendorong kemajuan dan kesejahteraan Masyarakat. ***
Penulis merupakan Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang-she