DEMAK (Jatengdaily.com) – Terus menjadi Pendidik yangvterbaik, agar anak didik menjadi penerus berkualitas. Prihatin boleh, namun tak perlu trauma berkepanjangan. Jadikan musibah yang menimpa guru MA di Kebonagung sebagai pembelajaran bersama, bahwa pendidikan anak tidak semata tanggungjawab guru, namun ada pula peran orang tua dan masyarakat di dalamnya.
Demikian disampaikan Bupati Demak dr Hj Eisti’anah menanggapi kasus penganiayaan murid kepada gurunya di sebuah MA di Kebonagung pada Senin (25/09/2023). Tidak perlu saling menyalahkan. Yang sudah terjadi bisa diambil hikmah dan pelajarannya.
“Intinya guru, murid, dan orang tua harus bisa saling menghargai. Jika perlu jaga komunikasi. Bahwa masing-masing mempunya tugas dan tanggungjawab,” kata bupati, usai membuka ‘Diklat Digital Academy dan Editor Buku Bagi Guru’ oleh PGRI Kabupaten Demak, Rabu (27/09/2023).
Hal sama disampaikan Ketua PGRI Kabupaten Demak H Sapon SPd MPd. Bahwa PGRI melihat guru sebagai anak. “Jika dia (guru) salah maka akan ditegur, bagitupun kalau dia benar maka akan dilindungi. Maka ketika ada persoalan memperihatinkan seperti terjadi di MA Kebonagung, harus ditelusuri dulu akar persoalannya,” ujarnya.
Hal itu pula menjadi alasan PGRI selalu memastikan agar guru menjalankan tugas profesional tapi tetap terlindungi. “Silahkan melaksanakan tugas sesuai aturan, yakni mendidik dan melatih anak dengan baik. Tidak usah terlalu trauma. Pada prinsipnya menegur boleh tapi yang mendidik,” pungkas Sapon. * Rie-St


