SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kesenian tradisional bukan hanya ekspresi estetika, tetapi juga warisan nilai-nilai kehidupan dan identitas budaya. Salah satu contohnya adalah tari Lengger Lanang Banyumas yang kaya filosofi dan sarat makna spiritual.
Menyadari pentingnya pelestarian tradisi ini, Tsabita ‘Aqil Nur Andika, mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), menyusun buku ajar berjudul “Lengger Lanang Banyumas: Sejarah, Filosofi, Pertunjukan dan Perspektif Dalam Gender.”
Karya ini menjadi bagian dari program Bakti Akademisi Prodi Teknologi Pendidikan, FIPP, Unnes Tahun 2025, sebuah kontribusi mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat melalui jalur pendidikan dan budaya.
Buku Ajar Sebagai Medium Literasi Budaya
Buku ajar ini membahas secara mendalam tentang sejarah kemunculan Lengger Lanang, struktur pertunjukan, filosofi yang terkandung di dalamnya, hingga bagaimana seni pertunjukan ini berinteraksi dengan isu-isu sosial budaya, termasuk perspektif gender yang menjadi ciri khasnya. Disusun secara sistematis, buku ini dilengkapi dengan gambar, ringkasan, serta latihan soal yang dirancang untuk menjadi materi pembelajaran seni budaya berbasis kearifan lokal.
Dalam keterangannya, Aqil menyampaikan harapannya bahwa buku ajar ini dapat menjadi penghubung antara generasi muda dengan nilai-nilai luhur budaya Jawa.
“Saya ingin menunjukkan bahwa tari Lengger Lanang adalah lebih dari sekadar hiburan. Ia merupakan ekspresi sejarah, spiritualitas, dan identitas yang membentuk masyarakat Banyumas. Melalui buku ini, saya berharap generasi muda semakin memahami dan mencintai budaya sendiri,” terang Aqil.
Dia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan komunitas budaya. “Bagi saya, pendidikan bukan hanya di ruang kelas. Melalui buku ini, saya ingin mengajak teman-teman muda untuk aktif mendokumentasikan dan melestarikan budaya. Budaya itu hidup kalau kita rawat dan kita ajarkan kembali,” tambahnya.
Sanggar Tari Greget Semarang menjadi mitra strategis dalam penyebarluasan dan pemanfaatan buku ajar ini. Sanggar ini dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran dan pengembangan seni tari tradisional di Semarang, yang memiliki komitmen kuat dalam merawat dan mengenalkan ragam kesenian daerah kepada generasi muda.
Prosesi serah terima buku ajar ini dilaksanakan secara sederhana namun sarat makna pada Sabtu, 31 Mei 2025, di mana Sangghita Anjali, S.Sn., Ketua Sanggar Tari Greget Semarang, menerima langsung buku ajar tersebut. Kehadiran Sangghita Anjali menjadi simbol penting dari kolaborasi antara dunia akademis dan komunitas seni dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Menjalin Kolaborasi, Merawat Tradisi
Melalui penyerahan buku ini, Sanggar Tari Greget Semarang tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi mitra aktif dalam mendiseminasikan materi buku ke berbagai lapisan masyarakat, baik di lingkungan sanggar maupun melalui program kerja sama dengan sekolah-sekolah di Kota Semarang.
Buku ajar ini menjadi jembatan antara generasi muda dengan khazanah budaya leluhur, dan menjadi langkah konkrit dalam memastikan tradisi tidak hanya hidup di panggung pertunjukan, tetapi juga di ruang-ruang belajar dan diskursus akademik.
Kontribusi Akademisi Muda untuk Budaya Nusantara
Karya ini menjadi wujud nyata peran akademisi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya Nusantara. Tidak hanya sekadar dokumentasi, buku ajar ini memposisikan Lengger Lanang sebagai materi pembelajaran yang layak dipelajari dan dibanggakan.
Sebagai bagian dari Bakti Akademisi Unnes, publikasi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan pendekatan ilmiah, edukatif, dan strategis. Pendidikan menjadi sarana strategis untuk merawat dan menghidupkan kembali budaya yang hampir luput dari perhatian generasi masa kini. St
0



