Loading ...

Relawan dan Anak Panti Bangun Kreativitas lewat Wayang Suket

DSC01190_1

SEMARANG (Jatengdaily.com)-  Dalam upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada generasi muda, komunitas Kita Bisa menggelar sebuah kegiatan edukatif dan inspiratif bertajuk “Bersama Anak Panti Kita Bisa Lestarikan Wayang Suket, Rawat Identitas Bangsa”.

Acara ini berlangsung pada Sabtu pagi pukul 09.30 WIB, berlokasi di halaman Masjid Agung Jawa Tengah, yang menjadi saksi kebersamaan relawan dan anak-anak panti dalam menenun nilai budaya lewat karya seni.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Voluntrip Kita Bisa, sebuah inisiatif yang membuka ruang bagi masyarakat umum untuk turun langsung ke lapangan sebagai relawan. Melalui program ini, para volunteer tak hanya berbagi waktu dan tenaga, tetapi juga nilai-nilai penting seperti empati, kolaborasi, dan kecintaan terhadap warisan budaya.

Dihadiri oleh sekitar 20 anak-anak panti asuhan, 20 relawan, serta 10 panitia penyelenggara, suasana kegiatan tampak penuh semangat dan kehangatan.

Anak-anak tampak antusias saat diajak mengenal lebih dalam tentang wayang suket, salah satu bentuk wayang tradisional khas Jawa Tengah yang dibuat dari anyaman rumput kasuran, berasal dari Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

Bapak Rofiq Achmad, seorang penggiat budaya sekaligus narasumber utama dalam acara ini, memandu sesi pembuatan wayang suket secara langsung.

Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya mengenalkan budaya sejak usia dini.

“Selain ramah lingkungan dan mudah didapat, wayang suket melatih kreativitas serta menjadi media yang menyenangkan untuk mendekatkan anak-anak pada kekayaan budaya bangsa,” ujarnya di sela-sela praktik membuat wayang.

Tak sekadar menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi yang membangun. Anak-anak dan relawan berbaur, bekerja sama, dan saling belajar dalam suasana yang hangat dan menyenangkan.

Setiap langkah membuat wayang menjadi simbol kebersamaan dan bentuk kepedulian nyata terhadap pendidikan karakter anak-anak panti.

Salah satu panitia dalam acara tersebut, Selvi Novita Yuliyanti, membagikan pengalamannya setelah mengikuti kegiatan.

“Kegiatan membuat wayang suket bersama RelawanGesit dan anak-anak panti menjadi pengalaman berharga. Selain melestarikan budaya, saya belajar bahwa kepedulian bisa diwujudkan lewat waktu dan kebersamaan. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ungkapnya penuh haru.

Melalui kegiatan ini, Kita Bisa berharap dapat menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya lokal di kalangan generasi muda.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa aksi sosial bisa hadir dengan pendekatan yang kreatif dan edukatif, menyentuh aspek kebudayaan sekaligus membangun hubungan sosial yang bermakna.

Kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa merawat identitas bangsa bisa dimulai dari hal-hal kecil namun berdampak besar.

Seperti sehelai rumput kasuran yang disulap menjadi tokoh pewayangan, dan seuntai waktu yang diberikan untuk membangun masa depan anak-anak dengan penuh makna. she