Perempuan dalam Sastra Indonesia

Oleh: Gunoto Saparie
PEREMPUAN barangkali adalah kata benda yang paling sering dijadikan kata sifat dalam sastra Indonesia. Ia tidak hanya hadir sebagai tokoh, tema, atau personifikasi, tetapi juga sebagai simbol yang diciptakan dan dikepung oleh berbagai persepsi: kadang sebagai korban, kadang sebagai ibu bangsa, kadang sekadar bunga atau bayangan. Kadang pula ia adalah suara yang terus berusaha terdengar dalam ruang-ruang sunyi yang disediakan dunia sastra.
Kita barangkali ingat tokoh-tokoh seperti Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Perempuan yang, meskipun tak punya hak secara hukum, memiliki keberanian secara moral. Kita juga mengenal Sri dalam cerpen-cerpen Umar Kayam, perempuan yang menyimpan luka, memeluk kehilangan, namun juga menjadi pusat kesunyian yang puitik. Perempuan dalam karya-karya itu lebih dari sekadar tokoh. Mereka adalah ide, pergulatan, bahkan tafsir atas tubuh dan waktu.
Namun siapa yang menulis mereka?
Dalam sejarah sastra Indonesia, perempuan semula lebih sering menjadi objek ketimbang subjek. Perempuan dituliskan sebelum mereka sempat menuliskan. Di tangan lelaki, perempuan kerap menjadi perwujudan keindahan atau penderitaan, jarang menjadi kekuatan atau penanya sendiri.
Namun sejarah, seperti juga bahasa, selalu punya retakan yang memberi jalan.
Raden Ajeng Kartini menulis surat-surat yang kelak dikenang sebagai api kecil yang menyala dalam gelap. Ia tak menulis puisi, tak juga roman, tapi dari sanalah suara perempuan pertama-tama mendapat ruang di luar dapur, kasur, dan sumur. Lalu kita mendengar suara-suaranya yang lain: Hamidah, Suwarsih Djojopuspito, dan tentu saja S. Rukiah, yang novelnya Kejatuhan dan Hati adalah pengakuan yang lebih sunyi daripada teriakan.
Masuk ke era modern, kita melihat perempuan tak lagi sekadar hadir sebagai tokoh di dalam cerita, tetapi juga sebagai pengarang cerita itu sendiri. Nh. Dini, misalnya, tak hanya menulis tentang perempuan, tetapi juga tentang tubuh, keinginan, dan keputusan yang acap melawan norma. Ia tak sedang berteriak, tapi juga tak meminta maaf.
Sastrawan perempuan kini hadir di mana-mana, dari rak-rak toko buku hingga kanal-kanal digital yang kadang lebih gaduh daripada pustaka. Mereka tak hanya menulis tentang “perempuan”, tetapi juga tentang dunia dari sudut pandang yang lebih rumit daripada dikotomi jantan-betina. Mereka menyentuh tema politik, spiritualitas, bahkan horor domestik yang lebih menakutkan dari kisah hantu mana pun.
Tapi apakah dunia sastra sudah adil bagi mereka?
Kita tahu, penghargaan sastra lebih sering jatuh ke tangan laki-laki. Nama-nama perempuan pengarang masih juga dipisahkan dalam daftar tersendiri, seakan mereka butuh ruang eksklusif untuk bisa disebut. Padahal barangkali yang kita butuhkan adalah keberanian untuk menyebut mereka tanpa embel-embel jenis kelamin. Seperti kita menyebut Chairil Anwar, mengapa kita tak menyebut Nh. Dini dengan cara yang sama?
Sastra Indonesia, seperti sejarahnya, adalah tempat di mana perempuan terus-menerus harus membuktikan keberadaannya. Ia harus berteriak lebih keras, atau menulis lebih sunyi, agar terdengar. Namun ia tetap menulis. Ia terus menulis.
Dan dalam tulisan-tulisan itulah, barangkali, kita tak hanya menemukan perempuan sebagai tokoh atau penulis, tetapi juga sebagai pembaca yang mengubah makna setiap kata. Membaca dengan luka yang lain. Membaca dengan harapan yang tak selalu sama.
Barangkali, kita pernah membacanya dengan sedikit jengah. Atau mungkin diam-diam, dengan rasa bersalah yang samar, seperti mencuri pandang ke cermin yang memantulkan bayangan tubuh sendiri: jujur, telanjang, dan tak meminta maaf.
Baca Juga: 1.710 Pelanggar Ditindak Selama Operasi Patuh Candi 2025 di Demak
Dulu, perempuan dalam sastra Indonesia hadir sebagai istri setia, ibu pengorbanan, atau putri cantik yang menanti diselamatkan. Tubuhnya bukan miliknya. Ia milik narasi, milik laki-laki yang menuliskan. Atau jika pun hadir, tubuh itu dibungkuskan dalam metafora: kelopak bunga, rembulan, embun pagi. Segala yang halus, segala yang tidak berani menyebut nama.
Lalu datanglah Nh. Dini. Ia tidak berteriak, tapi suaranya menembus keheningan. Dalam Pada Sebuah Kapal, ia menulis tentang perempuan yang mencintai dengan tubuh dan pikirannya sendiri. Ia tidak menunduk, tidak bersalin jadi simbol. Ia hidup, mencinta, dan menginginkan. Tapi Nh. Dini masih menjaga elegansi dalam kegelisahan. Ia tidak membuka pintu dengan teriakan, tapi dengan keheningan yang getir. Ia perempuan yang tahu tubuhnya adalah medan luka, tetapi juga medan makna.
Dua dekade kemudian, Ayu Utami meledak seperti peluru dalam pesta adat. Saman tidak sekadar mengisahkan tubuh perempuan; ia meminjamkan tubuh itu untuk menyatakan perlawanan. Seksualitas bukan lagi rahasia rumah tangga atau bisik di balik kelambu. Ia menjadi politik. Ia menjadi gugatan.
Kalimat-kalimat dalam novel Ayu bisa membuat dahi mengernyit, tetapi bisa pula membuat dada perempuan berdebar lega: akhirnya ada yang berkata begitu, tanpa malu, tanpa berbisik. Ayu tidak hanya menulis tubuh, ia menulis ingatan tubuh. Ia bawa pembaca masuk ke dalam belantara pengalaman perempuan: dilecehkan, mencinta, menikah, tidak menikah, bersetubuh. Tetapi juga berpikir, memberontak, memilih.
Kemudian Djenar Maesa Ayu, dengan Mereka Bilang, Saya Monyet!, memukul lebih keras lagi. Ia menolak bahasa bunga. Ia tidak bicara tentang ranum atau harum, ia bicara tentang darah, tentang pahit, tentang orgasme yang tak ditanyakan. Djenar menulis dengan silet, kadang kita merasa seperti dilukai, tapi luka itu terasa perlu. Ia bicara sebagai anak perempuan, sebagai ibu tunggal, sebagai tubuh yang dipandangi, dihakimi, lalu menolak patuh. Ia bicara sebagai perempuan yang marah, dan tidak meminta maaf karena marah.
Istilah “sastra wangi” kemudian muncul. Lucu, betapa patriarki masih mencari cara untuk membungkus sesuatu yang tak bisa mereka kendalikan. Disebut “wangi” mungkin karena tak tega menyebutnya “liar” atau “berbahaya”. Padahal, apa yang lebih berbahaya dari perempuan yang berkata dengan jujur tentang tubuh dan hasratnya?
Namun mungkin kita harus bertanya: Mengapa ketika perempuan menulis seks, ia disebut berani, bahkan dicurigai? Sementara jika penulisnya lelaki, ia disebut “eksploratif”, “dewasa”, atau “jantan”? Keberanian dalam menulis seksualitas, ketika datang dari perempuan, rupanya mengguncang bangunan nilai yang selama ini berpura-pura.
Seks dalam karya Ayu atau Djenar bukan untuk menggoda. Ia adalah pernyataan eksistensial. Bahwa perempuan bukan sekadar objek dalam narasi. Ia adalah subjek yang merasa, memilih, terluka, dan juga menikmati.
Goethe pernah berkata, “Seni adalah mediasi antara yang tak terkatakan.” Tetapi seni juga bisa menjadi teriakan. Teriakan dari mereka yang lama dibungkam. Sastra perempuan yang menulis seksualitas mungkin tidak menawarkan ketenangan, tetapi ia menawarkan kejujuran. Dan barangkali itu yang paling kita butuhkan hari ini, di dunia yang terlalu sering berbohong atas nama kesopanan.
Di balik semua kontroversi, satu hal tak terbantahkan: Nh. Dini, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu telah membuka jalan. Mereka menulis bukan karena ingin terlihat wangi, tetapi karena tak tahan lagi diam. Sebab kadang, ketika perempuan bicara tentang tubuhnya, itu bukan sekadar soal seks. Itu soal merdeka.
Karena perempuan dalam sastra, seperti dalam hidup, barangkali memang tak pernah sepenuhnya di pusat. Tetapi ia juga tak lagi sepenuhnya di pinggir. Ia adalah pinggir yang membentuk garis. Yang bisa mengubah bentuk. Yang diam-diam menciptakan arah.
*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st