Loading ...

Edukasi Biopestisida Ramah Lingkungan, Dosen Untag Semarang Tanamkan Kesadaran Hijau kepada Generasi Alfa

gen alfa2

Tim dosen dan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang hadir dengan misi mulia: mengajak generasi muda mencintai bumi sejak dini melalui pertanian berkelanjutan. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Suasana berbeda terlihat di ruang kelas SMP yang hari itu dipenuhi aroma daun mimba, serai, hingga bawang putih. Bukan untuk masakan, melainkan sebagai bahan utama pembuatan biopestisida alami. Tim dosen dan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang hadir dengan misi mulia: mengajak generasi muda mencintai bumi sejak dini melalui pertanian berkelanjutan.

Dalam pelatihan tersebut, siswa diperkenalkan pada konsep pertanian berkelanjutan dengan penggunaan biopestisida berbahan alami seperti eco enzyme, daun mimba, koro keling, bawang putih, dan serai. Biopestisida ini diyakini mampu menjadi alternatif pengganti pestisida kimia yang selama ini berdampak negatif bagi lingkungan.

“Biopestisida berfungsi sebagai antimikroba, antibakteri, anti jamur, hingga insektisida alami yang aman digunakan pada berbagai jenis tanaman. Harapannya, sejak dini anak-anak terbiasa memilih cara ramah lingkungan,” jelas Teodora Da Silva, ketua tim pengabdian.

Menariknya, pembelajaran semakin atraktif berkat dukungan teknologi Augmented Reality (AR). Melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Atika Mutiarachim, siswa dapat melihat simulasi 3D mulai dari proses pencampuran bahan hingga cara penyemprotan biopestisida pada tanaman.

“Dengan AR, siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi bisa melihat langsung prosesnya secara interaktif, sehingga lebih mudah dipahami,” ungkap Atika.

Di bawah bimbingan Fatma Puji Lestari, S.T.P., M.T., siswa juga mempraktikkan pembuatan biopestisida secara mandiri. Prosesnya sederhana: bahan alami dicuci bersih, dihaluskan, lalu difermentasi selama 1–2 hari sebelum cairan hasilnya disaring dan siap digunakan sebagai larutan penyemprot.

Antusiasme peserta terlihat jelas, salah satunya dari Juli Tumtikan, siswa asal Papua. “Saya sangat senang ikut kegiatan ini. Nanti kalau pulang ke Papua, saya akan coba biopestisida ini di kebun orang tua,” ujarnya.

Biopestisida yang dihasilkan mudah diaplikasikan hanya dengan sprayer manual, aman bagi manusia maupun hewan, serta tidak meninggalkan residu berbahaya. Program ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya pertanian sekolah yang produktif, berkelanjutan, sekaligus mencetak generasi yang peduli terhadap kelestarian bumi. St