Belajar BTQ Harus Ada Gurunya

Bupati HM Natsir saat memberikan arahan pada Musda Badko TPQ Kabupaten Demak tentang eksistensi TPQ demi terbentuknya generasi muda yang Quran. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – Ilmu bermanfaat berbuah pahala yang tak akan pernah putus. Begitu pun mengaji atau belajar Alquran, yang tak hanya menjadi pahala bagi yang mengamalkan, namun sekaligus cahaya orang tua mereka kelak di akherat.

Bupati HM Natsir menyampaikan, begitu besarnya manfaat mengaji Alquran di masa sekarang hingga akhir jaman nanti, maka Alquran harus diajarkan pada anak sejak dini. Karenanya keberadaan TPQ sangat penting, sebagai lembaga pendidikan nonformal khusus mengajarkan baca tulis Alquran (BTQ) pada anak-anak.

“Alhamdulillah TPQ di Kabupaten Demak sudah berkembang baik, namun demikian harus terus dimajukan, secara kuantitas maupun kualitas,” ujarnya, didampingi Ketua Badko TPQ Kabupaten Demak 2019-2024 H Taufik Rifai, Senin (1/7/2019).

Menurut Bupati Natsir, BTQ tidak bisa dipelajari lewat media digital. Namun harus ada gurunya. Bertatap muka langsung atau ‘face to face’. Sehingga jika ada kesalahan bisa langsung diperbaiki.

Maka itu kesejahteraan guru atau ustadz/ustadzah tidak bisa tidak hendaknya turut diperhatikan para orang tua atau masyarakat. Meski tidak berharap imbalan, minimal ada sekadar dukungan operasional. Sesuai Perbup Demak, dukungan bagi operasional TPQ dialokasikan pada anggaran DD/ADD.

“Mengenai besaran dana operasinal TPQ, diserahkan pada kemampuan desa. Sebab ada kalanya di desa terdapat empat hingga lima TPQ,” imbuh Taufik Rifai.

Pada Musda Badan Koordinasi Taman Pendidikan Al-Quran (Badko TPQ) Kabupaten Demak terungkap, sejauh ini terdapat 598 TPQ di Kota Wali. Dengan jumlah ustadz ustadzah 4.659 orang, sementara jumlah santri tercatat sebanyak 49.846 anak. Hal tersebut bukti bahwa kepengurusan Badko TPQ Kabupaten Demak 2014-2019 mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, Ketua III Badko TPQ Jateng Bidang Litbang Prof Dr Fathah Syukur menambahkan, hendaknya bantuan dari pusat untuk TPQ di daerah tidak dijadikan andalan setiap bulannya. Menurutnya TPQ harus bisa mandiri.

Sebab walau ada bantuan hanya sesekali. Sebagaimana aturan berlaku, bantuan keuangan bagi TPQ tidak bisa diberikan terus-menerus.

“Kami sangat apresiasi kebijakan Bupati Demak ‘Maghrib matikan tv, ayo mengaji’. Karena diyakini ketika aturan tersebut berhasil, maka generasi muda yang Islami dan berkualitas terbentuk,” kata Fathan Syukur. rie-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here