By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Dugderan, Tradisi dan Hiburan bagi Warga Semarang
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Dugderan, Tradisi dan Hiburan bagi Warga Semarang

Last updated: 26 April 2019 18:55 18:55
Jatengdaily.com
Published: 26 April 2019 18:55
Share
Wahana permainan anak-anak siap hibur warga Semarang pada tradisi Dugderan. Foto: ugl
SHARE

EMARANG (Jateng daily.com) – Dugderan menyambut  bulan suci Ramadan 1440 H menjadi saat yang dinanti pedagang gerabah yang dimeriahkan dengan mainan anak-anak seperti Bianglala, Komedi Putar, Tong Stand, tempat uji nyali rumah hantu di kawasan Pasar Johar, kini sudah hadir.

Keramaian Dugderan biasa terjadi pada malam hari sehingga Dugderan sering melekat dengan sebutan pasar malam di Kota Semarang dan terpusat di depan Masjid Agung Semarang yang terkenal dengan Masjid Kauman.

Dari pantauan, Jumat sore sejumlah pedagang sudah menggelar dagangannya yang mayoritas berupa gerabah dan permainan anak-anak. Selain itu wahana permainan anak-anak sudah siap untuk menghibur warga Kota Semarang.

Zubaedah (57) di antara pefagay gerabah mengaku tradisi Dugderan adalah momen yang paling dinanti. Sebab, sejak Pasar Johar kebakaran Dugderan yang berlangsung kurang begitu meriah.

“Apalagi saat itu, Pasar Johar kebakaran menjelang Ramadan 2015 lalu. Saat itu saya sudah menyediakan dagangan, tapi ketika kebakaran malah diinjak-injak oleh orang yang menonton kebakaran tersebut,” ujarnya.


Warga Petek, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara itu mengaku, saat itu mengalami kerugian sekitar Rp 7 juta. Namun begitu, dia berharap pada Dugderan kali ini bisa meraup untung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ini barang dagangan gerabah mainan kebanyakan diambil dari Mayong, Jepara. Saya beli sedikit-sedikit dan sudah pesan jauh-jauh hari. Total saya beli dagangan saya ini sekitar Rp 3 juta sudah dapat satu pick up berupa gerabah mainan untuk anak seperti, mangkuk, piring, celengan dan lain-lain yang saya beli,” imbuhnya.

Dia mengaku sehari bisa mendapatkan penghasilan kotor sekitar Rp 200 ribu. Menurutnya, sebenarnya, pada Kamis (25/4/2019) sudah buka, namun malamya terjadi hujan dan kemudian ditutup lagi.

“Wahana permainan yang ada di Dugderan kemarin tidak jadi dimainkan karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Kalau sehari-hari saya jualan masakan di rumah saja,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto, mengatakan, tradisi Dugderan terpusat di kawasan Johar, selain di kawasan Johar, Dugderan juga akan sampai Jalan Pemuda. Pihaknya berharap Dugderan tahun ini bisa lebih meriah dari tahun sebelumnya.

“Saat ini, para pedagang gerabah yang mremo Dugderan banyak yang sudah berjualan di sekitar kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Kalau tahun lalu, tradisi Dugderan sebagian digelar di sekitar kawasan MAJT, karena bersamaan dengan pembongkaran bangunan pasar,” tandasnya.ugl–st


You Might Also Like

Pengendalian Covid-19 Jadi Fondasi Pemulihan Ekonomi
Saudi Tetapkan Batasan Usia Haji, di Bawah 65 Tahun
Asrama Haji Donohudan akan Direvitalisasi
Antisipasi Penutupan Lokalisasi, Satpol PP Gencar Operasi Yustisi
Jurnal Hukum Unissula Bereputasi Internasional
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?