Petani kubis di lereng Gunung Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang membiarkan tanaman kubisnya, karena harga jual kubis yang hanya Rp 500/kg saja. Foto: wing

PEMALANG (Jatengdaily.com)- Anjloknya Harga sayuran jenis kubis di lereng Gunung Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, membuat banyak petani yang menelantarkan tanaman ini.

Praktis, tanaman ini di lahan petani terbengkalai. Sebab mereka mengaku bingung. Jangankan keuntungan, modal juga tidak kembali, sementara kalau untuk memanen dan membersihkan lahan diperlukan biaya lagi.

Rojanah, salah satu petani sayuran di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari mengatakan, harga sayuran saat ini memang mengalami penurunan yang cukup besar. Selain harga yang murah, kondisi sayuran juga hancur akibat terkena hama ulat. “Akibat harga yang hancur itu, banyak petani yang memilih tidak dipanen” katanya, Senin (9/9/2019).

Harga kubis yang biasanya mencapai Rp 10.000/kg. Namun saat ini hanya Rp 500/kg. Padahal untuk panen kubis, petani membutuhkan pekerja, dengan biaya yang besar. Namun karena harga turun drastis, maka lebih membiarkan sayuran membusuk di lahannya.

Hal yang sama juga disampaikan Siroh, petani lainnya. Kubis yang ditanam tidak menghasilkan, karena di samping harga murah juga diperparah dengan kondisinya yang rusak akibat musim kemarau. Sehingga jika dipanen pun malah ada pengeluaran tambahan, yang makin menambah kerugian.

“Lebih baik dibiarkan saja meskipun kadang sayang jika dibuang percuma, namun mau gimana lagi,” ujarnya.

Petani saat ini benar-benar merasakan dampak besar, akibat penurunan harga yang drastis. Padahal selama penanaman sampai bisa dipanen, biaya perawatan besar dan lebih banyak dari tahun sebelumnya,mereka hanya bisa pasrah sambil menunggu musim tanam berikutnya. wing-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here