Kasus Eka Kurniawan Pelajaran bagi Kemendikbud

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) memahami alasan Eka Kurniawan yang, menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Eka tak ingin menerima anugerah tersebut, dan menjadi semacam anggukan kepala untuk kebijakan-kebijakan negara yang sangat tidak mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan.

Ketua Umum DKJT Gunoto Saparie mengatakan hal itu menanggapi penolakan sastrawan Eka Kurniawan atas pemberian Anugerah Kebudayaan 2019 terhadap dirinya. Eka bersama 58 seniman lain, seperti Jemek Supardi, Purwatjaraka, LK Ara, Rose Pandanwangi, Enthus Susmono (almarhum), Djudjuk Srimulat (almarhum), dan Siti Sutiyah, seharusnya menerima penghargaan dari Kemendikbud atas prestasi dan dedikasi yang telah ditorehkan dalam membesarkan kebudayaan Indonesia.

Menurut Gunoto, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan patut mengambil pelajaran dari kasus penolakan Eka Kurniawan tersebut. Memang, dibanding bidang olahraga, kesenian terkesan dianaktirikan di republik ini. Perbandingannya bagaikan bumi dan langit. Padahal kesenian dan olahraga sama-sama penting sebagai upaya pembentukan karakter bangsa.

“Keseriusan dan komitmen pemerintah terhadap kesenian dan kebudayaan selama ini memang kurang memadai dan layak dipertanyakan,” ujarnya.

Gunoto berpendapat, Kemendikbud seharusnya menjalankan program-program strategis yang menjadi implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dengan adanya UU Pemajuan Kebudayaan diharapkan memberikan arah dan tujuan posisi budaya nasional. Ada sepuluh obyek pemajuan kebudayaan yang mengangkat seni, budaya dan tradisi yaitu: tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus.

Pengesahan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, tambah dia, seharusnya menjadi perwujudan komitmen dan perhatian pemerintah terhadap kebudayaan nasional. Setelah penantian lebih dari 30 tahun, kebudayaan nasional seharusnya mulai mendapat tempat strategis dalam pembangunan nasional. Namun, ternyata sampai hari ini hal itu hanya berhenti sebagai harapan dan impian.st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here