Predikat Produsen Beras Nasional Tertinggi Siap Melayang

Oleh : Tri Karjono
ASN BPS
Provinsi Jawa Tengah

TEPAT dua bulan setelah penghargaan sebagai produsen beras tertinggi secara nasional tahun 2019 yang diterima Gubernur Jawa Tengah 17 Agustus 2020 yang lalu, BPS merilis data luas panen dan produksi padi nasional tahun 2020. Walau data tersebut merupakan angka sementara karena data September hingga Desember merupakan angka potensi, namun dengan penghitungan metode KSA yang dikembangkan oleh enam institusi telah teruji selama dua tahun sebelumnya dan sangat dimungkinkan ini merupakan gambaran riil situasi yang akan terjadi.

Dalam rilis tersebut, dengan luas baku sawah seluas 7 463 946 hektar (Kemen ATR/BPN, 2019) produksi padi nasional tahun 2020 mengalami kenaikan 0,56 juta ton (1,02%) menjadi 55,16 juta ton dibanding tahun 2019. Hasil panen tersebut akibat kenaikan luas panen padi sebanyak 0,11 juta hektar dari tahun sebelumnya seluas 10,68 hektar. Jika padi sejumlah tersebut dikonversi menjadi beras maka akan menghasilkan sebanyak 31,63 juta ton atau mengalami peningkatan produksi beras sebanyak 1% atau 310 ribu ton.

Peningkatan baik luas panen, produksi padi dan produksi beras diperkirakan karena potensi luas panen yang terjadi selama bulan Oktober ini sampai Desember mendatang mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Karena dari hasil pengamatan lapangan berdasarkan survei Kerangka Sampel Area (KSA) selama bulan Januari hingga September, luas panennya justru mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun 2019.

Oleh karenanya jika prediksi tersebut ternyata meleset atau kenaikan luas panen selama tiga bulan terakhir tidak mampu menutup penurunan luas panen selama Januari-September, atau katakanlah sama dengan luas panen tahun 2019, maka dapat dipastikan produksi padi dan beras selama tahun ini secara nasional akan mengalami penurunan.

Jawa Tengah
Hasil perhitungan produksi beras nasional tahun 2019 yang lalu, menempatkan Jawa Tengah sebagai juara pertama. Dengan jumlah produksi beras sebanyak 5,52 juta ton menjadikan Jawa Tengah sebagai pemasok beras nasional tertinggi dengan kontribusi sebanyak 17,63%. Jika dihitung berdasar asumsi kebutuhan rata-rata beras perkapita nasional maka saat itu di Jawa Tengah terjadi surplus, bahkan surplus yang terjadi sebanyak 1,8 juta ton tersebut mampu menutup surplus nasional yang hanya sebesar 1,53 juta ton.

Artinya surplus nasional justru lebih rendah dibanding surplus yang terjadi di Jawa Tengah. Berdasar keberhasilan tersebut maka tepat saat peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-75 yang lalu Gubernur Jawa Tengah mendapat penghargaan dari Kementerian Pertanian.

Jika rilis potensi produksi tahun 2020 ini benar maka penghargaan serupa diatas dapat dipastikan tidak lagi akan diperoleh Jawa Tengah. Dengan luas baku lahan sawah Jawa Tengah yang masih sama dengan tahun lalu yaitu seluas 1 049 661 hektar diperkirakan hanya akan mampu memproduksi padi sebanyak 9,59 juta ton gabah kering giling (GKG) atau menurun 0,71%.

Jawa Timur yang memiliki luas lahan baku sawah terluas di Indonesia dengan 1 214 909 hektar, tahun lalu hanya mampu memproduksi padi lebih rendah dari Jawa Tengah, sementara tahun ini diprediksi melejit dan diperkirakan mampu memproduksi 10,02 juta ton GKG atau meningkat sebesar 4,61%. Alhasil predikat sebagai produsen tertinggi beras nasional selama dua tahun terakhir kemungkinan besar akan berpindah tempat.

Kemungkinan menurunnya potensi produksi beras Jawa Tengah dapat dipahami dari beberapa hal yang terjadi, baik itu faktor alam maupun non-alam. Seperti pada awal tahun ini di beberapa tempat di Jawa Tengah terjadi bencana banjir. Ini menyebabkan sebagian sawah terendam banjir atau padi roboh sebelum siap panen sehingga terjadi gagal panen.

Demikian pula kemarau panjang di tahun lalu menyebabkan panen raya di awal tahun ini mengalami kemunduran, mengakibatkan masa gadu menjadi semakin sempit karena pada akhir September telah memasuki musim penghujan, sehingga peluang untuk memaksimalkan masa tersebut untuk menanam padi menjadi berkurang.

Kelangkaan pupuk yang terjadi juga memberi peluang menurunnya potensi produksi padi ini. Seperti diberitakan di berbagai media bahwa di Jawa Tengah pada beberapa waktu yang lalu terjadi kelangkaan pupuk yang disebabkan distribusi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat yang kurang.

Demikian pula dengan hama yang terjadi. Sejak bulan Maret hingga Agustus ini petani di hampir seluruh wilayah di Jawa Tengah seperti Soloraya, Demak, Purworejo, Banjarnegara, mengeluhkan adanya serangan hama wereng yang menjadikan batang coklat dan tanaman padi harus berakhir pada usia muda.

Ada lagi permasalahan yang kemungkinan besar akan terjadi pada beberapa waktu kedepan (Oktober-Desember) yang sangat berpotensi mengganggu proyeksi produksi padi diatas, yaitu fenomena La Nina. Fenomena perubahan iklim ini akan menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi hingga 40% dari curah hujan normal. Siklus dua-tiga tahunan ini akan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor yang tentunya perbotensi menyurutkan luas panen.

Dengan melihat data dan realita di atas, sepertinya harus mulai mengiklhaskan bahwa predikat Jawa Tengah sebagai pemasok utama beras nasional tahun ini harus berpindah tempat. Ini menjadi evaluasi bersama baik bagi pemerintah maupun petani di mana untuk permasalahan yang sekiranya dan seharusnya dapat diantisipasi lebih awal untuk tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Semisal bagaimana kelangkaan pupuk yang terjadi tidak akan kembali terjadi. Evaluasi terhadap jumlah atau kebutuhan dan distribusi perlu dilakukan serta kecukupan stok perlu diperhatikan. Demikian pula ketersediaan obat bagi kemungkinan munculnya hama tertentu harus tersedia dalam jumlah yang cukup dengan akses yang mudah bagi petani.

Keberadaan embung yang diharapkan menjadi tumpuan bagi ketersediaan air di saat susah air juga perlu dilakukan agar petani mampu menambah potensi luas panen. Contoh kecil embung yang dibangun di samping sawah milik penulis seakan kurang berarti, karena ketika musim hujan sawah sekitar sudah tercukupi air dari irigasi yang ada, sementara ketika musim kemarau embung kering kerontang, sawahpun tak bisa ditanami padi. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here