BOYOLALI (Jatengdaily.com) – Hujan yang tak kunjung turun membuat warga khususnya para petani harus bersabar untuk menanam padi. Sebagian besar warga kini membiarkan lahan pertaniannya bero alias tak ditanamai.
Seperti yang dilakukan para petani di daerah Ngemplak Boyolali, Jawa Tengah. Petani setempat membiarkan lahannya bero, sejak dua bulan terakhir setelah masa panen.
“Biasanya bulan-bulan Oktober petani bisa menanam lagi. Tapi karena sama sekali tak ada hujan, makan lahan dibiarkan bero saja, sambil menunggu hujan,” kata Sukir, seorang petani.
Kekeringan parah juga dirasakan warga Andong maupun Juwangi Boyolali. Menurut Jarkoni, warga Andong, sekarang harus membeli air untuk bisa memenuhi kebutuhan.
Selain itu juga mengharapkan bantuan air bersih. “Kekeringannya tahun ini parah. Pernah hujan, tapi cuma sekali atau dua kali dan itu belum bisa membantu kebutuhan warga,” katanya.
Puluhan desa di sejumlah Kecamatan di Boyolali memang terdampak kekeringan tahun ini. Di Kecamatan Wonosamodro merupakan daerah kekeringan yang terparah sehingga masyarakat banyak memerlukan bantuan air bersih.
Ada sebanyak 8 desa di wilayah kecamatan ini masih membutuhkan bantuan dropping air bersih selama musim kemarau ini. Di antaranya Desa Girirejo, Bercak, Gunungsari, Bengle, Garangan, Kalinanas, Repaking, dan Jatilawang.
Sembilan desa lain yang terkena dampak dari musim kemarau panjang saat ini, yakni Bojong, Guwo, Bandung, Gosono, Kedungpilang, Karangjati, Kauman, Banyusri, dan Bolo, dan daerah ini sudah mendapat bantuan air bersih dari BPBD setempat. yds


