By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Kelicikan Kurawa Berbuah Karma, Kebenaran Jadi Pionir Kehidupan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
JedaSeni Budaya

Kelicikan Kurawa Berbuah Karma, Kebenaran Jadi Pionir Kehidupan

Last updated: 12 November 2019 08:28 08:28
Jatengdaily.com
Published: 12 November 2019 08:00
Share
Dalang Ki Sindhunata Gesit Widiharto SSn memainkan wayang dengan lincah dan memukau penonton. Foto:dok
SHARE

SEMARANG- (Jatengdaily.com) –  Sebagai wujud melestarikan budaya Jawa, Teater Lingkar menggelar pertunjukan wayang dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional, di Gedung Kesenian Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya No 29, belum lama ini.

Pergelaran wayang kerja sama Teater Lingkar dengan Dinas Pariwisata Kota Semarang mengambil cerita Wiratha Parwa, dengan dalang Ki Bremara Sekar Wangsa SSn dan dalang Ki Sindhunata Gesit Widiharto SSn.

Wiratha Parwa sebuah lakon yang mengisahkan strategi suatu kelicikan. Kelicikan Kurawa yang dipimpin Duryudana lewat para penggawanya, di antaranya Si Raja Julik Sengkuni untuk menghancurkan Putra Pandawa.

Menurut Pendiri Teater Lingkar  Mas Ton, cerita tersebut sangat menarik dalam cerita pewayangan. Mereka, kata Mas Ton, sebenarnya adalah saudara, turunan dari Resi Abiyasa, tapi karena kerakusan untuk memiliki isi jagad ini, mereka melakukan segala cara.

Adu domba, fitnah, dan kelicikan mewarnai lakunya. Pandawa menjadi korban, hingga harus diusir selama 12 tahun hidup di hutan. Namun, karena kebathilan dan kejahatan tidak akan abadi, karma pun terjadi. Kebenaran akhirnya yang menjadi pioner dalam kehidupan ini.

Kuasanya Duryudana  akhirnya luluh lantak dengan keperkasaan dan kejujuran Pandawa. Dikatakan Mas Ton, selain pergelaran wayang, setiap bulan Teater Lingkar juga menampilkan drama tiap bulan hingga Desember mendatang.

Pementasan perdana mengambil cerita ‘Tuan Kondektur’ yang dimainkan oleh semua kru Teater Lingkar dalam gelar budaya yang juga dalam memperingati HUT Teater Lingkar yang ke 39 tahun,” kata Mas Ton.

Menurutnya, pementasan yang digelar di TBRS untuk mengisi kegiatan kesenian agar lebih gayeng. “Kami setiap bulan mengisi pergelaran di TBRS karena tetap ingin terus menerus belajar,” tegas Mas Ton.

Dikatakan masukan dan kritikan dari masyarakat merupakan obat baginya untuk terus belajar. ugl–st

You Might Also Like

Serunya Chef Arnold Saat Jadi Juri Masak di Taman Balekambang Solo
Hadirkan Sandiaga Uno, USM Gandeng PWI Jateng Gelar “Purnama Puisi di Atas Awan”
Ratusan Kapal Nelayan Iringi Pesta Lomban Kupatan di Jepara
Siap Layani Pengunjung, Waduk Jatibarang Dilengkapi 26 Perahu
KARIKATUR
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?