Pola Moderasi Beragama MAJT Sangat Dibutuhkan untuk Penguatan NKRI

Ketua Pengelola Pelaksana (PP) MAJT Prof Dr KH Noor Achmad MA berbincang dengan Menag, saat berkunjung ke MAJT, Senin petang. Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Menteri Agama RI Fahrurozie mengagumi atas kuatnya pola moderasi kehidupan beragama yang dikembangkan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Apalagi masjid seluas 11,2 hektar tersebut sebagai masjid terluas di Asia Tenggara juga menjadi destinasi wisata religi dan pusat persinggahan para delegasi dari berbagai negara, termasuk Eropa dan Timur Tengah.
“Maka wajar bila MAJT menjadi masjid percontohan dalam pengembangan moderasi kehidupan beragama. Terus terang pola moderasi seperti ini yang kita butuhkan dalam upaya membangun persaudaraan antarsesama untuk penguatan NKRI,” tegas Menag saat berkunjung di MAJT, Senin (30/12/2019) petang.
Kunjungan Menag diterima Ketua Pengelola Pelaksana (PP) MAJT Prof Dr KH Noor Achmad MA, Ketua Dewan Pengawas sekaligus Ketua Umum MUI Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji MSi, Sekretaris Drs KH Muhyiddin MAg dan beserta jajaran pengurus PP MAJT.
Menteri Agama didampingi Plt Ka Kanwil Kemenag Jawa Tengah Drs KH Ahyani MSi menegaskan, moderasi beragama saat ini menjadi penting dalam upaya penguatan NKRI. Moderasi seperti ini dalam implementasinya di tengah masyarakat jangan melemah.
“Saya bersyukur perayaan Natal kemarin berjalan lancar. Ini membuktikan semangat bertoleransi di kalangan umat beragama khusus umat Islam terasa sangat tinggi,” tegasnya.
Justru moderasi ala Indonesia saat ini sedang digandrungi sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Kedua negara ini, lanjut Menag, sedang besar-besaran menggelorakan semangat identitas Islam dan kebangsaan dalam satu kotak moderasi. Visi ini menjadi prioritas di Arab Saudi.
Menag bercerita, saat mengunjungi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kedua negara tersebut bertutur memiliki pengalaman pahit ketika belum mengembangkan murni Islam identitas. Pernah pula mengembangkan moderasi yang terpisah dari kebangsaan ternyata hasilnya juga jelek. Maka formulasi yang dipakai kini menyatukan antara kekuatan moderasi-kebangsaan dalam satu kotak.
“Di Uni Emirat Arab, kini tidak terdengar lagi pengajian di masjid menggunakan pengeras suara kecuali saat adzan. Demikian pula pengajian-pengajian hingga khotbah Jumat materinya sudah disiapkan, tidak boleh memakai tema sendiri. Para dai juga tetap nyaman menjalankannya peraturan tersebut,” kata Menag.
Dalam konteks ini, tambah Menag, bukan berarti kita meniru mereka, cuma semangat moderasi yang sudah lama terbangun di Indonesia, agar terus dijaga dan dirawat. Pola identitas keislaman yang sudah ditinggalkan mereka jangan malah kita adopsi di negara kita. Sebab keduanya malah terkesan dengan Islam wasatiyah yang berkembang di Indonesia.
Ketua PP MAJT Prof Noor Achmad menjelaskan, MAJT semakin dikenal elemen internasional lewat kunjungannya karena telah menjadi pusat peribadatan dan peradaban Islam Aswaja yang unggul. Betapa padat kunjungan para delegasi internasional ke MAJT karena dianggap berhasil dalam mengembangkan Islam moderat.
Mereka tertarik pula dengan ratusan situs sebagai khazanah peradaban MAJT. Masjid yang berkapasitas hingga 50 ribu jemaah tersebut tiada pernah berhenti berkarya untuk mengkampanyekan Islam wasathiyah hingga kancah internasional. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here